Ana

Kamis, 03 Juli 2014

Apatis dan Apatih




            Seorang kenalan saya pernah mengajak untuk mengikuti acara deklarasi dukungan kepada salah satu kubu capres. Dukungan itu mengatasnamakan suku yang juga menjadi identitas saya. Saat itu saya tidak bersedia untuk ikut. Saya tidak sreg dengan kegiatan berkedok kebudayaan yang ditunggangi kepentingan lain. Apalagi kepentingan itu adalah untuk meraih kekuasaan.
            Kali lain, ada lagi yang mengajak untuk ikut acara deklarasi untuk mendukung capres dari kubu satunya lagi. Kali ini pun saya tidak bersedia untuk ikut, dengan alasan yang sama juga. Yang ini masih ditambah dengan pemikiran kalau 1 golongan/suku yang sama diklaim mendukung 2 capres yang berbeda, apakah nantinya tidak akan membuat masalah baru?
            “Jadi orang jangan apatis gitu, dong. Sekarang banyak orang muda yang apatis, nih!” kata si pengajak yang saya tolak ajakannya itu.
            Wajar saja kalau orang itu menganggap saya apatis. Saya tidak bersedia mendukung capres yang didukungnya, padahal dia juga tahu kalau saya tidak bersedia ikut kegiatan yang mendukung capres yang satunya lagi. Kalau menurut pemikiran kebanyakan orang di negeri ini, bila tidak memilih kandidat nomor 1, pasti memilih kandidat nomor 2. Pilihan itu biasanya diikuti dengan dukungan berupa update status Facebook dan kirim-kirim broadcast message tentang kelebihan calon yang didukung, atau aib calon lainnya.
Saya hampir tidak pernah memberikan dukungan dengan cara seperti ini. Bagi saya, kewajiban kita sebagai warga negara adalah memberikan suara kita untuk memilih pemimpin negara ini. Menjadi juru kampanye bukanlah kewajiban sama sekali. Dan saya, sudah tahu siapa yang akan saya pilih di pemilu tanggal 9 Juli nanti. Pilihan kita seharusnya rahasia. http://www.anatoemon.com/2014/07/pilihan-kita-seharusnya-rahasia.html
Saya juga keberatan bila dukungan mengatasanamakan suku atau golongan tertentu. Lebih keberatan lagi kalau mengatasnamakan kesenian dan kebudayaan. Seakan-akan merekalah yang membuat kesenian dan kebudayaan bertambah maju. Kesenian dan kebudayaan sudah ada dan akan tetap ada siapapun yang jadi presiden.
            Bagaimana saya bisa memutuskan untuk mendukung salah satu capres kalau tidak pernah datang ke deklarasi kampanyenya? Yeah…itu, kan, hal yang mudah sekali di jaman sekarang ini. Saya tinggal membaca visi misinya, nonton debatnya, lihat rekam jejaknya dan membaca media yang pemberitaannya netral. Enggak perlu ikut berdesakan di depan panggung kampanye dan ikut dangdutan.
            Harus diakui, ditolak memang enggak enak. Mungkin itulah sebabnya saya “dimarahi” karena menolak ajakan dan dianggap apatis. Pertanyaan penting untuk orang-orang yang menganggap saya apatis adalah… “Apa tih loe?”{ST}

Popular Posts

Isi blog ini