Ana

Rabu, 22 Oktober 2014

Kirab Budaya Menyambut Presiden Baru





                Kirab budaya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari syukuran rakyat yang digagas oleh para relawan. Kirab ini menjadi simbol pemimpin yang berjalan menuju tujuan bersama dengan rakyatnya. Banyak kesenian tradisi yang ditampilkan di kirab ini. Selain itu, ada juga beberapa komunitas.
Untuk menuju ke sini, mereka menggunakan 2 kendaraan. Dari gedung DPR ke bundaran HI menggunakan mobil, dari bundaran HI ke istana menggunakan kereta kuda. Kuda-kuda yang dipasangkan di kereta ini didatangkan dari Solo, daerah asal sang presiden baru.
Jalan yang dilewati kirab ini adalah jalan Sudirman dan jalan MH Thamrin. Jalan besar yang terletak di pusat kota Jakarta ini juga adalah pusat kemacetan. Sudah sejak berhari-hari sebelumnya kedua jalan protokol ini digosipkan akan ditutup. Beberapa kenalan yang berkantor di daerah situ sudah menyusun strategi dan rencana antisipasinya. Ada yang mau menggunakan ojek, ada juga yang mau bolos aja. Ada juga kantor yang sengaja meliburkan pegawainya, lo.
Rombongan kirab ini mengundang banyak perhatian orang. Pegawai yang berkantor di gedung-gedung sepanjang jalan Sudirman dan Thamrin berbondong-bondong turun untuk melihat presiden baru mereka. Kabarnya, orang-orang yang biasanya berdagang di Tanah Abang juga datang. Daerah yang dilalui kirap dipadati oleh banyak sekali manusia.
Saya termasuk orang yang mau melihat kirab budaya ini. Selain karena memang suka melihat kirab budaya, tentu saja saya mau melihat dan memotret presiden baru. Saya berangkat tak lama setelah makan siang menggunakan bus TJ. Bus yang menuju ke Monas ternyata sangat padat. Hasil nguping tanpa sengaja di dalam bus membuat saya tahu kalau sebagian besar penumpang siang itu akan menuju tempat yang sama seperti saya, Monas. Kami akan turun di halte Gambir, halte terdekat ke Monas.
Ketika memantau HP saya, seorang teman mengirimkan foto Jokowi dan JK sudah melalui kantornya. Saya merasa sedikit kecewa. Kalau ternyata mereka sudah lewat dan kirab sudah habis. Saya berjalan cepat menuju istana, berharap masih kebagian untuk melihat acara di sana.
Setelah berjalan cepat dan nayris terbirit-birit, saya akhirnya sampai juga di depan istana. Saya sempat bertanya pada orang yang saya temui di sana. Dia juga tidak tahu apakah presidennya sudah datang. Ada juga yang mengatakan kalau presiden sudah di dalam istana. Akhirnya, saya mengalihkan perhatian saya pada marching band yang tampil heboh di depan istana.
Marching band ini ternyata dari STIP Marunda. Saya mengenal (atau merasa mengenal) mereka. GKI Kwitang, gereja tempat saya menjadi jemaat, melayani kebaktian hari Minggu di sekolah tinggi ini. Saya beberapa kali bertugas ke sana. Ada beberapa anak perempuan yang masih saya ingat wajahnya. Kalau yang anak laki-laki, nyaris enggak ingat karena penampilannya yang agak mirip. Hmmm…sebenarnya yang mirip gaya rambutnya, sih. Botak!
Ketika sedang mengamati atraksi mereka, ada seorang yang berteriak, “Pak Presiden datang!”
Saya langsung jelalatan mencari-cari ada di manakah gerangan presiden baru kita. Rupanya kereta kuda yang emmbawa presiden belum tiba di istana. Kereta itu masih dalam perjalanan dan ada di Jalan Merdeka Barat. Saya langsung buru-buru menuju ke sana, berusaha mendekat. Langkah saya tertahan oleh banyaknya kerumunan orang. Setelah berhasil menembus kerumunan, langkah saya masih tertahan oleh 2 baris pagar hidup dari PDIP dan POLRI.
Akhirnya saya mencari tempat yang agak tinggi namun lega. Tujuannya supaya dapat bernapas dengan lega juga supaya bisa memotret dengan bebas. Kalau desak-desakan, memotret perlu perjuangan yang lebih besar. Dari tempat inilah saya mengarahkan kamera saya ke kereta kuda yang membawa Pak Jokowi dan Pak JK. Saya menekan tombol kamera saya tanpa henti tanpa memperhatikan fokusnya. Daripada kehilangan momen, lebih baik saya memotret sebanyak-banyaknya.
Hasil jepretan saya itu memang banyak, namun hasilnya tidak memuaskan. Kebanyakan fokus utama dari foto saya adalah tangan orang. Ada juga yang botol minuman. Penampakan Pk Jokowi hanya sedikit, itu pun wajahnya tidak terlihat. Walaupun begitu, saya tetap bersyukur bisa mendapatkan foto-foto itu, apalagi terlihat latar belakangnya adalah Istana Merdeka, tujuan akhir dari kirab budaya ini. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini