Ana

Rabu, 15 Oktober 2014

Asap Membatalkan Penerbangan Mamah




                Selasa, 14 Oktober, seharusnya ibu saya berangkat ke Palangkaraya. Dari tiket yang dibeli, jadwal penerbangannya adalah 11.40 WIB siang. Saya sudah mengantarnya ke bandara sejak pagi hari. Belum jam 9 pagi, kami sudah tiba di bandara. Kami memang sengaja datang lebih cepat karena memperhitungkan kemacetan jalanan Jakarta yang tidak bisa ditebak. Kalau urusan ke bandara, kami memang membiasakan diri untuk datang lebih cepat. Lebih baik menunggu di bandara daripada terlambat datang.
                Ketika mendekati waktu yang dijadwalkan untuk berangkat, saya menanyakan ke Mamah tentang status keberangkatannya. Ternyata keberangkatan ditunda akrena bandara Tjilik Riwut di palangkaraya tidak bisa didarati pesawat. Pesawat tidak bisa mendarat karena pekatnya asap yang membuat jarak pandang sangat terbatas.
                Berkali-kali saya dan saudara-saudara menanyakan tentang status keberangkatan, namun Mamah belum juga diterbangkan ke kampung halaman kami itu. Ketika hari menjelang malam, papah menelpon, mengabarkan kalau Mamah belum juga sampai di Palangkaraya. Asap hari itu memang sanagt pekat. Papah sampai pernapasannya agak terganggu. Dia batuk-batuk sampai terpaksa harus berobat ke dokter. Papah menelpon tak lama setelah pulang dari dokter.
                Ketika hari menjelang malam, Mamah belum juga diberangkatkan. Parahnya lagi, tidak ada kejelasan untuk para penumpang. Kata Mamah, orang-orang banyak yang marah kepada petugas yang bertugas di loket. Para petugas itu tidak dapat menanggapi dengan baik. Sebenarnya tidak bisa disalahkan juga, sih. Mereka memang bukan dalam kapasitas mengambil keputusan. Tugas berat untuk menerima amarah dan omelan para penumpang harus mereka jalani dengan ikhlas.
                Baru menjelang jam 10 malam ada kabar kalau penerbangan akhirnya dibatalkan. Itu pun masih belum jelas kelanjutannya. Apakah tiketnya akan diganti dengan uang? Apakah mereka akan dijadwalkan untuk penerbangan selanjutnya? Apakah kalau dijadwalkan keesokan harinya, para penumpang akan disediakan penginapan? Banyak pertanyaan namun tidak ada yang bisa menjawab.
                Saya dan adik-adik mencoba menelpon ke maskapai penerbangannya. Setelah menunggu beberapa menit (seperti semua customer service), saya menekan angka 1 untuk berbicara dengan customer service representative. Orang yang ada di ujung telepon sebelah sana juga tidak punya jawaban atas pertanyaan kami. Kami disarankan untuk menelpon ke bandara. Mas customer service representative memberikan nomor telpon yang segera kami telpon tak lama kemudian. Nomor ini ternyata…salah.
                Akhirnya, saya kembali menelpon Mamah yang masih menunggu kabar lanjutannya. Dia dan para penumpang terlantar lainnya masih menanti di ruang tunggu. Saya dan adik-adik yang saat itu sudah ngantuk menahan diri untuk tidak ketiduran. Rasanya enggak tega. Saat Mamah sedang menunggu kepastian dan tidak beristirahat berjam-jam, masa anak-anaknya malah tidur di kasur empuk dalam kamar yang sejuk.
                Kabarnya, Mamah baru tiba di rumah setelah tengah malam. Penantian sepanjang hari itu menghasilkan pengembalian uang tiket tanpa kepastian untuk penerbangan penggantinya. Mamah juga ditemani oleh salah seorang adiknya, sesama penumpang terlantar dengan tujuan Palangkaraya. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini