Ana

Minggu, 26 Oktober 2014

HP Hilang di Depan Istana




                Beberapa saat setelah ada kabar akan tibanya kereta kuda yang ditumpangi Pak Jokowi dan Pak JK, orang beramai-ramai mendekat ke pagar istana negara. Orang-orang itu melambai-lambaikan tangan sambil menyerukan nama presiden barunya.
                Beberapa kelompok orang yang awalnya berdiri terpisah, mendadak menjadi kerumunan besar di depan istana, tepatnya di depan pagar istana. Saya juga termasuk di dalamnya. Kekrumunan itu bergerak mendesak ek depan sampai bagian depan menyentuh pagar. Saya, yang ada di bagian depan, juga tergencet sampai sesak napas. Selain susah bernapas karena tergencet, juga karena kurangnya udara segar di tempat saya berdiri itu. Orang-orang tanpa sungkan mengangkat tangannya. Bau keringat dan bau entah apa bercampur menjadi bau yang memabukkan.
                Saya yang sudah mulai merasa sesak napas, segera keluar dari kerumunan itu. “Permisi, permisi, permisi,” adalah kata-kata yang berulang kali saya ucapkan ketika mencoba menembus lautan orang itu. Berulang kali menginjak kaki orang dan juga terinjak-injak harus saya jalani demi meraih udara segar. Perjuangan itu baru berakhir ketika sampai di seberang jalan. Seberang ini maksudnya adalah median jalan di depan Istana Merdeka.
                Dari tempat saya berdiri, saya bisa melihat paspampres yang bertugas di pos kecil tak jauh dari pintu istana. Paspampres berpakaian merah itu menarik perhatian banyak orang termasuk saya. Banyak sekali orang yang bergantian memotretnya atau menjadikannya latar pemotretan. Saya juga berniat demikian. Saya mendekat sampai nama yang tertera di dadanya terbaca.
                Paspampres berbaju merah itu bernama Hasibuan, bagian depannya disingkat. Saya langsung tersenyum melihatnya. Beberapa Hasibuan yang saya kenal, orangnya tidak ada yang pendiam. Sedangkan Hasibuan yang 1 ini, beda bingit. Dia menatap ke depan hampir tanpa reaksi. Diam mematung. Perbedaan yang sanagt menyolok dengan para lelaki Hasibuan lainnya itu membuat saya ingin memotretnya. Saya berniat mengeluarkan HP saya, namun ternyata HP itu sudah tidak ada di tempatnya semula. Saya menempatkannya di tas kecil yang saya letakkan di bagian depan tubuh saya. Tas kecil berwarna kuning itu menyisakan kartu Flazz dan selembar uang. HP saya hilang.
                Walaupun bete dan jengkel, saya tidak dapat berbuat banyak di keramaian ini. Daripada ketinggalan momen bersejarah, saya tetap mengamati keadaan dan sesekali memotret. Ketika bertemu dengan rombongan polisi, saya melaporkan tentang HP saya yang hilang. Polisi yang saat itu sedang bertugas menjadi pagar hidup hanya bisa berkata kalau mereka tidak bisa banyak membantu. Kalau mau lapor dan dibuatkan berita acara, nanti akan ada polisi yang akan mengantarkan saya ke kantor polisi yang terdekat. Sekali lagi saya berpikir, kalau lapor ke kantor polisi, apakah HP saya akan kembali? Belum tentu, deh. Menemukan sebuah HP jadul tentunya bukan prioritas pada saat pelantikan presiden seperti ini.
                Saya segera mengabarkan beberapa orang yang saya kenal tentnag kehilangan ini. Sekalian untuk mencegah disalahgunakan juga. Setelah itu, sorenya saya melapor ke operator teleponnya. Untung saja galeri Indosat, operator telepon saya ada tak jauh dari Istana Merdeka. Saya mendapatkan chip baru dengan nomor telepon yang sama. Nomor telepon ini segera dapat digunakan kembali hari itu juga. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini