Ana

Rabu, 31 Oktober 2012

Warung Sate Lumayan




            Biasanya, yang namanya tempat makan, selalu mengaku yang paling enak. Atau, kalaupun rasanya sama-sama aja, banyak yang mengaku menjadi yang pertama. Dan ini berlaku hampir di mana saja di muka bumi ini.
            Suatu kali, dalam perjalanan (yang terpaksa) perlahan di saat menjelang malam, ada sebuah tempat makan yang unik. Warung makan pinggir jalan ini sangat menarik perhatian saya. Bukan menarik karena tampilannya, tapi karena namanya yang unik. Namanya, warung sate “Lumayan”.
Sampai saat ini, saya belum pernah mencoba makan di warung sate itu. Selain karena saya jarang melewati tempat itu, saya juga tidak terlalu tertarik dengan rasanya yang kemungkinan besar lumayan, sama seperti nama warungnya. Lumayan itu adalah sebuah kata sifat yang “nanggung”, bagus nggak, jelek juga nggak. Enak nggak, nggak enak juga enggak. Bukan suatu hal menarik untuk dicoba. Ada yang sudah pernah coba? {ST}

Selasa, 30 Oktober 2012

Panggilannya TJ, Bukan Busway…




            Sejak diberlakukannya jalur bus transjakarta di Jakarta, alat transportasi ini makin populer. Ongkosnya yang murah, hanya Rp. 3.500,- terjangkau oleh banyak orang. Jalur yang melewati jalan besar di penjuru Jakarta juga menjadi nilai tambah bagi banyak orang untuk memilih moda transportasi ini.
“Tadi naik busway, turun di Cempaka Mas,” seperti itulah yang sering diucapkan oleh orang yang menggunakan jasa kendaraan ini. Sebutan akrab “busway” sebih akrab di mulut dan telinga masyarakat dibandingkan dengan transjakarta. Kendaraan ini memang sering disebut dengan busway, sebutan yang sebenarnya kurang tepat. Busway sebenarnya adalah jalan yang dilalui oleh bus tersebut.
            Saya sendiri, lebih sering menggunakan sebutan yang benar, walaupun pengucapannya malah jadi tak benar. Lidah saya yang agak cadel memang sering selip kalau harus mengucapkan “transjakarta” dengan cepat.
            Ternyata keprihatinan itu tak hanya dirasakan oleh saya, yang memang peduli tentang penggunaan Bahasa Indonesia. Tampaknya, pengelola transjakarta pun menyadarinya. Sebutan yang terlalu panjang dan sukar pastinya akan berdampak pada penggunaannya. Sudah beberapa waktu ini, di samping bus-bus transjakarta tercetak tulisan “TJ” dengan tinta merah. Seakan-akan tulisanini ingin mengatakan kepada dunia kalau namanya adalah TJ, bukan busway. {ST}

Senin, 29 Oktober 2012

Ojek Payung




            Ketika hujan mulai mengguyur Jakarta, banyak orang yang mengeluh dan mendadak bete. Jakarta tanpa hujan saja sudah macet, apalagi ditambah hujan yang menimbulkan genangan di mana-mana. Kemacetan itu makin bertambah parah bila kita melewati kolong jembatan layang. Kebanyakan pengendara sepeda motor ikut berteduh, yang membuat badan jalan makin sempit.
            Tetapi ternyata tidak semua orang menyambut hujan dengan bete. Ada sebagian kecil orang yang bersorak senang ketika hujan mengguyur. Mereka adalah…anak-anak yang menyewakan payung, pengojek payung.
            Saya pernah menjadi saksi keceriaan anak-anak ini menyambut hujan. Wajah mereka cerah dengan payung ukuran besar berwarna-warni. Mereka berlarian menyambut calon pelanggan dengan payung terbuka dan wajah tersenyum cerah.
            Dalam hati saya pernah bertanya-tanya, mengapa para pengojek payung ini kebanyakan anak-anak kecil. Hal ini sempat saya diskusikan dengan cukup serius bersama adik saya. sampai-sampai kami mempertanyakannya pada status facebook. Alasan logisnya, sih, anak-anak suka main hujan. Saya waktu kecil dulu pun sangat suka main hujan sampai badan kedinginan dan membiru.
            Para pengojek payung ini benar-benar berjasa di kala hujan terutama saat kita tidak membawa payung kita sendiri. Saya, walaupun membawa payung, kadang-kadang segan untuk membuka payung saya. Biasanya saya membeli payung karena keunikan motifnya, atau juga bentuknya yang “lucu”. Sampai-sampai rasanya sayang untuk digunakan.
            Yang jelas, kala hujan datang mengguyur ibu kota RI ini, saya dengan senang hati menyambut para pengojek payung, seriang para pengojek payung menyambut hujan. {ST}

Jumat, 26 Oktober 2012

Penjual Tabung Gas Keliling



“Nyaaakkk….” seruan penjual minyak tanah di jalan-jalan pemukiman itu saat ini sudah menjadi sejarah. Penggunaan minyak tanah sebagai bahan bakar perlahan tergantikan oleh gas yang dikemas dalam tabung. Sebagai gantinya, yang dijajakan di jalanan tidak lagi minyak tanah, tetapi tabung gas.
            Tabung gas yang paling sering digunakan oleh banyak kalangan adalah ukuran 3 kg. Tabung kecil yang sering dijuluki melon ini sudah menjadi barang yang tak asing di gerobak-gerobak penjual makanan.
            Dalam perjalanan saya setiap pagi, saya sering bertemu dengan seorang penjual gas keliling. Tampaknya di hari yang masih sepagi itu, bapak penjual gas ini sedang merapikan dagangannya untuk dijual. Kalau ternyata abang ini dulunya adalah penjual minyak tanah, kira-kira apa ya yang akan dia teriakkan saat menjajakan dagangannya? {ST}

Kamis, 25 Oktober 2012

Catatan Seorang Editor: Menulis Naskah dengan Bahasa SMS




            Budaya pesan singkat atau pesan instan telah merasuk ke generasi anak-anak sekarang. Hal ini sangat terlihat dari naskah-naskah buatan anak-anak yang dikirimkan. Komunikasi dengan teknologi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, apa pun tingkat ekonominya.
            Sering sekali, naskah-naskah yang dikirimkan dengan menggunakan bahasa ala SMS. Bahkan, yang sangat parah, ada yang seluruh isi karangannya menggunakan bahasa seperti itu.
“Aq g tau apa yg bkl diliat!” kta mma.
Begitulah yang terjadi. Tidak hanya bahasa dalam kalimat langsungnya, tapi juga dalam kalimat tak langsungnya. Bisa dimaklumi kalau kita harus menyingkat kata-kata dalam sms, selain supaya karakternya tidak banyak, juga untuk menghemat waktu. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini