Ana

Senin, 06 Oktober 2014

Penjaga Perpustakaan yang Kesepian




                Di pertengahan tahun ini, saya mengajukan diri sebagai penjaga perpustakaan GKI Kwitang. Sebelumnya, saya adalah pengunjung tetap perpustakaan ini. Saya yang memang suka membaca, memanfaatkan fasilitas di perpustakaan ini untuk dapat membaca banyak buku. Buku-buku itu boleh dibawa pulang, paling lama 2 minggu. Bila lebih dari itu, harus diperpanjang lagi. Iurannya murah, kok. Hanya Rp 10.000 per tahun.
                Setelah training beberapa kali dengan teman-teman yang sudah senior, akhirnya saya mendapat tugas menjaga perpustakaan tanpa tandem, alias sendirian. Dalam sebulan, biasanya ada 2 kali jadwal menjaga perpustakaan. Dalam setiap penugasannya, dibagi menjadi tugas pagi dan tugas sore.
                Pada jam tugas pagi, selalu lebih banyak yang datang. Kadang-kadang orang yang datang hanya untuk menyapa dan bersalaman, ada juga yang memang keperluannya untuk meminjam dan mengembalikan buku. Tugas di jam sore lebih sepi. Ada kalanya tidak ada seorang pun yang tercatat masuk ke dalam perpustakaan.
                Di suatu Minggu sore, saya bertugas menjaga perpustakaan. Karena sudah tahu yang datang tidak akan seramai pagi hari, saya merencanakan untuk mengerjakan pendataan buku. Maka itulah yang saya kerjakan tak lama setelah membalik tulisan penanda perpustakaan menjadi “buka”.
Pendataan buku ini sebenarnya sudah dilakukan dalam bentuk buku induk yang ditulis tangan. Yang saya kerjakan adalah menyalinnya ke dalam file komputer dan menambahkan informasi buku yang saya ambil dari sampul belakang buku. Pekerjaan ini mudah, namun sangat membosankan, apalagi bagi saya, orang yang tidak suka menyalin ini.
Pekerjaan input data ini memerlukan waktu dan konsentrasi. Namun, saya tidak keberatan kalau konsentrasi saya terganggu karena adanya pengunjung yang datang. Sayangnya, di sore hari ini tidak ada “pengganggu” konsentrasi sampai akhirnya ada seorang anak yang dititipkan ke perpustakaan.
“Titip anak ini, ya. Dia mau sekolah minggu, tapi gurunya belum ada. Opungnya lagi tugas penatua,” kata orang yang mengantarkan anak itu ke saya.
“O iya, masuk aja. Ayo duduk di sini,” kata saya sambil membimbing anak itu ke tempat duduk yang memang disediakan untuk membaca.
Anak itu segera menuju rak buku anak dan mengambil sebuah buku besar bergambar. Dia kemudian membacanya di meja yang disediakan. Dari gayanya, terlihat kalau dia memang sudah bisa membaca. Setelah bercakap-cakap, saya baru tahu kalau anak ini ternyata sudah kelas 2 SD. Kesukaannya adalah membaca. Wah, saya senang sekali rasanya menemukan anak yang suka membaca. Sedikit mengingatkan pada masa kecil saya yang suka membaca buku bergambar.
Saya sebenarnya bukanlah orang yang suka keramaian. Saya lebih suka keheningan. Namun kalau keheningan itu terlalu hening, rasanya kesepian juga. Apalagi keheningan itu terjadi di sebuah gereja di mana saya selalu bertemu banyak orang yang saya kenal. Makin terasa sepinya! Bastian, anak kelas 2 SD yang dititipkan opungnya itu menjadi semacam hadiah bagi kesepian seorang penjaga perpustakaan. Dari 6 orang pengunjung perpustakaan di sore hari yang cerah itu, hanya dia yang datang untuk membaca. Yang lain datang untuk…bicara. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini