Ana

Senin, 04 Agustus 2014

Ulang Tahun di 2014




            Tanggal 4 Agustus 2014 jatuh pada hari Senin. Hari Senin ini bukanlah hari Senin biasa. Hari ini cukup luar biasa karena pada hari ini adalah hari pertama masuk kerja bagi sebagian orang yang bekerja di kantor. Libur dan cuti panjang menyambut Lebaran telah berakhir. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya jalanan Jakarta. Bagaimana caranya merayakan ulang tahun yang menyenangkan bila saya juga dalah seorang yang bekerja dan hidup di Jakarta?

Hadiah Hutan Kota
            Seperti juga tahun-tahun sebelumnya, saya memang merencanakan untuk memberi hadiah bagi diri saya sendiri. Untuk tahun ini, hadiahnya adalah pergi ke hutan, tempat daun-daun berada. Hutannya tidak perlu jauh-jauh di pulau tempat kelahiran saya di Kalimantan. Di Jakarta juga ada hutan, lo. Hutan Kota Srengseng yang menjadi pilihan saya.
            Sebelumnya, saya pernah berkunjung ke hutan kota ini. Saat itu sedang musim kemarau. Pohon-pohonnya banyak yang kering. Daun-daun banyak yang berguguran. Pohon gundul adalah pemandangan yang mendominasi saat itu. Pohon yang masih bisa bertahan untuk tetap hijau antara lain pohon bambu. Yang lainnya? Kering merana. Saat itu saya bertekad untuk datang lagi ketika musim kemarau telah berlalu.
            Saat ulang tahun kali ini menurut saya adalah saat yang tepat untuk kunjungan itu. Bulan Juli dan Agustus tahun ini agak menyimpang dari biasanya. Biasanya, bulan kelahiran saya ini sudah termasuk musim kemarau, tapi tidak tahun ini. Sepanjang bulan Juli 2014, hujan mengguyur Jakarta hampir setiap hari. Kadang-kadang disertai geledek dan genangan airnya. Aneh memang. Tapi ini adalah sesuatu yang layak disyukuri bila mau berkunjung ke tempat ini.

Perayaan Sendirian
            Saya tidak berbagi ke banyak orang untuk tempat saya merayakan ulang tahun ini. Yang tahu hanya adik saya yang kebetulan nebeng. Mamah mungkin mengira saya pergi bekerja karena keluar rumah juga di jam biasa saya ngantor. Teman-teman, kecuali yang terdekat, tidak saya beri tahu ke mana saya merayakannya.
            Buat beberapa orang, perayaan ulang tahun saya ini cukup aneh, eksentrik. Bahkan ada juga yang mengasihani saya karena saya merayakannya sendirian saja. Hanya ada saya dan Tuhan. Tidak bisa disalahkan juga kalau mereka berpikiran seperti itu. Umumnya perayaan ulang tahun selalu penuh kehebohan, keramaian, pesta pora, dll.
            Saya bukanlah orang yang anti perayaan ulang tahun dengan keramaian, namun saya yang cenderung bersifat introvert ini merasa sangat tidak nyaman berada terlalu lama di tengah keramaian, apalagi di tengah orang-orang yang tidak terlalu dikenal. Pergi sendirian ke tengah alam adalah suatu kelegaan. Itu adalah sebuah hadiah sempurna buat orang seperti saya ini.

Ngapain Aja?
            Sebagai penggemar dedaunan, tentu saja saya akan melihat dan mengamati daun-daun yang ada di sana. Sebisa mungkin saya menahan diri untuk tidak memetik daun-daun yang menurut saya bagus dan lucu. Usaha itu tidak sepenuhnya berhasil, sih. Ada beberapa daun yang saya petik, namun akhirnya tidak saya simpan karena tidak membawa tempat penyimpanannya.
            Selanjutnya saya berjalan-jalan di jalan setapak yang sudah disediakan. Perjalanan ini menghasilkan cukup banyak foto. Salah satu foto unik yang saya dapatkan adalah lantai bersalju yang sebenarnya karena terkena kapuk yang berbuah dan jatuh. Saya juga berhasil memotret daun-daun berjuntai di bawah pohon. Mungkin biasa aja hasilnya menurut orang lain. Menurut saya, sih, sangat luar biasa.
            Perhentian paling lama adalah sebuah batang pohon yang roboh. Batang ini melintang menghadap ke danau yang berair tenang. Batang pohon ini sangat cocok untuk dijadikan tempat duduk. Di batang pohon inilah saya membalas ucapan selamat dai kerabat yang dikirimkan lewat BBM dan Whatsapp. Cukup banyak ternyata. Setelah itu saya membaca buku yang memang sengaja saya bawa. Sungguh menyenangkan membaca di tepi danau yang tenang, ada semilir angin, diselingi dengan cuit-cuit bunyi burung liar.u
            Ketika siang menjelang, tempat duduk saya sudah tidak lagi terlindungi oleh bayangan pohon. Sinar matahari langsung terkena ke kulit. Waktunya berpindah dan mencari perhentian lain yang bisa mengenyangkan perut. Saya pun pergi dari tempat itu.

Kucing Hutan Buatan (?)
            Ketika berkunjung ke Hutan Kota Srengseng, saya bertemu dengan seekor kucing. Dari bentuknya, kucing ini terlihat seperti kucing rumahan atau kucing yang biasanya beredar di kantin. Entah mengapa, di kantin-kantin yang pernah saya datangi hampir semuanya ada kucingnya. Rasanya cukup aneh juga melihat kucing ini ada di hutan, walaupun hutan itu adalah buatan manusia.
            Berdasarkan pengetahuan dari tayangan di Animal Planet, kucing ini sama sekali bukan kucing hutan. Kucing hutan sering berwarna agak gelap atau berloreng-loreng, seperti puma atau harimau itu. Kalau kucing di padang rumput, berwarna terang seperti singa. Kucing yang ini warnanya perpaduan hitam dan putih. Kucing biasa. Seperti kucing-kucing yang sering berdar di perumahan kami.
            Ketika melihatnya berjalan mengendap-endap di hutan, saya pun mengikutinya dengan mengendap-endap pula. Tujuannya mau memotretnya. Ternyata dia menuju genangan air untuk minum. Ketika cukup dekat, saya bisa melihat lidahnya menjilat genangan air yang letaknya tidak jauh dari pohon kapuk itu. Ia menjilatnya dengan rakus.
            Saya pun mendekat dan memotretnya berkali-kali. Bunyi klik kamera yangberuntun berkali-kali membuat kucing itu kaget dan melihat ke saya. Kucing itu menatap tajam tanpa berkedip. Saya pun mencoba mengusirnya. “Hush!” Eh, tapi kok dia tidak mau beranjak sedikit pun. Dia tetap menatap tajam sampai saya pun merinding sendiri melihat matanya yang berwarna agak kekuningan itu.
            Saya pun akhirnya pergi sambil sesekali melihat ke belakang. Kucing itu masih menatap tajam beberapa saat yang kemudian dilanjutkan dengan kembali meminum dari genangan air. Tatapan tajam kucing itu masih berbekas sampai sekarang. Tatapan tajam kucing hutan. Hutannya buatan. Kucingnya berneran. Rupanya kucing ini kembali ke habitat semula nenek moyangnya. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini