Ana

Jumat, 22 Agustus 2014

21 Agustus 2014, Jalanan Lancar




            Tanggal 21 Agustus 2014 adalah tanggal yang dinanti-nantikan oleh banyak orang di negeri ini. Rencananya, jam 2 siang, Mahkamah Konstitusi akan membacakan keputusan mereka terkait gugatan pasangan capres dan cawapres Prabowo – Hatta Rajasa. Keputusan ini kabarnya akan disambut dengan demonstrasi besar-besaran oleh banyak pendukungnya.

            Sejak beberapa hari sebelumnya beredar kabar kalau lalu lintas di sekitar MK akan dialihkan. Lokasi MK yang berada di tengah kota itu membuat banyak orang khawatir kalau penutupan jalan itu akan berimbas ke mana-mana. Dalam hal ini kemacetannya.

            Pada hari Kamis itu, saya berangkat pagi hari menuju kantor. Jalan yang biasa saya lewati dekat dengan lokasi MK. Biasanya saya melewati Jalan Merdeka Selatan, yang tidak jauh dari Jalan Merdeka Timur, lokasi MK. Pagi itu, jalan ini belum ditutup, namun tanda-tanda penutupan jalan sudah terlihat. Kawat gulung berduri sudah terlihat di pinggir jalan.

            Setiba di kantor, TV sudah menyala. Siaran langsung dari TV yang sering terdepan mengabarkan terdengar ketika memasuki ruangan. Saluran TV ini, akhirnya diganti dengan TV lain atas kesepakatan bersama penghuni lantai ini. Terlalu sering menjadi terdepan mengabarkan tanpa dicek sulu kebenarannnya membuat banyak orang bertanya-tanya dan meragukan kebenaran siaran TV ini.

            Setelah jama makan siang, jam 2 siang, ketegangan makin memuncak. Di layar TV terlihat beberapa bentrokan antara massa dan petugas keamanan. Itu yang terlihat di luar ruangan, ya… Kalau di dalam ruangan MK, terlihat beberapa orang yang sedang mendengarkan pembacaan keputusan yang jumlahnya ribuan lembar itu. Konon kabarnya keputusan ini berjumlah lebih dari 4000 lembar dan dibacakan oleh 9 orang.

            Kabar-kabar kabur beredar. Ada yang mengabarkan kalau keputusan ini akan memicu kerusuhan seperti tahun 1998 yang lalu. Kerusuhan ini sangat mengerikan dan sampai saat ini masih banyak kejahatan yang berlum terusut dengan tuntas. Ketakutan merebak di kalangan orang yang menjadi saksi hidup dari kerusuhan ini. Untuk generasi yang saat itu masih kecil atau belum lahir, kerusuhan itu malah terdenagr semakin mengerikan karena cerita nyata sudah berkembang menjadi cerita berbumbu menyeramkan.

            Kekhawatiran itu membuat banyak pihak mengambil langkah antisipasi dengan memulangkan pekerjanya lebih awal. Teman-teman yang bekerja tak jauh dari lokasi MK sudah sejak siang diizinkan untuk pulang. Di lokasi lainnya pun banyak yang mengambil langkah serupa. Pekerja boleh pulang lebih awal dibandingkan dengan jam kerjanya yang biasa.

            Teman-teman di kantor juga meninggalkan kantor lebih cepat. Saya tadinya tidak berniat untuk pulang cepat. Kalau semua orang pulang cepat dan banyak ruas jalan yang ditutup, kemungkinan akan terjadi kemacetan yang luar biasa. Saya lebih memilih untuk pulang lebih malam saja. Namun akhirnya saya tetap meninggalkan ruangan ketika sudah tidak ada lagi orang yang tertinggal di sekitar saya.

            Perjalanan pulang berjalan lancar. Jalan yang biasa saya tempuh lowong. Ada beberapa ruas jalan yang ditutup ketika mendekati gedung MK. Lalu lintas di jalan yang ditutup ini dialihkan ke jalan besar lain yang cukup saya kenal juga. Jalan Juanda menuju Pasar Baru, yang biasanya cukup padat, kali ini kosong. Mungkin banyak orang yang takut untuk mendekati daerah itu, daerah yang dulunya pernah menjadi ajang penjarahan besar-besaran yang dibiarkan saja oleh para penjaga keamanan. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini