Ana

Kamis, 17 Juli 2014

Etika Kepala Anak yang Terpenggal




            Beberapa hari yang lalu ketika membuka Facebook, saya kaget ketika melihat foto pertama yang ada di lini masa saya. Foto itu adalah foto kepala seorang anak yang berdarah-darah. Anak itu sudah jelas tidak lagi bernyawa. Badannya sudah terpisah dari kepalanya. Anak itu sudah meninggal.
            Ada beberapa kalimat yang menyertai foto ini. Kalimat itu adalah kecaman atas biadabnya orang yang membuat anak ini mati dan kehilangan kepalanya. Saya tidak melanjutkan membaca tulisannya. Kengerian dan juga kemarahan mendatangi saya. Menurut saya, menampilkan jenazah orang, apalagi anak-anak, dengan wajah berdarah-darah  seperti itu sungguh tidak etis.
            Teman saya yang menampilkan gambar menyeramkan yang tidak etis ini, ternyata menyebarkan (share) dari yang sudah diposting oleh orang lain. Alangkah kagetnya saya karena orang itu adalah istri seorang ustad yang cukup terkenal. Perempuan ini juga memiliki anak-anak. Huft! Mengagetkan. Masa, sih, dia enggak tahu etika?
            Belakangan saya baru berpikir mungkin maksudnya baik. Kebanyakan orang bermaksud baik, kok. Mungkin maksudnya untuk memberikan dukungan dan penghiburan kepada orang yang ditinggalkan. Mungkin maksudnya supaya orang yang melakukan kebiadaban itu tidak mengulanginya kepada anak lain. Mungkin maksudnya supaya banyak orang mendukung penghentian serangan yang mengakibatkan wafatnya anak itu. Mungkin…
            Mungkin keprihatinan saya dan dia sebenarnya sama saja, tapi beda cara mengungkapkannya. Sebagai bentuk pernghormatan orang yang sudah meninggal, saya sangat jarang posting foto jenazah, apalagi yang berdarah-darah. Rasanya, kok, tega banget, ya… {ST}

Popular Posts

Isi blog ini