Ana

Jumat, 11 Juli 2014

Gempuran Israel ke Gaza




            Selasa, 8 Juli 2014, Israel menggempur Gaza. Puluhan orang meninggal akibat gemburan ini. Dari korban yang meninggal, ada juga perempuan dan anak-anak, warga sipil yang harusnya dilindungi. Gempuran ini dikecam oleh orang-orang dari seluruh dunia, termasuk di Indonesia, negara yang akan mengadakan pemilihan presiden keesokan harinya.
            Kecaman oleh warga dunia itu banyak pula yang dicurahkan di media sosial. Kemarahan dan kutukan kepada Israel bertebaran di timeline saya. Kecaman itu juga disertai dengan “bukti” berupa link dari sebuah tulisan. Kadang-kadang disertai foto juga.

Foto Anak
            Dari foto yang disebarkan itu banyak pula foto anak-anak kecil yang berdarah-darah, bahkan yang sudah menjadi jenazah. Saya sendiri merasa marah melihat foto-foto ini. Ada orang yang tega membunuh anak kecil yang tidak bersalah dan tidak tahu persoalannya. Saya juga dapat memaklumi kalau banyak orang yang merasa marah pada serangan Israel itu.
            Belakangan, saya juga marah kepada orang-orang yang menyebarkan foto anak-anak yang sudah menjadi jenazah berdarah-darah itu. Menyebarkan foto anak-anak dengan kondisi seperti itu menurut saya sangat tidak etis.

Kecaman, Kutukan, Penghakiman
            Banyak sekali orang yang bereaksi atas penggempuran ini. Kebanyakan berupa kemarahan yang dikeluarkan menjadi kecaman dan kutukan. Tidak sedikit kecaman dan kutukan itu yang disampaikan melalui status media sosial.
Saya sendiri juga sempat berpikiran mau ngupdate status tentang kekejaman pada anak-anak ini. Namun akhirnya niat itu saya urungkan. Akal sehat saya melarang melakukan hal yang hampir tidak ada gunanya itu. Mengutuki kegelapan tidak akan membuat keadaan bertambah terang.
Kecaman dan kutukan banyak datang dari beberapa orang kenalan saya. Saya, yang juga tertarik dengan topik ini turut mengamati berita dan opini yang beredari di dunia maya. Makin lama, opini beberapa orang menjadi bergeser kepada konflik yang terkait agama. Heran juga mengapa hampir segala konflik di dunia selalu disangkutkan ke isu agama.
Tidak hanya soal agama, ada juga yang karena menganggap Israel kejam (saat ini), maka tindakan Hitler untuk memusnahkan Yahudi di zaman silam adalah tindakan yang terpuji. Nah, kalau yang ini benar-benar konyol. Bukankah Hitler juga kejam dengan membantai sesama manusia. Saya jadi prihatin dengan manusia yang tidak berkemanusiaan seperti ini. Seakan-akan pembantaian akan selesai dengan membalasnya dengan pembantaian juga. Bagaimana pun berbedanya kita dengan golongan/suku/bangsa/agama lain, kita tetap sama-sama manusia. Sekali lagi saya mengingatkan diri kalau mengutuk kegelapan itu tidak ada gunanya, hanya menghabiskan waktu dan tenaga saja.
Saya juga prihatin dengan penghakiman dan penyamarataan dengan menggunakan sudut pandang yang sempit. Setiap manusia itu unik, punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Hanya karena tindakan beberapa orang yang melakukan agresi bukan berarti seluruh dari bangsa mereka adalah orang kejam. Penghakiman dan menyalahkan dianggap wajar karena orang-orang tidak menemukan jawabannya untuk menyelesaikan konflik ini.

Bagaimana Bisa Membantu?
            Untuk umat manusia sedunia sebenarnya bisa membantu meringankan konflik ini. Kita bisa berdoa untuk perdamaian dunia, terutama di jalur Gaza yang sudah berabad-abad menjadi tempat pertempuran. Kita juga bisa memberikan bantuan berupa dana dan barang untuk lembaga kemanusiaan yang melayani di daerah ini. Untuk menghilangkan konfliknya? Itu sepertinya perlu waktu dan sumber daya jauh lebih banyak lagi.
            Beberapa teman lain juga mengadakan kampanye untuk memboikot beberapa produk yang dicurigai milik Israel. Kampanye ini juga disertai dengan logo produk-produk itu. Saya sendiri tidak yakin apakah benar merk-merk itu milik Israel, kemungkinan besar tidak juga. Banyak juga yang berstatus perusahaan terbuka yang bisa dimiliki oleh siapa saja. Mungkin ada beberapa merk yang dimiliki oleh orang keturunan Yahudi. Tapi apakah mereka mendukung agresi ke Gaza? Belum tentu juga. O iya, di logo-logo yang dianggap sebagai orang Israel itu, tidak ada Facebook, media sosial yang didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang Amerika keturunan Yahudi. Aneh juga, ya! Boikotnya enggak adil. Kalau mau boikot, mbok ya sekalian.
            Seperti yang sudah saya tuliskan, saya akan mendukung perdamaian di daerah ini dengan doa dan dana. Kapan saya berdoa? Sama siapa saja? Berikan dananya ke mana? Berapa banyak sumbangannya? Yeahh…untuk hal itu hanya saya dan Tuhan yang tau. Kalau masih ada yang mau tau banget, sepertinya harus kecewa. Lebih baik kalian juga membantu dengan doa dan dana. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini