Ana

Senin, 27 Oktober 2014

Payung Pink Hilang




                Selain kehilangan HP, dalam hajatan Syukuran Rakyat pelantikan presiden yang lalu saya juga kehilangan payung. Payung pink itu saya bawa di tas punggung saya. Seperti namanya, tas ini memang saya letakkan di punggung. Suatu tempat yang berada di luar jangkauan pandangan mata. Karena itu, hilangnya payung ini bagi kebanyakan orang bisa dikatakan sebagai salah saya sendiri.

                Setelah beberapa kali mengikuti keramaian pawai dan karnaval, saya sudah belajar cara menempatkan barang-barang saya supaya aman. Saya hanya membawa uang secukupnya, kartu-kartu penting, HP dan kamera. Tak lupa saya juga membawa botol minum, tas punggung dan topi. Untuk keramaian syukuran rakyat pelantikan presiden kali ini, saya juga membawa payung. Payung ini sebagai pelindung dari panasnya sinar matahari. Saat itu, Jakarta memang lagi panas-panasnya.

                Tas punggung memang sengaja saya letakkan di punggung untuk memberi batas antara saya dan kerumunan orang yang berdesakan. Tubuh saya yang agak sensitif geli memang terasa tidak nyaman apabila dekat-dekat (tepatnya nempel) dengan orang asing. Apalagi bila ditambah dengan aroma tidak sedap dari si orang asing. Hiiii…

                Saya pikir, dengan isi tas yang hanya berisi payung, tisu dan air minum, tidak akan ada yang mencurinya. Ternyata dugaan saya salah. Tak lama ketika saya keluar dari kerumunan, saya melihat tas saya sudah terbuka lebar. Bentuk dan jahitan tas itu tidak memungkinkan kalau tas bisa terbuka tanpa sengaja. pasti ada orang yang sengaja membukanya. Payung pink, tisu dan air minum kemasan yang ada di dalam tas itu hilang.

                Kehilangan payung dan tisu ini ternyata membuat saya lebih jengkel dibandingkan kesadaran kehilangan HP sebelumnya. Barang-barang itu harganya murah. Payungnya bahkan saya dapatkan gratisan dari sebuah acara. Barang murah aja, kok, ada yang mencuri, ya? Pencurian itu terjadi di depan tempat tinggal resmi kepala negara yang diamankan oleh buanyak aparat.

                Setelah saya pikir-pikir lagi, barang-barang itu sebenarnya sangat berharga saat itu. Panas terik dan suhu yang sangat tinggi membuat payung, tisu dan air minum menjadi barang penting. Barang-barang ini sangat berharga untuk mengurangi dampak panas. Pantas saja kalaua da yang mau mencurinya.

                Tak jauh dari pagar istana, saya melihat seorang yang memakai payung pink, payung yang berwarna sama seperti milik saya. Saya yang masih sedikit jengkel karena kehilangan payung, mencoba mendekat. Payung itu merknya sama seperti milik saya. Saya mencoba mencari tanda-tanda lain dari payung milik saya itu. Payung pink saya itu terkena lunturan tinta bolpoin biru yang pernah bocor di tas. Tanda itu pun saya ditemukan di payung yang digunakan perempuan itu. Saya yakin itu payung saya. Rasanya sudah hampir saya tegur dan meminta kembali milik saya.

                Niat untuk meminta payung itu saya urungkan. Ketika itu, mantan presiden SBY akan keluar dari istana. Keluarnya rombongan mantan presiden ini membuat kegaduhan tersendiri karen aharus membuka jalan di kerumunan orang. Rasanya ribut-ribut tentang payung yang didapatkan secara gratis jadi tidak terlalu penting.

                Mungkin sebenarnya perempuan yang menggunakan payung saya itu menemukannya tanpa sengaja. Mungkin maling sebenarnya membuangnya karena warna pinknya sanagt tidak cocok dengan image maling profesional. Mungkin perempuan itu hanya berniat meminjam payung tapi enggak tahu bilang ke siapa. Kalau dia memang berniat mencurinya, hanya Yang Maha Tahu yang tahu. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini