Ana

Senin, 07 April 2014

Kampanye Naik Kuda Seperti Pangeran Diponegoro




            Di sebuah negeri yang akan memilih kepala negaranya, ada seorang lelaki yang berambisi menduduki jabatan itu. Dia sangat yakin kalau dia adalah orang yang tepat menduduki jabatan itu. Keyakinannya juga ditularkannya kepada banyak orang yang tergabung dalam partainya.
            Pada saat masa kampanye, lelaki ini dengan percaya diri memasuki arena dengan kudanya yang gagah. Kuda, yang saat ini bukan lagi menjadi alat transportasi umum, menarik perhatian warga yang datang. Orang banyak mengerumuni dan mengagumi sang kuda gagah dan penunggangnya.
            Konon kabarnya, sang penunggang kuda ini adalah keturunan Pangeran Diponegoro, seorang pahlawan yang hampir selalu digambarkan dengan kudanya. Pangeran dari tanah Jawa ini adalah orang yang pantang menyerah melawan penjajah sampai akhir hayatnya. Apakah maksudnya si penunggang kuda ini juga memiliki semangat yang sama?
            Konon kabarnya pula, sang penunggang kuda ini memang pengagum kuda. Tidak hanya mengagumi, dia juga sangat menyayangi kuda-kuda peliharaannya. Kuda-kuda itu dibersihkan dan disikat bulunya. Bila ada pengurus kudanya yang bekerja tidak beres, maka dia tidak akan segan-segan melakukan kekerasan pada orang tersebut.
            Kuda yang memasuki arena kampanye dengan gagahnya itu mungkin menggugah banyak orang untuk makin mengagumi sang penunggang kuda. Namun, kekaguman itu tidak berlaku bagi saya. Saya justru teringat pada kabar kekerasan yang dilakukannya pada pengurus kudanya. Saya pun teringat pada kabar penculikan dan penembakan yang diperintahkan sang penunggang kuda. Saya juga teringat pada patung Pangeran Diponegoro yang kurang terawat di dekat Tugu Monas. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini