Ana

Kamis, 14 Agustus 2014

Tulisan Horas yang Terbalik di Ulos




                Dalam acara HUT GKI Kwitang tahun 2014, Panitia memutuskan untuk mendekorasi gedung gereja dengan nuansa Nusantara. Dekorasi ini bukan hanya sekedar penghias, tapi juga simbol dari jemaat GKI Kwitang yang beraneka ragam dan berasal dari penjuru Nusantara. Kain ulos, dipilih untuk menghiasi bagian altar.
                Seksi perlengkapan dengan sigap memasang kain-kain ulos itu. Kain ulos itu dapat dengan mudah dipasang. Permukaannya yang cukup kasar membuat Panitia tidak perlu repot-repot mencari akal untuk menempelkan ulos itu pada panel kayu tersebut. Ulosnya sudah menempel sendiri. Karena itu, panitia melanjutkan pekerjaannya untuk mengurus hal lain.
“Itu kenapa ulosnya terbalik?” tanya seorang ibu berdarah Batak kepada ketua panitia. Ulos terbalik itu ditandai dengan tulisan “Horas” yang terbalik
                Ketua panitia dengan sigap mau membalik kain yang hanya disampirkan itu. Tepat saat dia mengarahkan pandangannya ke kain itu, tertangkap tulisan “Horas” lainnya. Tulisan itu memang terbalik, upside down, yang atas jadi bawah. Tapi, di bagian atasnya terbaca “horas” dengan penulisan yang benar, tidak terbalik. Akhirnya saya, ketua panitia yang ditegur oleh si inang itu memutuskan kalau tidak perlu membalik ulos yang terpasang di mimbar itu.
                Menurut logika saya, tulisan itu memang dibuat bolak-balik karena penggunaannya untuk disampirkan di bahu. Ketika digunakan, akan terbaca tulisan horas dari depan maupun dari belakang orang yang mengenakannya. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini