Ana

Selasa, 31 Juli 2012

Pemadam Kebakaran



            Suatu malam, rumah kami dikagetkan dengan listrik yang naik turun tegangannya.. Lampu berkelip-kelip menjadi penandanya. Saya yang saat itu sedang mengetik, akhirnya mematikan computer dan beralih melakukan sesuatu yang lain.
            Seperti hari-hari sebelumnya, bila tegangan naik turun, tak lama kemudian akan disusul dengan padamnya listrik. Ketika akhirnya listrik benar-benar padam, saya sudah tidak lagi terkejut karena sudah menduganya. Dengan langkah perlahan sayapun turun ke lantai bawah untuk berkumpul dengan keluarga lainnya.
            Kesibukan pada saat listrik padam hampir selalu sama pada setiap kejadian. Kami memantau sekring dan juga memantau rumah-rumah tetangga sambil sesekali mengomel bila ternyata rumah tetangga ada yang memancarkan cahaya terang. Kegiatan itu biasanya dilanjutkan dengan mencari-cari lilin untuk dinyalakan.
            Kesibukan biasa saat mati listrik itu menjadi luar biasa ketika terdengar suara “KEBAKARAN”. Kami semua berlarian keluar mencari arah suara dan mencari sumber api. Api ternyata berasal dari pojokan jalan dekat rumah, tak jauh dari portal. Saat keributan itu ternjadi, belum diketahui asal api itu. Ada yang mengatakan berasal dari gas, ada juga yang bilang dari listrik.
Api yang menyala dari pojokan


            Seorang tetangga yang cukup panic akhirnya berinisiatif untuk memanggil pemadam kebakaran. Saya, yang memang selalu mau tahu, pelan-pelan jalan mendekat untuk melihat sumber api. Api itu berwarna agak hijau. Beberapa orang makin yakin kalau itu adalah gas, dan yang terbakar adalah saluran gas.
            Teringat pada film-film yang pernah saya tonton, dimana saluran gas yang terbakar sudah pasti meledak dan melemparkan sang bintang film, maka sayapun berjalan menjauh menuju pos hansip sambil memanggil bapak hansip tua yang sepertinya sudah memasuki usia pensiun itu. Saya berteriak-teriak dari seberang jalan memanggilnya.
            “Paaakkkkkk, ada kebakaraaannnnn!!!!!” Saya berteriak ke arah seberang tempat pak hansip bersemayam.
            Penjual nasi goreng dan para tukang parkir dadakan ikut heboh berteriak memanggil pak hansip. Bapak itu hanya memandang pasrah ke arah bawah, ke arah air menggenang akibat hujan lebat yang belum lama mengguyur. Dan akhirnya dia tidak kunjung datang ke tempat kejadian.
            Akhirnya sayapun menghentikan usaha saya memanggil hansip yang takut air itu. Saya kembali mendekat ke sumber api dan mengobrol dengan beberapa tukang galian yang hari itu sedang menggali pipa. Tak lama kemudian, terdengar sirene mobil pemadam kebakaran.
Mobil yang dinantikan
            Bunyi sirene yang makin lama makin nyaring itu membuat sebagian orang lega. Selain itu kobaran api makin bertambah kecil dan akhirnya mati. Ketika mobil pemadam kebakaran itu tiba, api sudah benar-benar tak terlihat lagi.
            Beberapa orang petugas dengan sigap memeriksa TKP yang saat itu sudah menjadi gelap gulita. Mereka mewawancarai beberapa orang di sekitar situ sambil melaporkan situasi dan kondisi lewat HT. Saya juga menunjukkan beberapa foto yang sebelumnya saya ambil ketika api masih menyala. Dari foto itu mereka bisa menentukan lokasi pasti tempat api menyala.
            Dari hasil pemeriksaan itu, tidak ditemukan lagi sisa-sisa api. Para petugas pemadam kebakaran selanjutnya berkoordinasi dengan petugas PLN yang memang sedang dinantikan kedatangannnya oleh warga komplek perumahan yang gelap itu. Petugas PLN datang sangat terlambat. Kerumunan orang di sekitar TKP sudah banyak yang membubarkan diri.
            Ketika para petugas PLN itu mulai berkomentar menyalahkan banyak pihak, saya segera beralih ke tempat lain. Saya mempunyai pilihan untuk tidak mendengarkan orang yang datang terlambat tapi masih merasa berhak menyalahkan pihak lain. Saya lebih memilih berfoto-foto di belakang mobil pemadam kebakaran yang jarang-jarang saya temui. :D {ST}

Senin, 30 Juli 2012

Mengurai Kekusutan Dengan Tusukan Tajam


            Merangkai manik-manik adalah salah satu kegemaran yang juga kadang-kadang menjadi sumber pemasukan bagi saya. Kegiatan ini saya lakukan dengan menggunakan jarum dan benang. Walaupun benang yang saya gunakan yang berkualitas tinggi dan tidak mudah kusut, sesekali kekusutan tetap terjadi.
            Kekusutan yang sulit terurai itu awal-awalnya sering membuat saya menyerah dan segera mengganti benang dengan yang baru. Tentu saja kekusutan saya gunting dan langsung saya buang. Lama kelamaan, saya semakin mahir mengurai kekusutan dan menganggapnya sebagai bagian dari karya saya.


            Mengurai kekusutan kadang-kadang tidak bisa hanya mengandalkan tangan. Kita harus membongkar simpul kusutnya dengan benda tajam supaya terurai. Sedikit demi sedikit, benang akan terbebas dari kekusutan dan kita dapat melanjutkan pekerjaan kita lagi.
            Setelah dipikir dan direnungkan, kekusutan tidak hanya terjadi dalam bidang merangkai manik-manik, tapi juga dalam semua bidang kehidupan. Bila kita tidak bisa mengganti “benang” kehidupan, maka kita harus bertahan dengan benang kusut yang semula. Satu-satunya cara untuk melanjutkan adalah dengan menguraikan kekusutannya, yang kadang-kadang harus dengan tusukan tajam. {ST}

Minggu, 29 Juli 2012

Mengisi Ulang Botol Air Mineral



            Air bening dalam botol kemasan telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari banyak orang. Minuman ini dijual dimana-mana, mulai dijajakan secara asongan sampai di restoran super mewah. Kemasannya yang praktis dan harganya yang tidak terlalu mahal membuat air dalam kemasan ini makin diandalkan oleh banyak orang.
            Dalam sebuah acara persidangan, para peserta termasuk saya mendapat “jatah” masing-masing 1 botol. Botol ini ditempeli dengan stiker putih yang bisa ditulisi. Saat itu saya langsung berpikiran pasti stiker itu ditempel untuk ditulisi nama pemiliknya. Maka sayapun menulisinya dengan nama saya.
            Saya juga berpikirankalau botol ini pasti dimaksudkan untuk digunakan berulang kali. Renungan awal soal lingkungan dan juga dispenser air gallon besar di bagian belakang ruangan membuat dugaan itu makin besar. Maka itulah yang saya lakukan ketika air di botol saya habis. Saya mengisinya dengan air dari dispenser.
            Ternyata tidak semua orang berpikiran seperti saya, bahkan panitianya pun tidak. Setelah sesi pertama itu berakhir dan dilanjutkan dengan sesi berikutnya, di meja saya sudah tidak terlihat lagi botol yang tadi. Botol yang ada adalah kemasan baru yang masih disegel. Walaupun begitu, saya tetap mengisi ulang botol saya dan tidak mengambil kemasan baru ketika air jatah saya sudah habis. Semoga ada manfaatnya buat lingkungan kita. {ST}

Sabtu, 28 Juli 2012

Kura-kura Tidak Boleh Dikirim Menggunakan Paket


            Suatu saat, saya harus mengirimkan paket berisi kain. Paket itu saya bungkus dengan menggunakan kertas koran. Saya memang kurang ahli dalam bidang bungkus membungkus, jadilah paket bungkusan saya itu bentuknya tak beraturan.
            Ketika tiba di tempat mengirim paket langganan, paket yang saya bungkus itu harus dipak ulang, dipress supaya padat dan tidak memakan tempat. Saya tidak keberatan dengan hal itu. Proses itu memerlukan waktu sedikit lebih lama karena paket itu harus dibongkar ulang dan kain-kainnya ditata dengan lebih rapi.
            Dengan pengalaman berkali-kali mengirimkan paket, saya hampir tidak pernah membaca syarat dan ketentuan yang tulisannya kecil-kecil itu. Saat itu, akhirnya saya membaca semua syarat dan ketentuan. Yang paling menarik adalah tidak diperbolehkannya mengirim binatang, terutama kura-kura. {ST}

Mengapa kura-kura menarik perhatian saya? Klikdi sini

Jumat, 27 Juli 2012

Kos Murah di Bandung


            Saya sudah cukup lama meninggalkan kehidupan sebagai anak kos. Tidak terlalu update lagi perkembangan dunia kos-kosan di tanah air :D. Terakhir kali ngobrol dengan topik kos-kosan, saya tercengang dengan harga sewa kamar kos yang sekarang sudah mencapai jutaan per bulannya.
            Dalam beberapa kesempatan lain, ternyata harga jutaan untuk kamar di tengah kota adalah hal yang wajar. Harga itu sudah termasuk pendingin udara, kamar mandi di dalam dan kadang-kadang ada garasi untuk kendaraan.
            Pada sebuah kesempatan ke Bandung, saya sempat terhenti ketika ada harga kamar kos yang berjuta-juta juga. Iseng juga mau tahu fasilitas apa yang ditawarkan dengan harga berjuta-juta itu. Ternyata setelah dibaca lebih teliti, harga yang ditawarkan itu adalah per tahun, yang artinya gak mahal-malah amat. Sampai-sampai saya merasa hal ini pantas untuk dipotret dan dicatat. Kali aja tak lama lagi harga segitu akan menjadi sejarah. {ST}

Kamis, 26 Juli 2012

Karya Seni di Meja Rusak


            Suatu hari saat berjalan-jalan sendirian, saya mampir di sebuah kantin kecil dengan beberapa meja berpayung. Meja berpayung itu disponsori oleh produsen the terkenal dalam botol. Sambil menanti pesanan datang, saya mengamati lingkungan sekitar.
            Kalau dilihat sekilas, apa yang ada di depan saya itu terasa biasa saja. Cuaca mendung yang bisa dinikmati sesaat kesejukannya, malah sedikit membuat waswas. Teh dalam botol yang sangat terkenal di tanah air kita pun bukanlah suatu pemandangan langka yang pantas dicatat.
            Sambil melihat ke langit dengan awannya yang tebal, saya membayangkan bentuk-bentuk awan ketika langit cerah. Bentuk awan yang beraneka ragam selalu menjadi karya seni buat saya. Karya seni yang selalu saya nikmati dengan aneka imajinasi bentuk awan. Karena langit tertutup awan tebal tanpa bentuk, maka saya mengalihkan pandangan ke depan saya, ke meja tempat pesanan saya sangat dinantikan. Motif di permukaan meja yang rusak itu akhirnya juga menjadi karya seni bagi mata saya. {ST}

Popular Posts

Isi blog ini