Ana

Sabtu, 04 Oktober 2014

Tunasusila Lebih Baik dari Tunamoral




                Orang-orang cenderung merendahkan para wanita tunasusila, para wanita yang menjual dirinya untuk mendapatkan rejeki. Saya sebenarnya juga memandang rendah profesi ini. Walaupun penampilannya glamor dan terlihat cantik (bagi beberapa orang hidung belang), saya masih jauh lebih menghargai para pemulung yang badannya kotor karena harus berhubungan dengan sampah.
                Dalam perkembangannya, ternyata para tunasusila bukan lagi perempuan saja. Ada juga para pria tunasusila. Dan yang lebih parah, banyak yang sengaja menghilangkan susila dari kehidupannya dengan tanpa bayaran. Yeah, gak tau deh maksudnya apa.
                Baru-baru ini, karena terpaksa mengikuti berita politik, saya menemukan orang-orang yang tunamoral. Perbuatan tak bermoral mereka itu tidak lantas menjadikan mereka narapidana yang tercela. Perbuatan tak bermoral itu tetap menjadikan mereka orang yang dihormati karena kedudukan mereka dalam masyarakat. Parahnya lagi, mereka tidak sadar kalau mereka adalah orang-orang tak bermoral. Mungkin karena mereka tidak tahu apa artinya moral dan apa arti moral bagi kehidupan berbangsa.
                Orang-orang tunamoral ini tidak mengenal malu sama sekali. Apa yang mereka lakukan, bagaimanapun absurdnya, tetap ada yang menganggap benar. Yang jelas, orang pertama yang menganggap perbuatan itu benar adalah mereka sendiri. Perbuatan amoral mereka ini diterima oleh banyak orang sebagai perbuatan yang wajar. Ada juga yang menganggapnya perbuatan terkenal yang menjadi trending topic di media sosial.
                Parahnya lagi, orang-orang tunamoral ini ada yang menduduki jabatan penting di lembaga negara. Negara di mana saya menjadi warga negaranya. Rasanya mangkel juga, sih. Saya tidak merasa terwakili oleh orang-orang yang seperti itu. Namun, kelakuan para tunamoral itu membuat saya mengubah pandangan saya tentnag tunasusila. Saya jadi lebih menghormati para tunasusila. Walaupun yang mereka kerjakan menurunkan harkat dan martabat mereka sebagai manusia, mereka tetap manusia yang hasrus bekerja memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Mereka adalah pekerja. Mereka adalah penjual. Dan para tunamoral adalah…. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini