Ana

Kamis, 02 Oktober 2014

Kebakaran Hutan Dianggap Wajar




                Beberapa tahun ini selalu terjadi kebakaran hutan di musim kemarau. Kebakaran ini tidak hanya menimbulkan api, tapi juga asapnya. Hutan atau lahan semak kering bertanah gambut yang terbakar makin memperparah asapnya. Kebakaran di lahan gambut tidak mudah dimatikan. Api yang membakar pun sering tak terlihat karena terpendam di dalam tanah.

                Kebakaran hutan yang paling banyak terjadi di Pulau Kalimantan dan Sumatra. Asap dari ekbakaran ini bahkan bisa menutup daratan pulau itu. Daratan terlihat seperti negeri di awan. Asap ini bahkan sampai menggangu penerbangan. Banyak penerbangan yang tertunda karena asap. Beberapa ditunda, ada juga yang harus dibatalkan karena sangat membahayakan keselamatan.

                Keluarga kami yang berasal dari Kalimantan turut merasakan dampaknya. Papah, yang saat ini bermukim di Palangkaraya harus mengurangi kegiatan luar rumahnya. Kalau terlalu sering keluar rumah, nafas akan menjadi sesak, mata perih. Saya cukup prihatin dengan kondisi ini. Prihatin tanpa bisa berbuat lebih banyak.

                Mamah yang beberapa hari lalu ke Jakarta juga harus menerima dampaknya. Pesawat yang seharusnya dijadwalkan berangkat siang hari, harus lepas landas di sore menjelang malam hari. Sampai ke Jakarta, tentu saja lebih malam lagi.

                Berita kebakaran hutan ini sudah sering menghiasi aneka media, baik media cetak maupun elektronik. Yang paling banyak diberitakan adalah sebab dan dampaknya. Dampak yang paling sering diberitakan adalah banyaknya orang yang terkena ISPA dan sekolah yang diliburkan. Untuk penanggulangannya? Hampir tidak ada yang diberitakan. Entah karena para pewarta lalai mengendus berita ini atau karena memang tidak ada yang diberitakan, alias tidak ada yang dilakukan untuk mengurangi asap kebakaran hutan ini.

Saat ini, kebakaran hutan hampir dianggap sebagai sesuatu yang wajar bagi kebanyakan orang yang tinggal di daerah yang terkena asap. Para pembakar hutan dibiarkan saja. Para pejabat yang berwenang juga tampaknya tidak fokus mengurusi masalah ini. Bahkan, menteri yang paling bertanggung jawab untuk masalah hutan juga meninggalkan jabatannya tanpa memberikan solusi nyata. Rakyat hanya bisa berharap pada musim hujan.

Musim hujan akhir-akhir ini sudah pula berubah polanya. Dahulu, bulan yang diakhiri dengan “ber” artinya musim hujan. Sekarang, di bulan Oktober 2014 ini, musim hujan belum kunjung datang. Sedang terjadi penyimpangan iklim di dunia ini. Yang namanya penyimpangan seharusnya tidak dijadikan sebagai satu-satunya sumber harapan. Manusia yang dikaruania akal budi semestinya bisa berbuat lebih baik daripada hanya berharap pada datangnya musim hujan.

Yeah, saya memang hanya bis aprihatin tanpa bisa berbuat lebih banyak. Catatan hampir tidak ada gunanya bila berurusan dengan asap dari kebakaran hutan. Paling tidak catatan ini untuk mengingatkan saya sendiri kalau asap kebakaran hutan itu bukanlah sesuatu yang wajar walaupun dianggap wajar oleh sebagian orang. {ST}


Baca juga:


Popular Posts

Isi blog ini