Ana

Selasa, 01 Juli 2014

Anak yang Dibiarkan Membedakan SARA




            Suatu kali, saya pernah mendengar seorang anak yang dengan polosnya mengatakan hal yang kurang pantas tentang seorang calon presiden. Yang dia katakan bahwa orang tersebut tidak baik karena diduga keturunan etnis tertentu dan diduga tidak memiliki agama yang sama dengan si anak itu. Orang tuanya, yang berada di dekatnya membiarkan saja “siaran” anaknya itu.
            Pantaslah bila saya menduga kalau orang tuanya juga berpandangan sama seperti anaknya itu. Bagaimana mungkin anak sekecil itu sudah memiliki pandangan yang membeda-bedakan SARA seperti itu? Dari ucapannya sudah tertangkap maksudnya kalau ada orang dari etnis atau memeluk agama tertentu, maka mereka boleh direndahkan.
            Hasil tak sengaja nguping itu kembali teringat ketika saya melihat foto hitam putih seorang anak yang menggunakan pakaian tudung putih, KKK. Organisasi yang menganggap etnis berkulit putih sebagai yang terbaik ini sangat memusuhi orang berwarna kulit yang berbeda. Anak kecil bertudung putih itu tentunya tumbuh dengan pengertian dan kebencian seperti itu. Semoga anak kecil itu tumbuh besar menjadi seorang pembawa damai.
            Pembiaran membeda-bedakan SARA itu tampaknya tidak hanya dilakukan oleh ortu anak kecil yang siaran tadi. Pembiaran itu sudah dilakukan oleh banyak pihak yang seharusnya bisa melakukan hal yang lebih baik. Perilaku membedakan SARA itu seperti ilalang, akan tumbuh lebat bila dibiarkan saja. Kalau tidak ada pihak berwenang yang menyatakan bahwa itu tidak benar dan tidak baik, orang-orang dewasa yang cerdas dan seharusnya dapat menggunakan otaknya juga akan melakukan hal ini tanpa rasa bersalah. Damai di dunia hanya akan menjadi mimpi belaka.
            Membeda-bedakan orang berdasarkaan SARA saat ini sedang terjadi di sini, di negeri ini. Perilaku ini menjadi menular dan balas membalas. Seperti yang saya katakan di paragraf sebelumnya, pembiaran yang membuat perilaku ini bertambah subur. Pembiaran ini hanya akan menimbulkan perpecahan. Perpecahan yang sama seperti devide et impera pada jaman penjajahan. Kalau dulu, sudah jelas para penjajah mau memecah bangsa terjajah. Kalau sekarang? Siapakah penjajahnya? Siapakah yang dijajah? Gaje, deh. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini