Ana

Sabtu, 20 September 2014

Mengasihani atau Mengagumi Penjual Bubur




                Di berbagai media diberitakan tentang “nasib malang” Norman Kamaru, mantan briptu yang terkenal karena nyanyiannya beredari di dunia maya. Norman, yang mendadak terkenal karena manyanyikan lagi Caiya-caiya lengkap dengan gayanya itu memilih keluar dari kepolisian demi mengejar cita-citanya menjadi penyanyi.
                Pilihan menjadi artis ini membuatnya harus pindah ke pusat hiburan negara ini, Jakarta. Di kota besar inilah dia memulai hidup barunya dengan menjadi penyanyi. Pada awalnya, Norman laris ditanggap ke mana-mana. Semua panggung hiburan yang ada di TV swasta hampir selalu menampilkannya lengkap dengan perlengkapan khas polisinya.
                Norman juga menghiasi sampul-sampul tabloid dan majalah. Tidak ketinggalan menjadi bintang tamu di siaran radio pagi hari. Saya pernah tak sengaja mendengarkan siaran radio pagi hari ini. Yang pasti Norman dan kehidupan barunya menjadi topik berita di siaran infotainment. Siaran gosip tentang orang-orang terkenal ini menjadikan Norman tambah terkenal.
                Seiring dengan trend musik dan hiburan, popularitas Norman makin menurun. Norman akhirnya hampir tidak pernah diundang lagi dalam acara-acara hiburan. Demi menyambung hidupnya, Norman berjualan bubur manado tak jauh dari tempat tinggalnya di Kalibata.
                Langkah Norman ini menjadi berita baru di berbagai media. Peralihan profesi itu mengundang banyak pendapat. Cukup banyak yang mengasihaninya karena terpaksa harus menjual bubur. Kalau saya, justru mengagumi sikap Norman ini. Itu artinya dia tidak menyerah pada keadaaan dan pasrah pada trend dunia hiburan.
                Menurut saya, sikap Norman dan pekerjaan barunya ini tidak layak untuk dikasihani. Orang-orang yang merasa kasihan pada Norman itu kebanyakan karena berpikir berjualan bubur adalah pekerjaan rendahan dibandingkan dengan pekerjaan sebagai artis. Artis di Indonesia ini memang identik dengan gaya hidup mewah gemerlap. Sementara penjual bubur? Biasanya berpenampilan seadanya. Kira-kira, penampilan Norman sebagai penjual bubur memang seadanya saja, tidak secanggih penampilannya saat menyanyi di atas panggung. Buat yang terbiasa menilai orang hanya dari penampilannya, pekerjaan baru Norman memang layak dinista.
                Norman berjualan bubur manado dan makanan khas Manado yang dimasaknya sendiri. Norman, yang berasal dari Gorontalo itu memang suka memasak. Rasanya tidak ada yang salah dengan seorang yang suka memasak lalu kemudian membuka usaha menjual makanan. Itu malah modal utama bagi dia. Saya justru lebih menghargai Norman sebagai pengusaha daripada sebagai penyanyi yang tidak punya jati diri sendiri. Dia terkenal karena menyanyikan lagu lain yang sudah lebih dulu terkenal. Semoga usaha Norman sukses! {ST}

Popular Posts

Isi blog ini