Ana

Rabu, 13 Agustus 2014

Ulos Mahal Berharga Murah




                Saya termasuk orang yang mengagumi ulos. Kain tenun khas Batak ini memang memikat. Selain karena proses pembuatannya yang perlu kesabaran dan ketekunan, juga karena motifnya yang unik. Kabarnya, hampir setiap ulos memiliki makna yang berbeda. Makna berbeda itu juga tertuang dalam aturan pemakaiannya. Memakai ulos tidak boleh sembarangan dan sesuka hati. Ada aturan masing-masing buat setiap motifnya.
                Suatu kali, saya pernah mengadakan riset kecil tentang ulos untuk artikel kecil yang akan saya buat. Dari riset itu, saya baru tahu kalau ulos itu cukup mudah didapatkan walaupun sudah tidak banyak lagi orang yang membuatnya. Kok bisa?
                Ternyata, ada sebuah pasar yang menampung ulos bekas untuk kemudian dijual murah. Ulos bekas itu didapatkan dari keluarga-keluarga yang sudah tidak lagi dapat menampung ulos pemberian banyak orang di rumahnya. Alasan praktislah yang membuat ulos itu berpindah tempat ke pasar. Tempat yang terbatas di rumah dan kegunaan ulos yang hanya terbatas pada acara adat membuat banyak keluarga mengambil keputusan ini.
                Di pasar ini, ulos dijual dengan harga yang murah. Bahkan, kalau dibandingkan dengan kerja keras yang ada di balik pembuatan ulos, harga itu dapat dikatakan sangat murah. Beberapa ratus ribu, buat saya sudah cukup murah bila dibandingkan dengan waktu dan tenaga yang digunakan untuk membuatnya. Apalagi harga puluhan ribu. Bah! Itu hanya seharga sekali makan di lapo.
                Prihatin juga ketika melihat barang sangat berharga tetapi diperlakukan seperti barang loak. Harga (sangat) murah itu tentunya tidak akan dapat menunjang kehidupan para perajin ulos. Bisa dimaklumi bila tidak banyak lagi orang yang mau menenun ulos, paling tidak untuk mencari nafkah. Kehidupan serba praktis jaman sekarang juga semakin menjauhkan generasi muda dari tradisi membuat ulos. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini