Ana

Rabu, 09 Juli 2014

Andar Ismail dan Seri Selamat




            Pada hari Sabtu, 5 Juli 2014, saya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Andar Ismail, salah seorang penulis yang tulisannya turut mempengaruhi cara saya menulis. Pak Andar adalah penulis buku seri Selamat. Buku ini sudah diterbitkan sebanyak 25 seri. Hari itu, 5 Juli 2014 adalah peluncuran paket buku Seri Selamat. Dalam 1 paket ini, ada 25 buku Seri Selamat mulai dari yang pertama sampai yang terakhir.

Tulisan Tangan
            Dalam pertemuan ini, Pak Andar menceritakan cara dia menulis dan mengarang. Ternyata, buat dia, menulis dan mengarang itu berbeda. Mengarang biasanya dia lakukan di pagi hari, di mana pun dia berada. Karangan itu berada di pikirannya sampai kemudian dituliskannya. Dituliskan ini dalam arti yang sebenar-benarnya, ditulis dengan menggunakan tulisan tangan.
            Lebih uniknya lagi, pikiran yang dituliskannya itu tidak bisa asal keluar. Pikiran itu hanya bisa keluar ketika dituliskan di balik kertas bekas. Pikiran yang dituangkan menjadi tulisan itu tidak langsung jadi dan siap diterbitkan. Ketika menuliskan pikirannya, bisa jadi ada muncul ide baru untuk tulisannya itu. Setelah itu, belum tentu pula tulisan itu bisa dianggap jadi. Ketika dibaca-baca lagi dan ada yang perlu diubah atau ditambah.

33 Bab Ringkas
            Buku Seri Selamat selalu berisi 33 bab. Masing-masing bab isinya tidak terlalu panjang. Bisa dihabiskan dalam sekali duduk membaca. Caranya yang ringkas dan langsung menghabiskan bab itulah yang turut mempengaruhi saya. Hasilnya bisa dilihat dalam tulisan-tulisan di blog ini.
            Banyaknya bab yang selalu 33 juga membuat penasaran. Awalnya saya cukup yakin angka 33 ini adalah simbol dari 33 tahun kehidupan Yesus di dunia ini. Ternyata enggak juga, lo. Buku Selamat seri-seri awal kabarnya pernah terbit dengan 40 bab, 35 bab, dll. Setelah melalui proses revisi, hasil akhirnya adalah 33 bab. 33 bab inilah yang kemudian menjadi ciri buku ini.

Tanya Jawab Pake Kertas
            Dalam acara ini, disediakan sesi untuk tanya jawab. Yang mau bertanya, dipersilakan untuk menuliskannya di kertas ukuran A6 yang diberikan. Pak Andar membacanya dan langsung memberikan jawabannya. Kalau ada pertanyaan yang mirip dan sudah terjawab, maka tidak perlu diulang.
            Dari pertanyaan yang sampai ke Pak Andar, banyak juga pertanyaan teknis dan pribadi. Kalau pertanyaan teknis, misalnya tentang penerbitan, masih terkait dengan buku. Kalau soal pribadi, kok rasanya agak aneh untuk ditanyakan, ya… Sebenarnya tidak bisa disalahkan juga, sih. Di Indonesia ini orang-orang sudah terbiasa membicarakan masalah pribadi orang lain. Jadi kalau ada yang menanyakan hal pribadi bisa dianggap biasa saja.
            Cara bertanya dengan menggunakan kertas tertulis ini saya pikir cukup efektif, terutama untuk acara-acara seperti ini. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada semua pihak, hampir semua acara yang berhubungan dengan teologi selalu menjadi ajang curhat orang-orang yang memegang mikrofon. Kadang-kadang jadi semacam khotbah mini. Curhat yang biasanya menghabiskan waktu itu membuat kesempatan bertanya bagi orang lain menjadi berkurang.

Pengalaman Pribadi
            Kebanyakan tulisan Pak Andar bersumber dari pengalaman pribadinya sendiri. Berawal dari masa kecilnya yang dibantu oleh diakoni gereja, Pak Andar terbiasa hidup sederhana. Kehidupannya mengajarkan banyak hal yang menjadi inspirasinya. Pelajaran dari khidupan itu makin bertambah ketika dia menjadi pendeta jemaat di GKI Samanhudi.

Penggemar Setia
            Buku Seri Selamat ternyata memiliki penggemar setia. Beberapa orang penggemarnya turut datang dalam pertemuan di hari Sabtu pagi itu. Mereka sudah mengikuti semua tulisan Pak Andar. Mereka tahu apa saja yang menjadi topik bahasan Pak Andar. Bahkan, ada yang menjadikan Seri Selamat ini sebagai topik untuk disertasinya. Wahhhh!!!!
            Kalau dibandingkan dengan mereka, para penggemar setia, saya adalah penggemar biasa. Tidak semua buku Pak Andar pernah saya baca. Kebanyakan yang saya baca pun, saya pinjam di perpustakaan gereja. Karena itu pula, ketika para penggemar sibuk mendatangi Pak Andar untuk berfoto bersama dan minta tanda tangan, saya enggak ikutan. Itu lebih karena saya enggak bawa buku buat dia tanda tangani, sih. Hehehe…. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini