Ana

Selasa, 02 September 2014

Anak Manusia Gerobak




                Ketika melintasi jalanan Jakarta, kerap kali saya bertemu dengan manusia gerobak. Manusia gerobak adalah julukan saya untuk orang-orang yang hidup dan tinggal di gerobak. Gerobak itu menjadi tempat tinggal mereka. Ya, mereka. Mereka dalam artian jamak, beberapa orang. Umumnya mereka adalah keluarga dengan beberapa orang anak kecil.
                Manusia gerobak, dalam pengamatan saya, sering mencari nafkah menjadi pemulung. Mereka memungut barang-barang dari tempat sampah. Umumnya mereka berpenampilan kumuh, pakaian kotor dan kadang-kadang compang-camping. Kulit mereka kusam, demikian juga rambutnya.
                Yang menarik perhatian saya adalah adanya anak-anak kecil dalam gerobak ini. Mereka terpaksa tinggal di gerobak karena orang tuanya tidak memiliki rumah tinggal yang layak. Gerobak inilah yang menjadi rumah bagi mereka. Dari beberapa keluarga gerobak yang saya amati, umumnya anaknya tidak hanya 1. Ada beberapa anak-anak kecil dalam 1 gerobak. Bisa ditebak kalau mereka bersaudara kandung dengan jarak kelahiran yang tidak terlalu jauh. Cukup mengherankan juga bagaimana cara “memproduksi” anak-anak itu di tempat tinggal yang hanya terdiri dari 1 ruangan bernama gerobak itu.
                Ulah anak-anak gerobak itu kadang-kadang membuat saya tertawa tetapi juga sekaligus sedih. Pernah saya melihat seorang anak kecil penghuni gerobak berlari di trotoar tanpa menggunakan celana. Dia menuju badan jalan dan kemudian...pipis. Anak lelaki kecil itu menciptakan air mancur kecil di tepi jalan Jakarta yang super macet itu. Wajahnya biasa saja, tapi justru itulah yang membuatnya lucu. Saya tertawa seketika melihat air mancur kecil itu, tapi itu tidak lama. Setelah itu mendadak merasa prihatin dan sedih.
                Anak kecil itu menganggap badan jalan adalah toiletnya. Dia tidak pernah tahu bahwa ada tempat khusus untuk membuang air. Kemungkinan dia juga tidak tahu kalau alat kelamin tidak seharusnya dipertontonkan di depan umum. Dengan menghadap badan jalan, ribuan orang pengguna jalan bisa melihat organ pipisnya itu. Untung anaknya masih kecil, kalau sudah dewasa apa enggak membuat keonaran tuh berkelakuan macam gitu?
                Saya prihatin dengan kehidupan keras anak-anak ini. Rumahnya, yang bisa berjalan-jalan di jalanan itu akan membuat mereka menjadi anak jalanan. Kebersihan sepertinya bukanlah prioritas utama bagi orang tua mereka. Pendidikan dan sekolah apalagi, entah ada dalam prioritas ke berapa. Mau tumbuh jadi apa mereka dengan keadaan seperti itu? Semoga saja, dari sebagian anak-anak ini ada yang tumbuh menjadi orang yang berguna dan menjadi berkat, walaupun dengan perjuangan yang berat. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini