Ana

Jumat, 28 Maret 2014

Mengomentari Komentar Rasis




            Saya cukup sering membuka situs berita. Selain untuk tahu berita terkini, kadang-kadang juga untuk mencari ide tulisan. Setelah membaca berita, biasanya saya langsung beralih ke bacaan lainnya. Saya sangat jarang membaca komentar yang ada di bawah berita. Selain karena kurang peduli pada pendapat orang lain, juga karena biasanya komentar itu enggak ada gunanya.
            Bila beritanya terkait soal agama atau suku, komentar yang mengiringinya juga tak jauh dari itu. Komentar-komentar itu kadang-kadang saling menjelekkan orang yang beragama atau bersuku lain. Menurut saya, orang-orang yang seperti ini pikirannya sangat sempit dan penuh kebencian. Betul-betul komentar yang tidak berguna.
            Suatu kali, saya pernah terpancing untuk mengomentari komentar yang sangat rasis. Komentar yang sangat merendahkan orang lain yang bukan 1 suku dengan komentator. Saya sudah mengetik komentar yang saya yang mencela komentar ini. Saya mengomentari betapa orang ini kurang dapat menggunakan otaknya dengan baik. Keberagaman dunia hanya dipandang sebagai seragam.
            Ketika di saat-saat terakhir mau mengirimkan komentar itu, saya membatalkannya. Komentar itu tidak pernah terkirim di situs berita itu. Tidak hanya membatalkan mengirim, saya juga menghapusnya. Saat itu, tiba-tiba timbul pikiran tidak ada gunanya menanggapi orang yang seperti itu. Ada juga pikiran, apakah saya seorang pengecut? Saya selalu membuat tulisan dan komentar dengan nama asli saya. Apakah nantinya kebencian manusia rasis itu akan menghampiri saya dengan melacak nama asli saya? Entahlah.
            Saat saya membuat tulisan ini, saya menjadi makin yakin, kalau menanggapi orang yang tidak perlu ditanggapi itu rasanya pilihan yang tepat. Terserah dia saja untuk menggunakan waktu dan pikirannya untuk membenci orang yang berbeda dengan dia. Saya tidak perlu memberikan reaksi apa pun. Iya, kan? {ST}

Popular Posts

Isi blog ini