Ana

Selasa, 12 Juni 2012

Suara Dari Pojokan Angkot (Saved By The Battery)




            Suatu saat, saya naik angkot jurusan Jakarta Kota – Senen. Saya memang cukup sering menggunakan kendaraan umum kalau ke daerah sini. Kemacetan jalanan membuat menyetir sendiri menjadi semacam siksaan.
            Saat masuk ke angkot, di pojokan sebelah belakang sudah duduk seorang perempuan muda yang sedang asyik dengan telepon genggamnya. Nampaknya dia akan menelpon seseorang dan ternyata benar saja. Dia menelpon teman SMA-nya dan mengobrol tentang aneka macam hal. Mulai dari pekerjaan, pacar sampai pakaian dalam. Sebagai sesama perempuan, saya sampai agak malu karena dia membicarakan hal-hal yang tidak semestinya dan didengarkan oleh orang seangkot.
            Mengapa saya bisa tahu? Karena saya harus mendengar tentang semua obrolannya itu. dari yang awalnya biasa saja sampai eneg mendengar obrolan yang kadang-kadang berulang. Saya tidak punya pilihan kecuali mendengarkan. Telinga saya tidak bisa disetel menjadi “mute”. Atau si mbak ini diubah menjadi “pause”.
            Ini menjadi pengingat buat diri saya sendiri, kalau namanya polusi suara itu agak susah diatasi. Kita bisa mengurangi dampak polusi udara dengan masker, tapi tidak dengan polusi suara. Telinga yang ditutup earphone pun kadang tak mempan menghambat suara dari luar.
            Perbincangan mbak yang merasa dirinya sangat cantik dengan temannya itu baru berakhir ketika baterei telepon genggamnya mulai lemah. Telinga orang seangkot itu akhirnya terselamatkan oleh baterei. Saved by the battery! {ST}

Popular Posts

Isi blog ini