Ana

Senin, 11 Agustus 2014

Terbiasa Menghargai Waktu Kerja




                Bila dibandingkan dengan beberapa kenalan dan rekan kerja, saya termasuk orang yang menghargai waktu kerja. Di saat jam kerja, artinya harus bekerja. Waktu istirahat untuk beristirahat, dan waktu bermain untuk bermain. Waktu bermain sebenarnya adalah waktu bebas.
                Kebiasaan ini sudah saya terapkan ketika saya pertama kali bekerja dulu. Dengan kebiasaan seperti ini, pekerjaan saya justru lebih mudah. Dengan fokus pada pekerjaan pada suatu waktu, pekerjaan yang bisa dilakukan lebih banyak, dan tentu saja akan lebih cepat selesai. Saya tidak perlu menggunakan waktu tambahan atau lembur untuk mencapai hampir semua target saya.
                Seorang kenalan saya pernah emngatakan kalau saya “terlalu keras pada diri sendiri”. Saat itu, saya juga sempat merenungkannya. Apakah benar demikian? Saya dianggap bukanlah orang yang bisa santai dan menikmati hidup. Kala itu, saya sempat mencoba gaya hidup “agak lemot” seperti teman saya itu. Diawali dengan berjalan pelan sambil sesekali menyapa orang yang dikenal. Ketika sudah duduk di tempat kerja dandan dulu, baru kemudian memulai pekerjaan. Ketika sudah 1 jam berjalan dan mata sudah lelah, maka waktunya mengobrol dan ngomongin bos (kalau lagi gak ada bos). Santai-santai berlanjut lagi ketika waktunya istirahat, waktu resmi untuk bersantai. Perlu waktu 2 jam untuk istirahat ini dan perlu waktu nyaris 1 jam untuk tune in ke pekerjaan lagi.
                Percobaan ini tidak berlangsung lama, karena saya tidak tahan dan menilai gaya hidup seperti itu tidak cocok untuk saya. Gaya hidup seperti ini kadang-kadang berlanjut dengan lembur karena tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepta waktu.
Saya sebisa mungkin, tidak mengerjakan dan membawa pekerjaan ke rumah untuk menyelesaikannya di waktu pribadi saya. Lebih baik saya menyelesaikan pekerjaan saya dengan cepat, lebih cepat dibandingkan dengan orang lain. Saya jadi masih punya waktu untuk mengecek dan memperbaiki pekerjaan itu. Yang paling penting, saya bisa istirahat dan bersantai setelah selesai, sementara teman-teman lain masih sibuk berusaha memusatkan perhatiannya ke pekerjaan lemburnya.
Dengan bekerja “santai” seperti yang diterapkan oleh teman-teman saya, rasanya, kok, kebebasan makin berkurang, yah. Hmmm…atau malah kebebasan jadi hilang karena pekerjaan terkesan tidak ada habis-habisnya. Lebih baik saya tetap menghargai waktu kerja. Waktu kerja dalah untuk bekerja. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini