Ana

Sabtu, 30 Agustus 2014

Supir Kami yang Ngabur




            Ketika Lebaran datang, ramai orang pulang kampung, termasuk juga supir di rumah kami. Supir yang dulunya adalah pembantu rumah tangga yang kami ajarkan nyetir itu pamit pulang seperti tahun-tahun sebelumnya. Bedanya kali ini dia tidak kunjung kembali ke rumah kami. Atau lebih tepatnya, dia tidak lagi bekerja di rumah kami.
            Saya sebenarnya tidak terlalu memusingkan dia kembali ke rumah kami atau tidak. Selama ini saya hampir tidak pernah memerlukan jasa supir. Saya pergi ke mana-mana sendiri. Nyetir sendiri. Kadang-kadang naik kendaraan umum. Itu pun sendiri. Keberadaan supir keluarga kami justru terasa kalau dia tidak ada atau tidak bisa menyetir. Itu karena sayalah yang akan menggantikannya sebagai supir keluarga kami.
            Ketika sudah lewat 1 bulan sejak Lebaran, kami pun bertanya-tanya apakah orang ini akan kembali lagi untuk bekerja ke rumah kami. Tidak ada kabar dari orang ini. Ibu saya, yang adalah majikan sebenarnya dari sang supir, menanyakan pekerjanya ini hampir setiap hari. Hampir setiap hari Mamah mencoba menelpon dan mengirimkan SMS. Saya juga rutin mengirimkan SMS dan kadang-kadang mencoba menelpon. Semua usaha itu tidak berhasil. Telepon dan SMS tidak ada yang direspon.
            Melalui berita (atau gosip) yang kami dengar dari asisten rumah tangga kami, sang supir ini sudah memiliki pekerjaan baru. Dia bekerja sebagai supir juga di rumah yang tak jauh dari rumah kami. Kami, atau dalam hal ini saya, menganggap kalau benar demikian kejadiannya, maka artinya orang ini sudah tidak lagi bekerja di tempat kami.
            Biasanya, kalau orang bekerja yang seharusnya masuk harian dan tidak memberi kabar selama 5 hari atau seminggu, bisa dianggap telah mengundurkan diri. Yah, tentu saja rumah tangga kami tidak bisa disamakan dengan perusahaan besar, namun untuk kasus yang 1 ini, bisa diartikan kalau dia juga mengundurkan diri dari tempat kami. Apalagi dia sudah mendapatkan tempat kerja yang baru.
            Pekerjaan barunya itu juga diakuinya ke ibu saya ketika akhirnya dia bisa dihubungi. Tepatnya dia menghubungi ibu saya untuk nego kenaikan gaji. Dia membandingkannya dengan gaji yang diterimanya di tempatnya yang baru itu, yang memang lebih tinggi dibandingkan dengan yang bisa diberikan oleh keluarga kami. Bedanya cukup besar, beberapa ratus ribu.
            Bila dibandingkan dengan rumah tetangga itu, mungkin yang kami berikan tidak lebih besar. Namun, si supir ngabur ini tampaknya lupa kalau dia bisa tinggal di rumah kami. Dia juga bisa mendapatkan makanan yang sama dengan kami. Bahkan dia boleh memasak makanan sendiri sepuasnya di dapur rumah kami kalau seleranya tidak cocok dengan masakan rumah kami. Kalau dihitung-hitung, mungkin yang diberikan keluarga kami lebih besar. O iya, dia juga bis apulang kampung lama banget dan kembali tanpa ada rasa bersalah. Walaupun mengomel siang dan malam, Mamah akan selalu menerima dia kembali.
            Supir yang menurut saya sering berkelakuan seenaknya sendiri ini membuat gerakan terakhir yang juga seenaknya. Dia datang dan pergi sesuka hati ke rumah kami seakan-akan itu adalah rumahnya sendiri. Walaupun sudah bekerja di tempat lain, dia masih sering datang untuk numpang mandi, nonton TV dan membuat aneka minuman. Yang membuat saya kurang senang karena dia melakukannya tanpa bilang ke orang yang ada di rumah, dalam hal ini saya dan saudara-saudara saya. Saat itu, orang tua kami sedang berada di Kalimantan, karena itulah rumah menjadi tanggung jawab kami, anak-anaknya.
            Kelakuannya itu makin membuat kami kurang suka ketika dia nego dengan orang tua kami lewat telepon. Negosiasi itu menghasilkan gaji baru, 50% lebih tinggi dari sebelumnya. Gaji baru ini lantas emmbuat kami, anak-anaknya merasa keberatan. Orang tua kami, yang selalu mendengung-dengungkan tentang penghematan, kali ini melakukan sesuatu yang bertentangan. Menaikkan gaji pekerja yang kinerjanya kurang baik, 50% pula, bukanlah suatu keputusan yang tepat untuk menghemat. Apalagi orang ini tidak berniat baik kepada keluarga kami. Itu terbukti dengan tiada kabar selama berhari-hari dan kami ketahui kalau dia sudah bekerja di tempat lain.
            Tengah malam di hari dia bernegosiasi itu, dia datang ke rumah kami. Dia datang untuk numpang menginap, walaupun diketahui kalau dia sudah memiliki tempat tinggal lain. Ssebelumnya, saya sudah meminta kepada asisten rumah tangga untuk memberi tahu saya kalau dia datang. Terus terang, saya kurang suka dengan kelakukannya yang seenaknya saja keluar masuk rumah kami. Selama berkeliaran di sekitar rumah kami itu, belum pernah seklali pun di aberbicara dengan kami, 3 bersaudara yang bertanggung jawab atas rumah kami itu.
            Sebagai kakak tertua, sayalah yang bertugas untuk berbicara dengan orang ini. Saya memintanya untuk meninggalkan rumah kami malam itu juga. Saat itu, dia tidak dalam keadaan bekerja di rumah kami. Dia tidak berhak berada di rumah kami. Saya berbicara cukup lama untuk “mengusirnya”. Saya sampai harus 7 kali meninggalkan rumah kami, rumah yang juga menjadi tempat tinggalnya selama bertahun-tahun ini. Cerita ini bersambung. Kapan-kapan kalau tidak ada kesibukan akan ditulis sambungannya. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini