Ana

Kamis, 09 Oktober 2014

Parpol dan Koalisi Tidak Penting




                Pada musim kampanye calon legislatif maupun capres dan cawapres, saya sangat jarang mengeluarkan pandangan politik saya. Berbeda halnya dengan teman-teman dan kerabat yang memenuhi timeline-nya dengan status tentnag politik. Entah itu tanggapan, pendapat asal, ataupun hujatan pada orang lain.
                Saya memang tidak memusatkan perhatian saya pada peta politik tanah air yang penuh intrik. Terus terang, saya memang menjauhkan diri. Saya memang menjauhkan diri dari pengikut fanatik partai politik atau koalisi tertentu. Kebanyakan kenalan saya, sudah berubah menjadi pembela parpol, koalisi atau figur yang dipilihnya itu. Pembelaan ini kadang-kadang tidak lagi menggunakan akal sehat dan hati nurani. Saya, sih, enggak mau jadi orang yang seperti itu. Saya orang yang merdeka. Saya tidak mau pikiran saya dijajah oleh doktrin tertentu yang sangat konyol.
                Ketika pemilihan presiden berakhir, hati saya cukup lega. Saya pikir, berakhirlah pula sikap mendukung berlebihan dan mencela pihak yang dianggap lawan. Ternyata, enggak, loh! Masih ada aja orang yang meneruskan kampanye, baik kampanye mendukung seseorang atau juga kampanye hitam untuk menjatuhkan lawan.
                Kadang-kadang saya bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuan orang-orang ini menghabiskan waktu dan perhatiannya pada hal-hal seperti ini. Saya belum dapat melihat apa manfaat dari tindakan buang waktu seperti itu. Saya lebih memilih menggunakan waktu saya untuk melakukan hal lain yang lebih berguna. Saya juga memilih memusatkan perhatian saya pada hal lain yang lebih menarik. Orang-orang sok tahu yang gemar memberikan komentar, sudah pasti bukanlah sesuatu yang menarik perhatian saya. Orang-orang semacam ini layak untuk diabaikan.
                Karena bagi saya parpol dan koalisinya enggak penting-penting amat, wajar saja kalau saya kurang tahu tentang “Indonesia Hebat” atau “Merah Putih”. Saya menuliskannya dengan tanda “ karena sekarang arti dari frase itu sudah berubah. Artinya sudah tidak lagi Indonesia sebagai bangsa yang hebat dengan merah putih sebagai warna benderanya. Frase ini artinya sudah “jatuh ke jurang”, turun drastis. Frase ini menunjukkan 2 koalisi partai yang punya jagoan berbeda. Indonesia hebat dan merah putih seakan-akan adalah 2 kubu yang berbeda. Frase yang dulunya untuk membentuk persatuan bangsa, sekarang menjadi pemecah belah.
                Partai politik dan koalisinya makin saya anggap tidak penting ketika mereka bersatu dalam DPR. Di lembaga yang menempati gedung beratap hijau ini mereka membuat pilihan. Mereka memilih ketua DPr dan juga ketua MPR. Masing-masing ketua pilihan mereka ini punya “keanehan” dan “kelebihan” tersendiri. Ada yang diduga terlibat korupsi. Ada juga yang tidak dapat menunjukkan tanggung jawab dengan baik pada jabatan sebelumnya. Saya, sebagai rakyat Indonesia, tidak setuju dengan pilihan sebagian anggota dewan penguasa DPR ini. Dengan membuat pilihan yang tidak dapat saya mengerti, maka status para legislatif dari parpol dan koalisinya itu makin tidak penting lagi. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini