Ana

Senin, 16 Juni 2014

Debat Capres 15 Juni 2014




            15 Juni 2014 adalah hal yang dinanti-nantikan oleh banyak orang. Pada hari Minggu malam akan diadakan debat capres. Debat ini adalah yang kedua kalinya disiarkan langsung oleh TV. Debat yang pertama, dilakukan oleh capres dan cawapres. Untuk debat kali ini, hanya capres yang berbicara.
            Tidak seperti debat pertama yang tidak saya simak dengan baik, untuk debat kali ini saya turut mencermati jalannya mulai dari awal sampai akhir. Saya bahkan juga mencari tahu tentang moderatornya dari internet. Moderator di debat pertama, yang melarang penonton bertepuk tangan itu, digantikan oleh Ahmad Erani Mustika, seorang guru besar bidang ekonomi dari Universitas Brawijaya. Sangat cocok dengan yang diperdebatkan kali ini, yaitu bidang ekonomi.

Lebih Santai
            Menurut saya, debat kali ini lebih santai dari sebelumnya. Kedua kandidat makin lama makin menunjukkan gaya khasnya masing-masing. Kegugupan yang terlihat dari wajah mereka ketika menanti tidak lagi terlihat. Kertas “contekan” juga tidak ada yang terlihat menyelip di pakaian kedua capres ini.
            Kedua capres juga bisa menggunakan waktu yang disediakan dengan baik. Penyampaian pertanyaan dan tanggapan tidak ada yang terlalu bertele-tele sampai harus dihentikan oleh moderator.

Kartu dan Anggaran Bocor
            Kata-kata yang paling saya ingat dari perdebatan ini adalah “kartu” dan “anggaran bocor”. Wajar saja kalau kata-kata ini yang paling diingat. Kata-kata ini berkali-kali diucapkan oleh masing-masing capres. Kartu oleh capres nomor 2. Anggaran bocor oleh capres nomor 1. Khusus anggaran bocor, juga disertai dengan kutipan pernyataan ketua KPK tentang jumlah kebocoran anggaran negara.

Ekonomi Kreatif
            Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah pengembangan ekonomi kreatif. Hal yang dilontarkan oleh Pak Jokowi ini kemungkinan adalah satu-satunya hal yang disetujui oleh Pak Prabowo dalam debat kali itu. Pak Prabowo bahkan mengatakan kalau kali ini dia terpaksa tidak mengikuti nasehat para penasehatnya untuk selalu menentang apa yang dikatakan Jokowi. Entah karena anak tunggal Pak Prabowo menjadi seorang fashion designer (yang artinya bergerak di bidnag ekonomi kreatif), atau karena dia memang sepaham untuk mengembangkan bidang ini. Kedua capres ini bersalaman menyatakan kesetujuan di panggung debat yang seharusnya menjadi panggung tempur itu.
            Saya sendiri sudah lama mencoba bergerak dalam bidang ekonomi kreatif. Saya pernah berusaha di bidang kerajinan dan pemasarannya. Usaha saya ini mentok di pemasaran dan produksinya. Ketika akhirnya saya harus membuat pilihan untuk sedikit berbelok, saya belum meninggalkan impian untuk memiliki usaha sendiri kelak. Dengan makin besarnya dukungan pemerintah, semoga jalan saya untuk menjadi pengusaha di bidang kreatif menjadi terbuka.

Corong yang Biasanya Buat Panggilan Beribadah Itu…
            Ketika debat ini belum lagi selesai, corong rumah ibadah di dekat rumah kami berbunyi. Corong yang biasanya digunakan untuk panggilan beribadah dan berdakwah itu kali ini digunakan untuk marah-marah dan mengeluarkan sumpah serapah. Yang dimarahi dan disumpahi adalah salah seorang capres yang berdebat.
            Saya tidak pernah keberatan mendengar suara adzan panggilan beribadah dan juga khotbah dari dari rumah ibadah agama lain. Tapi kalau isinya marah-marah dan sumpah serapah di malam hari hampir tengah malam? Wah, betul-betul mengganggu pendengaran. Sumpah serapah yang kemungkinan besar berisi fitnah itu betul-betul tidak menyuarakan kedamaian. Saya rasa ini adalah penyalahgunaan fungsi pengeras suara itu. Mana ada agama di dunia ini yang mengajarkan marah-marah, sumpah serapah dan fitnah kaya gitu.
            Saya mengatasi polusi suara ini dengan mendengarkan lagu-lagu yang ada di HP saya. Bersyukur juga saat ini HP tidak hanya untuk menelpon dan mengirimkan pesan. Saya memutar lagu dengan volume cukup keras sampai akhirnya jatuh tertidur.

Debat Setelah Debat
            Setelah debat capres ini, masih ada jutaan debat lanjutannya di antara pada pendukung kedua kubu. Debat ini makin menjadi-jadi dengan adanya media sosial. Debat dilakukan terbuka dengan lawan siapa saja yang mau meladeni. Saya termasuk orang yang tidak mau meladeni debat seperti ini.
            Saya juga tidak bersedia mendengar debat orang-orang lain yang disiarkan TV dengan bahasan debat capres ini. Apalagi kalau orang yang memberikan pendapat itu tidak kompeten di bidang yang diperdebatkan, dalam hal ini bidang ekonomi, wah itu waktunya menngganti chanel TV. Saya juga biasanya diam-diam menjauh kalau ada kumpulan yang biasanya rukun, aman, dan damai, tiba-tiba saling bersitegang dalam debat memperdebatkan debat capres.
            Masih akan ada 3 debat lagi sebelum pemilu tanggal 9 Juli 2014. Semoga debat-debat yang akan diadakan itu bisa membuat lebih jelas visi dan misi pasangan capres dan cawapres yang akan bertanding itu. Semoga juga rakyat Indonesia cukup bijak dan tetap saling menghormati orang yang berbeda pendapat dengannya. Semoga selalu ada damai di negeri ini. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini