Ana

Rabu, 16 Oktober 2013

Kopi Encer



            Saya cukup sering meminum kopi. Tampaknya saya sudah terjerat oleh candu kafein. Saya minum kopi hampir setiap hari. Jerat kopi makin terasa kencang ketika bertemu dengan orang-orang lain yang juga peminum kopi. Kami sama-sama berbagi cerita tentang kopi kami.
            Setiap orang, hampir selalu memiliki ciri khas dalam menikmati kopinya. Kopi dengan merk yang sama dan diseduh dengan perlengkapan yang sama, yang hasil akhirnya telihat sama, tetap saja ada bedanya. Beda di cara menikmatinya.
            Menurut beberapa orang yang mengamati cara saya menikmati kopi, kopi yang saya nikmati dianggap sebagai kopi encer. Kalau dibandingkan dengan cara beberapa orang lain, bisa dibilang memang begitu. Saya adalah penikmat kopi encer.
            Di rumah, saya menyeduh 1 sachet kopi instan dengan menggunakan 1 mug besar yang volumenya hampir 1 ½ kali gelas kecil. Kopi seduhan saya ini tentu saja akan menjadi lebih encer dibandingkan kopi seduhan di warung kopi. Selera lidah saya yang tidak terlalu suka rasa manis juga mendukung cara penyajian seperti ini.
            Di kantor, tempat saya sering menumpang untuk berkarya, cangkir yang disediakan ukurannya kecil. Volumenya mungkin hanya setengah dari mug yang biasa saya gunakan di rumah. Karena itulah, saya sering membagi 2 isi sebuah sachet. Setengah sachet saya seduh dalam 1 cangkir. Setengahnya lagi saya nikmati kemudian. Kadang-kadang yang setengahnya lagi itu baru saya minum keesokan harinya.
            Dengan 1 sachet dibagi menjadi 2 cangkir, tentu saja yang akan tercipta adalah kopi encer. Akhir-akhir ini rasanya kopi yang dikemas dalam 1 sachetnya menjadi berkurang, sehingga kopi yang saya buat malah menjadi kopi encer banget. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini