Ana

Senin, 01 September 2014

Asinan Betawi Pinggir Jalan




                Dalam perjalanan pulang ke rumah, kerap kali saya berpapasan dengan asinan Betawi yang dijual di gerobak. Jajanan ini cukup menarik perhatian saya, tapi tidak cukup untuk menghentikan laju kendaraan saya. Ada beberapa pertimbangan yang membuat saya tidak berhenti dan membeli jajanan yang sepertinya cukup menyegarkan ini.
                Di jam pulang kantor, setengah 6 sore, perut saya terasa sedikit lapar. Rasa lapar ini biasanya saya kenyangkan dengan camilan yang mengenyangkan. Kadang-kadang bisa juga sekalian dengan makanan berat, nasi plus lauknya. Keinginan untuk menyantap asinan biasanya terkalahkan. Masih ditambah lagi asam lambung saya sering berproduksi secara berlebihan ketika perut sedang kosong. Ini kadang-kadang akan emmbuat masalah baru kalau diisi dengan makanan seperti asinan.
                Gerobak asinan itu tidak setiap hari mangkal di tempat saya kerap melihatnya itu. Nah, setiap kali dia mangkal di situ, kebetulan saya ada janji untuk bertemu orang atau rapat di gereja. Biasanya pertemuan-pertemuan seperti ini disertai dengan makan malam terlebih dahulu. Saya tidak mampir selain menguber waktu supaya tiba tepat waktu juga karena pertimbangan akan segera makan malam tak lama kemudian.
                Suatu kali, saya menyempatkan diri untuk mampir ke gerobak asinan ini. Niat  saya sudah bulat untuk membelinya dan membawanya pulang sebagai oleh-oleh penghuni rumah. Eh, ternyata asinannya habis. Jadi, sampai sekarang, saya belum pernah merasakan asinan Betawi yang dijual di pinggir jalan dengan menggunakan gerobak itu. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini