Ana

Minggu, 23 November 2014

Racun Pikiran di Medsos




                Suatu kali ketika saya membuka akun media sosial yang jarang saya buka, saya kaget menemukan posting yang menjelek-jelekkan presiden. Presiden RI yang sekarang, memang enggak ganteng sih. Bisa dibilang rupanya tidak menarik dan agak ndeso. Namun bukan kejelekan yang itu yang ditebarkan seorang teman saya itu. Kejelekan itu menyerang pribadinya, dan itu sudah pernah ada klarifikasi tidak benar. Kalau isinya kritik tentnag kinerja kabinet masih mendingan, ya….
                Ketika melihat posting itu, saya langsung teringat pada masa kampanye presiden yang lalu. Saya pikir, posting ini berasal dari masa lalu itu. Ternyata bukan. Posting itu baru berumur beberapa jam. Masih baru. Fresh!
Pada saat itu, hampir setiap warga negara memiliki pendapat sendiri tentang calon yang didukungnya. Tidak hanya yang didukung, yang tidak didukung pun, tetap ada opini tertentu. Opini itu disampaikan melalui media sosial. Ada yang hanya sekedar pendapat, ada juga yang fitnah. Kadang fitnahnya sanagt tidak masuk akal. Heran juga rasanya kalau sampai ada yang percaya. 
Kembali tentang posting teman saya itu, menurut saya itu sudah termasuk fitnah yang mengada-ada. Saya sangat menyesalkan hal ini. Saya tahu dia adalah orang yang mampu menggunakan otaknya dengan baik. Dan kali ini, sayangnya, dia tidak menggunakan otaknya dengan baik. Saya juga tahu dia juga orang yang “mengaku” taat beragama. Fitnah itu tidak ada yang dibenarkan dalam semua agama di dunia. Fitnah bahkan diharamkan dalam agama yang semoga saja masih dianutnya. Semoga saja itu hanya khilaf atau ledakan emosional saja.
Membaca posting para pemfitnah dan orang-orang yang gemar berprasangka buruk ini adalah racun pikiran. Walaupun sebenarnya kontra, kadang-kadang sempat terpikir juga. Terus terang agak mengganggu proses kreatif saya untuk merangkai kata-kata yang menginspirasi anak-anak. Namun, racun pikiran itu tidak membuat saya menyerah. Kalau saya menyerah, dunia akan dipenuhi para penyebar racun pikiran. Anak-anak pun akan tumbuh menjadi penyebar racun, mengikuti para seniornya. Dan saya tidak akan rela bila anak-anak bangsa ini hanya menjadi penyebar racun, manusia omong doang tanpa tindakan. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini