Ana

Jumat, 25 Juli 2014

Penjual Ketan Ini Minta Dibayar




                Memotret di sebuah acara yang ramai dikunjungi oleh orang adalah hal yang biasa saya lakukan. Selain karena suka, memotret juga berguna untuk melengkapi tulisan, baik tulisan yang sering saya terbitkan di blog ini, maupun tulisan yang saya kirimkan ke beberapa media di mana saya turut menjadi kontributor.
                Ketika tiba di sebuah pekan raya, Pekan Raya Jakarta yang diadakan di Monas, saya langsung mengeluarkan kamera merah saya. Saya segera memotret tak lama ketika melangkahkan kaki ke dalam area pekan raya. Objek pertama saya adalah seorang penjual ketan bakar. Jajanan ini termasuk salah satu jajanan yang beredar di pekanraya selain kerak telor.
                “Bayar,” katanya sambil melotot.
                Saya yang kebingungan mendengarnya segera mengalihkan kamera saya sambil mengernyitkan kening. Mengapa juga mesti bayar, ya?
                “Kalo motret bayar,” katanya lagi.
                “Ah, gak mau,” kata saya sambil ngeloyor pergi.
                Saya memang tidak mau memotret orang jualan di pekan raya kemudian membayarnya sebagai model. Lebih baik saya mengambil objek yang lain daripada harus bayar untuk sesuatu yang tidak luar biasa alias biasa aja. Selain bapak itu, masih banyak orang lain yang menjual ketan bakar dan kerak telor di situ.
                Walaupun begitu, bapak ini tetap menarik bagi saya. Dari ribuan orang yang saya temui dan beberapa saya potret, hanya bapak ini yang meminta bayaran untuk memotret wajahnya. Seakan-akan dia adalah seorang model. Kalau banyak orang yang membayarnya untuk ketika dipotret, mungkin dia akan beralih profesi, tidak akan berjualan ketan bakar lagi. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini