Ana

Sabtu, 30 November 2013

Hari Pahlawan di GKI Kwitang




                Hari pahlawan, yang jatuh tanggal 10 November di tahun 2013 ini jatuh di hari Minggu. Harinya ke gereja. GKI Kwitang, juga turut merayakannya dalam ibadahnya. Peristiwa ini tidak terjadi setiap tahun. Rasa-rasanya, baru kali ini hari pahlawan dirayakan di gereja.
                Perayaan ini dilakukan dengan ibadah alternatif, agak berbeda dengan liturgi yang biasa digunakan. Di dalam liturgi ada pula disisipkan semangat juang para pahlawan kita, kisah yang diadaptasi dari tahun 1945. Para pelayan ibadah menggunakan pakaian yang bernuansa perjuangan kemerdekaan.


 Drama Merdeka
                Menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ibadah ini adalah drama yang diperankan oleh jemaat GKI Kwitang. Jemaat yang kebanyakan remaja ini berakting di bawah koordinasi Mas Josh. Mereka berlatih berkali-kali untuk dapat memerankannya dengan baik.
               
 Drama yang dilakonkan tidak hanya untuk merdeka dari penjajah di masa-masa perebutan kemerdekaan dulu, tapi juga merdeka dari musuh saat ini. Saat ini, penjajah kita tidak lagi berupa manusia Eropa yang dapat dengan mudah kita kenali. Musuh kita lebih banyak tidak terlihat. Kolupsi, korupsi dan nepotisme adalah musuh yang cukup terkenal, sampai-sampai ada singkatannya.
Kegiatan ibadah kreatif di GKI Kwitang bisa dilihat pada foto-foto ini. {ST}





Suka Menyanyi dan Bersuara Bagus Adalah Hal yang Berbeda




            Cukup sering saya bertemu dengan orang-orang yang suka menyanyi. Entah menyanyi untuk mengisi waktu ataupun juga menjadikannya sebagai profesi. Umumnya orang-orang ini bersuara bagus alias merdu. Mereka juga biasanya sudah tahu bagaimana trik mengatur napas sehingga suara yang dihasilkan betul-betul optimal.
            Namun ada kalanya saya juga bertemu dengan orang yang suka menyanyi tapi suaranya tidak merdu. Ada yang suaranya sumbang, ada juga yang suaranya jelek. Jelek atau bagus itu memang relatif tergantung selera orang. Apa yang jelek atau bagus menurut saya, mungkin saja berbeda menurut pendapat orang lain.
            Baru-baru ini saya bertemu dengan orang yang suka menyanyi namun suaranya jelek sekali. Sekali lagi ini menurut pendengaran saya, lo. Rasanya saya sampai hampir menutup telinga ketika dia mulai bernyanyi. Suara seraknya memang tidak sumbang, tetapi sangat mengganggu konsentrasi. Walaupun begitu, rasanya saya tidak tega mengatakan kalau suara dia jelek dan sangat mengganggu.
Saya makin tidak tega karena dia bercerita pernah beberapa kali mengikuti kontes idola yang seleksinya menggunakan audisi. Dia belum berhasil lolos menjadi pemenang. Kemungkinan, itu karena selera jurinya agak mirip seprti saya. Selera yang tidak menyukai suara serak yang terlalu keras ini. {ST}

Daun Cantik #335





Jumat, 29 November 2013

Ternyata Ular Tidak Takut Garam




            Saya terkejut ketika membaca sebuah artikel kecil di sebuah majalah. Di artikel tersebut dikatakan kalau ular ternyata tidak takut garam. Wah! Berarti selama ini saya salah. Saya pikir ular takut garam. Pengetahuan ini berasal dari masa kecil saya ketika saya berkemah.
            Berkemah adalah salah satu kegiatan masa kecil saya yang cukup berkesan. Halaman yang cukup luas membuat kami sering menginap di halaman di dalam tenda kami. Berkemah juga menjadi bagian kegiatan Pramuka yang saya ikuti saat duduk di bangku SD dan SMP.
            Setelah mendirikan kemah, hampir pasti yang kami lakukan adalah menaburkan garam di sekitar tenda. Kadang-kadang, kami menggali parit kecil di sekitar tenda. Parit itu gunanya supaya garam yang kami taburkan tidak “lari”. Garam ini kami yakini akan menjauhkan kami dari ular, cacing dan binatang melata lainnya.
            Itu pula yang saya lakukan ketika saya bertumbuh dewasa. Ketika bertemu dengan ular, cacing atau binatang melata lainnya, garam menjadi andalan saya sebagai senjata pertahanan. Dengan tenang saya membubuhkangaram dapur ke seekor ular kecil yang nyasar ke rumah kami. Kala itu, jurus garam ini cukup ampuh. Ular kecil yang malang itu menggeliat dan akhirnya tidak bergerak lagi. Keeseokan harinya, ular itu mengering. Kejadian ini menambah keyakinan saya kalau garam adalah jurus yang ampuh untuk melawan ular.
            Membaca artikel tentang ular yang tidak takut garam membuat saya mengingat-ingat kembali pengalaman saya bertemu dengan ular. Ternyata, kalau ularnya besar, saya lebih memilih ngabur sambil berteriak-teriak daripada membubuhkan garam. Saya memang belum pernah membuktikan ular (terutama yang besar) takut garam.
            Mungkin, dan memang sudah seharusnya, penulis artikel itu mempelajari dulu topik yang akan ditulisnya. Melakukan cek, ricek dan ricek lagi (seharusnya) adalah kewajiban setiap jurnalis. Mungkin juga memang benar kalau ular itu tidak takut garam. Itu menjadikan garam buklanlah jurus pertahanan yang ampuh lagi. Sepertinya saya juga harus memikirkan jurus lain selain ngabur sambil teriak-teriak ketakutan ketika melihat ular. {ST}

Daun Cantik #334





Kamis, 28 November 2013

Virtual Office




            Virtual office saat ini makin banyak digunakan. Hal ini untuk menyiasati biaya untuk biaya operasional kantor yang cukup besar. Pekerjaan bisa dilakukan di mana saja tanpa harus berkantor di suatu tempat. Internet dan jaringan komunikasi lainnya adalah perlengkapan mutlak yang harus ada.
            Beberapa kantor yang menggunakan virtual office, ada yang menyewa alamat kantor di pusat-pusat bisnis terkemuka. Alamat di daerah terpandang turut juga menaikkan gengsi perusahaan tersebut.
            Virtual office ini menarik perhatian saya karena pekerjaan saya sendiri sebenarnya bisa dilakukan dengan menggunakan virtual office. Pekerjaan yang dilakukan online bisa dilakukan di mana saja. Virtual office makin menarik ketika saya melihat beberapa iklan penyewaan virtual office di beberapa media. Saya juga mendengarnya di radio. Maka saya pun mencari tahu apakah itu virtual office.
            Beberapa perusahaan jasa yang menyewakan alamat untuk diguanakan sebagai virtual office ternyata memang sudah ada. Alamat yang 1 itu disewakan kepada beberapa pihak yang memerlukan. Alamat ini tidak berupa alamat fiktif tanpa kantor, tapi benar-benar berupa kantor. Seperti layaknya kantor-kantor, kantor ini juga dilengkapi dengan resepsionis dan ruang meeting. Ruang meeting itu bisa digunakan bergantian oleh penyewa. Untuk menghindari jadwal yang bentrok, tentunya harus booking ruangan dulu.
            Bila ada telepon yang masuk, maka langsung diarahkan ke penyewa. Atau bisa juga diterima oleh resepsionis. Tergantung perjanjiannya. Pokoknya, operasional kantornya seperti layaknya kantor biasa.
            Selain kelebihannya yang mengurangi sangat banyak biaya kantor, virtual office ini juga membuaka kemungkinan disalahgunakan. Bisa saja ada yang menggunakannya untuk kantor fiktif, kantor yang sebenarnya tidak pernah ada.
            Yang jelas, untuk pekerjaan yang sering saya lakukan, penggunaan virtual office sungguh sangat efektif. Tidak terikat dengan suatu tempat menjadi nilai tambah bagi saya. Pikiran juga menjadi tidak jenuh sehingga saya bisa lebih banyak berkarya. {ST}

Daun Cantik #333





Rabu, 27 November 2013

Telur Asin Bu Manado




            Untuk selera makanan, saya lebih suka makanan yang rasanya asin bila dibandingkan dengan yang manis. Salah satu menu yang selalu bisa saya nikmati adalah telur asin. Telur asin ini, cara penyajiannya hampir selalu begitu-begitu saja. Telur asin rebus yang dibagi menjadi 2 bagian. Cara membaginya pun harus di bagian sisi panjangnya. Kabarnya, ini supaya kedua bagian telur itu besarnya sama.
            Ada yang berbeda pada penyajian telur asin di kantin kantor Gramedia Majalah. Telur asin yang dijual oleh Bu Manado itu dimasak dalam cetakan berbentuk kotak. Masaknya dengan cara dikukus dan diberi cabe rawit. Rasa pedas memang ciri khas masakan Manado. Rasa itu pula yang menambah sedapnya telur asin ini.
            Tentu saja telur asin ini menjadi salah satu pilihan saya ketika hendak membeli makan di kantin. Telur asin Bu Manado ini adalah salah satu makanan terenak di kantin ini. Saya juga menceritakan tentang menu ini ke saudara-saudara saya.
            Saya pernah berniat untuk membelinya dan membawanya pulang. Ternyata yang menyukai telur asin ini tidak hanya saya. Telur asin itu biasanya hampir selalu habis ketika jam makan siang. Jadi saya hanya bisa menceritakannya dengan memotretnya, seperti juga saya ceritakan di blog ini. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini