Ana

Jumat, 01 Agustus 2014

Lebaran 2014, Jaga Rumah Saja





            Lebaran tahun 2014 jatuh tanggal 28 dan 29 Juli 2014. Itu artinya hari Senin dan Selasa. Untuk keriuhannya sudah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya. Ribuan orang merayakannya dengan pulang ke kampung halamannya. Mudik. Saya yang tidak merayakan Lebaran, melaluinya dengan di rumah saja.
            Seperti juga tahun-tahun sebelumnya, tahun ini asisten rumah tangga kami pulang. Mbak Pon dan Mul, sepasang suami istri yang bekerja di tempat kami, pulang seminggu sebelum Lebaran. Mereka yang biasanya menjaga rumah kami supaya tetap bersih dan tidak kosong. Ketika mereka tidak ada, maka tugas-tugas yang biasa mereka lakukan harus diambil alih oleh yang punya rumah.
            Pada libur Lebaran tahun ini, adik-adik saya pulang kampung ke Palangkaraya. Saya dan Mamah yang menunggui rumah di Jakarta. Tugas-tugas rumah tangga kami kerjakan berdua. Kami pun tidur berdua di kamar yang sama, di kamar Mamah. Menurut pertimbangan saya, lebih baik kami bersama dari pada yang 1 ada di lantai 1, yang 1 ada di lantai 2, sedangkan rumah-rumah di sekitar kami juga kosong.

Menggelar Kasur di Depan TV
            Salah satu kegiatan yang paling sering saya lakukan di libur Lebaran kali ini adalah menonton TV. Ini sebenarnya penyimpangan dari kebiasaan saya sehari-hari yang lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca. Saat itu, saya bisa menonton TV dengan bebas. Tidak ada orang yang merebut remote TV atau menggantinya dengan saluran lain. Merdeka deh pokoknya!
            Saya juga menggelar kasur di depan TV. TV itu letaknya di ruang keluarga rumah kami. Di kasur ini, saya bisa leyeh-leyeh sesuka hati. Agak berbeda kasusnya kalau di rumah ada para asisten rumah tangga. Tidurannya agak-agak jaim terutama kalau ada si Mul.

Mengganti Gas dan Galon Air Minum
            Salah satu perjuangan kami hidup berdua saja di rumah adalah ketika tiba saatnya untuk mengganti tabung gas dan air minum dalam galon. Bebannya yang berat membuat saya tidak tega kalau Mamah ikut terlibat mengganti benda-benda ini dengan yang baru. Tapi saya sendiri ternyata punya keterbatasan. Saya tidak kuat mengangkut gas. Apalagi ketika waktunya mengganti tabung gas itu badan saya sedang sangat lemah karena masih dalam proses pemulihan setelah sakit.
            Untuk mengganti galon air minum, saya punya trik tersendiri. Saya menggelindingkan galonnya sampai ke dekat dispenser. Setelah dekat barulah mulai diproses. Sebelum mengangkat harus berkali-kali menarik napas panjang untuk menghimpun kekuatan. Selama liburan itu, saya berhasil mengganti 3 galon air minum.
            Di rumah kami yang besar itu, ada 3 dispenser galon air minum. Dua di lantai bawah, yang 1 lagi di lantai atas. Berhubung penghuni lantai atas hanya ada saya, maka saya pun mengusahakan supaya galonnya tidak perlu diganti. Saya mengambil minum di dispenser yang di lantai 1. Tekad untuk lebih banyak minum air putih kali ini menemui tantangannya. Kalau saya banyak minum, artinya air akan cepat habis. Tapi kalau tidak minum, maka target akan gagal.
            Saya dan Mamah menyepakati untuk menyiasati air minum ini. Kami merebus air keran dan menempatkannya di teko. Untuk minum air putih dengan suhu normal, kami akan meminum air putih dari teko. Air dispenser hanya untuk minuman panas dan dingin. Dengan cara ini, galon air minum itu bisa bertahan hampir seminggu. Lumayan gak perlu angkat berat hehehe....

Jarang Keluar Rumah
            Saat liburan itu, saya sangat jarang keluar rumah. Selain karena terikat dengan pekerjaan rumah tangga, saya juga malas untuk keluar. Rumah yang baru terasa menjadi milik sendiri itu cukup menghibur bagi saya. Tidak perlu untuk pergi ke tempat hiburan lagi. Apalagi tempat hiburan dipenuhi oleh banyak orang sampai bentuknya kaya cendol. Hii...males deh!
            Di hari Lebaran pertama saya sempat keluar rumah mengunjungi saudara dan kerabat yang merayakan Lebaran. Kunjungan ini dilanjutkan dengan kunjungan ke mall untuk membeli boneka pesanan keponakan. Bonekanya tidak terbeli karena ternyata tokonya tutup. Setelah itu kami pulang dan tidak keluar-keluar rumah lagi sampai 2 hari kemudian.
Suka di Rumah = Suka Jalan-jalan
            Saat itu, saya baru menyadari kalau ternyata kesukaan saya berada di rumah itu hampir sama besarnya dengan kesukaan berjalan-jalan. Betah rasanya tinggal di rumah sendiri tanpa ada banyak orang “asing” yang berlalu-lalang. Ternyata menyenangkan juga, ya, liburan di rumah. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini