Ana

Minggu, 15 Juni 2014

Memelihara Jeruk Seperti Memelihara Bayi




            Mengunjungi kebun jeruk yangbenar-benar ada jeruknya adalah sesuatu yang menarik bagi saya.  Kunjungan yang ditemani oleh si pemilik kebun ini bertambah menarik karena saya bisa mengambil jeruk sepuasnya di kebun ini.
            Melihat pohon-pohonjeruk yang berbuah banyak, saya berpikir bertanam jeruk itu mudah. Tinggal bertumbuh, kemudian dipetik buahnya ketika sudah matang. Namun, kenyataannya ternyata tidak begitu. Menurut sang pemilik kebun jeruk, merawat jeruk hampir sama seperti merawat bayi. Rewel.
            Kerewelan tanaman jeruk sudah dimulai sejak kecilnya. Tanaman ini kalau sampai dirubung semut, akan mati dan tidak bis abertumbuh dengan baik. Kerewelan terus berlanjut sampai masa remaja dan dewasanya. Lalat buah dan aneka hama membuat petani jeruk harus tetap waspada dan siaga. Tanaman liar di sekitar pohon jeruk juga harus secara rutin disingkirkan.
            Hawa lembab di pegunungan Tanah Karo, tempat kebun jeruk yang saya kunjungi itu, membuat jamur bisa bertumbuh cepat dengan suburnya. Jamur juga menjadi musuh bagi bayi yang rewel ini.
            Dengan semua usaha meladeni kerewelan pohon jeruk, panen tentunya disambut dengan gembira. Kegembiraan panen jeruk di tahun ini sedikit berkurang karena adanya letusan Gunung Sinabung. Abu vulkaniknya yang lengket membuat jeruk-jeruk ini kumat rewelnya. Harga pasarannya pun menjadi jatuh. Semoga panen berikutnya bisa lebih baik lagi. {ST}


Popular Posts

Isi blog ini