Ana

Jumat, 08 Agustus 2014

Menderita Akibat Mahar




                Sebuah berita kecil tentang serorang perempuan yang tidak saya kenal sama sekali mendadak membuat saya sedih. Perempuan ini adalah perempuan India yang disekap oleh suami dan mertuanya karena tidak bisa membayar mahar pernikahannya. Hukuman itu makin bertambah lagi ketika perempuan ini melahirkan seorang anak perempuan, warga dunia yang sering dianggap “kelas dua”.
                Ketika ditemukan, perempuan ini dalam keadaan compang-camping, rambut kering berantakan dan kuku yang panjang.  Dia juga kesulitan membuka matanya akrena sudah terlalu lama disekap dalam ruang yang sempit dan tertutup. Dengan makanan seadanya ayng diberikan secara tidak teratur, sudah jelas perempuan ini juga kekurangan gizi.
                Entah bagaimana tradisi yang berlaku di sana. Mahar sepertinya memang dibayarkan oleh seorang perempuan dan keluarganya kepada calon suaminya. Agak berbeda dengan tradisi yang berlaku di kebanyakan daerah. Mahar ini memang kadang-kadang menjadi batu sandungan dalam banyak pernikahan, termasuk juga pernikahan di Indonesia.
                Rasanya sedih juga mendengar saat ini, zaman ini, masih ada orang yang memperlakukan sesamanya manusia seperti memperlakukan binatang. Terlepas dari tradisi yang merendahkan perempuan, tapi bukankah ilmu pengetahuan sudah ada dan memberi kita pengetahuan kalau perempuan dan laki-laki itu, walaupun berbeda, tetap berasal dari spesies yang sama. Menurut saya perlakuan itu adalah pelecehan terhadap umat manusia yang berakal budi.
                Apakah mereka juga tidak tahu, apa yang biasanya kita lakukan atau berikan kepada orang lain, suatu saat nanti akan berbalik kepada kita? Ada yang menyebutnya timbal balik, ada juga yang menyebutnya karma. Saya menyebutnya pekerjaan Tuhan Yang Maha Adil. Yang menderita tidak selamanya menderita.
                O iya, penderitaan perempuan India itu belum berakhir sampai di situ. Kesedihannya masih ebrlanjut ketika anak perempuan yang dilahirkannya tidak lagi mengenalnya. Pantas saja, sih, kalau tidak mengenalnya. Anak ini diambil oleh keluarga suaminya (yang seharusnya keluarga dia juga), ketika dia dilemparkan dalam ruang sempit tempat dia disekap selama bertahun-tahun. Semoga saja perempuan ini bisa menjalani hidup barunya dengan baik dan semua penderitaannya tergantikan oleh kelimpahan. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini