Ana

Senin, 01 Desember 2014

Tak Terbiasa Kena Macet Lagi




                Sudah beberapa tahun ini saya berusaha menghindar dari jalan yang macet dan sangat padat. Ruas jalan super macet, biasanya sudah bisa ditebak kemacetannnya dari sejarahnya. Biasanya ruas jalan besar yang volume kendaraannya juga besar. Ruas jalan besar, terutama yang menuju ke pinggir kota, dipastikan macet pada sore menjelang malam hari. Saat itulah banyak pekerja di Jakarta pulang ke rumahnya yang berada di pinggiran kota.
                Saya menghindarinya dengan cara mencari jalan-jalan kecil yang sering diberi nama julukan “jalan tikus”. Jalan tikus ini ada yang lebarnya hampir sama seperti gang, kebanyakan berada di perumahan yang padat. Hmmm...bisa juga dikatakan kalau jalan itu melewati perkampungan penduduk. Rintangannya yang harus dilewati adalah banyaknya orang yang ada di sekitar jalan itu. Orang-orang, para penghuni rumah di pinggir jalan, sering masih beredar ketika saya melewati jalan itu.
                Selain melewati jalan tikus, saya harus bersyukur untuk anugerah lainnya, yaitu jalan besar yang tidak macet. Sebagian besar rute pulang saya selama ini melalui jalan besar yang tidak terlalu macet. Banyaknya volume kendaraan bisa tertampung dengan baik kalau tidak ada penghalang di persimpangan. Saya baru menemui kemacetan justru dengan jarak yang tak jauh dari rumah. Itu pun bisa disiasati dengan melewati jalan tikus.
                Suatu siang, saya mendapat undangan di sebuah pusat perbelanjaan mewah di tengah kota, di Pacific Place. Setelah acara selesai, waktu sudah menjelang jam 5 sore. Saya akhirnya memilih pulang. Namun ternyata itu pilihan yang salah. Jalan yang saya pilih, ternyata sangat padat. Kendaraaan yang melalui Jalan Senopati yang tidak kena jalur 3 in 1 ini luar biasa padatnya, hampir tidak bergerak.
                Setelah berjam-jam di jalanan, akhirnya saya menyerah. Saya menepi dan mampir ke sebuah restoran sambil menunggu kemacetan berkurang. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini