Ana

Rabu, 28 Januari 2015

Anak Lucu Penjual Ikan




            Palangkaraya adalah kota keluarga. Hampir di seluruh kota ini tersebar keluarga kami. Kami bertemu dengan keluarga hampir di seluruh penjuru kota, termasuk juga di pasar becek yang jualan ikan. Keluarga yang kami temui di pasar tidak hanya pembelinya, tapi juga penjualnya.
            Suatu kali, ketika sedang menemani Papah ke pasar, saya melihat anak montok yang lucu. Anak lucu itu sedang bengong dan terlihat agak ngantuk. Bengongnya itu membuat wajahnya bertambah lucu. Saya punmenghampiri anak itu dan tanpa sengaja mencuil pipi nyempluknya dengan gemas.
            Papah yang melihat saya segera turut menghampiri. Ternyata Papah mengenal orang tua anak lucu itu. Kedua orang tua si anak lucu berprofesi sebagai penjual ikan di situ. Saya pun dikenalkan dengan kedua orang tua ini. Salah seorangnya ternyata masih ada hubungan keluarga dengan kami, saya juga kurang jelas yang mana.
            Papah juga mengundang mereka untuk datang ke rumah kami saat Natalan. Merepa pun memenuhi undangan itu. Si anak lucu datang dengan riang, apalagi ketika melihat di rumah kami banyak buah rambutan yang ada di pohon. Dengan bersemangat dia juga ikut-ikutan memetik buah rambutan langsung dari pohonnya.
            Ada seorang kerabat saya yang merasa kasihan kepada anak montok yang lucu ini. Kasihan karena profesi orang tuanya yang penjual ikan. Hmmm…saya tidak setuju untuk hal ini. Menurut saya, profesi penjual ikan bukanlah profesi yang perlu dikasihani. Berjualan ikan adalah pekerjaan halal dan terhormat. Kalau para penjual ikan terlihat kumuh dan lecek, itu bisa dimaklumi karena mereka harus bersentuhan dengan dagangannya yang basah.
            Saya, sih, mendoakan semoga si anak penjual ikan itu bertumbuh besar sebagai penjual ikan juga. Penjual ikan yang terpelajar dan bisa menjadi berkat bagi lingkungannya. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini