Ana

Kamis, 25 Desember 2014

Penumpang Manis, Supir Berjalan Pelan Seperti Orang Pacaran




                Saya duduk di samping pengemudi dalam mobil travel yang saya tumpangi dalam perjalanan dari Banjarmasin ke Palangkaraya. Perjalanan dari bandara itu diawali dengan ngebut. Supirnya, seperti layaknya supir AKAP, memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
                Saat itu, saya adalah satu-satunya penumpang. Sang supir mengatakan kalau kami akan mampir dulu di beberapa tempat untuk mengambil barang dan penumpang. Kami menuju sebuah toko kue untuk mengambil kue, yang sepertinya kue ulang tahun. Setelah itu kami berhenti di sebuah tempat yang saya pikir adalah kantor biro travel itu.
                Di tempat ini, saya menunggu di mobil saja. Selain karena tidak ada keperluan untuk turun, saya juga tidak mau tempat duduk saya diambil orang. Dengan gaya menyetir seperti itu, kemungkinan saya akan mabuk bila duduk di bagian belakang.
                Saya tidak memperhatikan siapa saja yang membuka pintu karena sedang menerima telepon. Saya juga tidak memperhatikan ketika supir yang duduk di sebelah saya bukanlah supir yang tadi membawa saya dari bandara ke tempat ini. Mobil itu bergerak ketika saya masih berbicara di telepon.
                Setelah selesai berbicara di telepon, barulah saya menyadari kalau supirnya ganti. Saya juga baru sadar kalau saya adalah satu-satunya penumpang di mobil itu. Penumpang lainnya adalah kue yang tadi kami ambil itu.
                Supir baru ini membawa mobilnya ke daerah perumahan. Saya pikir dia akan menjemput penumpang lain. Akhirnya, dia sendiri yang mengatakan kalau dia mau mempir dulu ke rumahnya dan ke rumah orang tuanya. Saya, sang penumpang satu-satunya itu menurut saja.
                Ketika mobil kembali berjalan, tiba-tiba sang supir berkata, “Mbak manis juga, ya.”
                Sebenarnya, saya suka-suka aja, sih, dibilang manis. Tapi yang ini agak beda. Pujian manis itu berkembang jadi percakapan tentang pacaran dan pernikahan. Saya jadi agak ketakutan karena dia menjalankan kendaraannya dengan sangat pelan, seperti orang lagi pacaran. Apalagi dia berkali-kali bilang, “Kalau lagi hujan begini enaknya pacaran.”
                Hiii....jadi tambah takut ketika dia menanwarkan tempat istirahat di rumahnya. Itu karena saya mengatakan tidak perlu terburu-buru pergi, dan tidak perlu ngebut di jalan. Saya memang menyediakan 1 hari itu untuk perjalanan. Tapi kalau kecepatan ala orang pacaran gitu, mau sampai kapan di tujuannya?
                Sebagai supir AKAP, saya tahu dia sebenarnya bisa mengemudikan kendaraannya lebih cepat lagi. Kemampuan itu baru dikeluarkannya ketika ada penumpang lain yang menumpang di mobilnya. Siuuttt…kami melesat di jalan trans Kalimantan. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini