Kamis, 19 Januari 2012

Daun Sirih



            Daun sirih sudah dikenal sejak lama memiliki khasiat bagi kehidupan manusia. Saat obat-obat modern belum banyak dijual dan dengan mudah ditemukan, khasiat daun sirih bagi kehidupan lebih diingat oleh umat manusia. Sekarang ini, tidak banyak yang masih mengingat manfaatnya. Padahal manfaat daun ini sangat banyak. Berikut ini beberapa manfaatnya:
  1. Memelihara kesehatan gigi dan mulut. Sirih yang rutin dikunyah akan membuat gigi kuat dan napas segar. Tradisi mengunyah sirih terdapat di beberapa negara Asia dengan campuran yang bermacam-macam. Secara umum campuran mengunyah sirih adalah kapur dan pinang. Mannfat daun sirih untuk kesehatan gigi ini akhirnya diolah oleh salah satu produsen pasta gigi dengan memproduksi pasta gigi yang mengandung sirih.
  2. Mengobati batuk. Air rebusan daun sirih juga bermanfaat untuk mengobati batuk. Caranya beberapa lembar daun sirih direbus bersama dengan cengkeh dan diminum 3 kali sehari sampai gejala batuk hilang. Campuran air daun sirih ini biasanya ditambahkan pula dengan jeruk nipis. Untuk beberapa orang yang tidak tahan dengan rasa rebusan daun yang agak pedas, dapat ditambahkan madu.
  3. Sebagai antiseptik. Air rebusan daun sirih juga dikenal sebagai antiseptik. Air rebusannya bisa digunakan untuk menghilangkan gatal-gatal, bau badan, sakit mata dan keputihan.
  4. Menghilangkan bau badan. Air rebusan daun sirih digunakan untuk mandi dan juga diminum.
  5. Menghentikan pendarahan. Daun sirih yang dilipat-lipat dan kandungan airnya keluar, ditempelkan pada bagian yang terluka. Daun sirih juga digunakan untuk menghentikan mimisan, pendarahan di hidung, dengan jalan memasukkan daun sirih pada lobang hidung.


Itulah beberapa manfaat daun sirih bagi kehidpuan manusia. Daun yang tumbuh merambat ini juga digunakan untuk upacara adapt, baik kelahiran, pernikahan maupun kematian di beberapa suku. {ST}

Selasa, 17 Januari 2012

Talang Air Berantai Penuh Kenangan



            Saat musim hujan seperti ini, sering kali hujan lebt membuat kita lumpuh. Hujan lebat dengan angin kencang membuat jalan tergenang dan susah untuk melaluinya. Hujannya sendiri pun sering membawa akibat kurang nyamannya kondisi badan.
            Waktu kecil dulu, sebagai anak kecil yang selalu ingin tahu, saya sangat senang ketika hujan datang. Ibu saya, setelah melihat kelakuan anaknya yang sering menadahkan tangan menampung air hujan, akhirnya membebaskan anak-anaknya untuk mandi hujan. Permainan yang sangat menyenangkan.
            Di rumah masa kecil saya, di Kota Sampit, Kalimantan Tengah, mandi hujan tidak hanya mengandalkan guyuran hujan yang jatuh dari langit. Air yang menjadi bahan permainan juga adalah yang sudah jatuh ke bumi. Air yang membentuk kubangan di kebun, yang tertampung di drum dan juga air yang jatuh dari talang.
            Air yang jatuh dari talang menjadi permainan tersendiri. Beberapa talang di rumah dipasangi rantai, di bagian bawah rantai diletakkan drum atau bak penampung. Rantai itu gunanya untuk mengarahkan air itu langsung ke drum. Dengan bobotnya yang berat, rantai itu tidak mudah tergoyangkan oleh angina.
            Rantai inilah yang menjadi salah satu bahan permainan kami, saya dan kakak laki-laki saya. Kalau hujan yang turun belum terlalu deras, maka air akan mengalir mengikuti alur rantai. Kami sering membelok-belokkan rantainya, maka airpun ikut mengalir mengikuti bentuknya. Aliran air yang tidak biasa itu menjadi kesenangan tersendiri bagi kami 2 orang anak kecil yang basah kuyup itu.
            Lain halnya bila hujan turun sangat deras, mau diapakan bagaimanapun juga rantainya, air tetap saja jatuh ke bawah. Maka kamipun mencari permainan hujan model lainnya.
            Melihat kembali sebuah talang dengan rantai terpasang saat sekarang ini, pastinya mengembalikan ingatan pada kenangan masa kecil dulu, dimana hujan adalah suatu berkat yang dinanti-nantikan. {ST}

Senin, 16 Januari 2012

Kehadiran Hujan Di Kota Jakarta



            Kehadiran hujan lebat di Kota Jakarta ini, sering kali membuat masalah baru. Jalanan yang biasanya saja sudah macet, menjadi bertambah macet dengan adanya hujan. Banyaknya pengemudi sepeda motor yang berteduh menepi membuat jalanan makin sempit. Kendaraan yang bergerak pelan karena keadaan hujan, bergerak makin pelan karena jalanan yang sempit dan enggan menyenggol orang berteduh.
             Hujan lebat sering pula disertai dengan angina kencang. Angin ini tidak hanya membuat pohon-pohon bergoyang, tapi juga tumbang. Tumbangnya pohon sudah pasti membuat masalah baru bagi yang jalannya tertutup sang pohon, apalagi bagi yang tertimpa pohonnnya. Billboard iklan yang biasanya berdiri gagahpun, beberapa harus tunduk pada kekuatan alam ini.
Bila sampai terjebak dalam kemacetan Jakarta di kala hujan, kita dituntut kreatifitas tinggi untuk enjoy Jakarta. Perjalanan yang memakan waktu tempuh lebih lama dengan kewaspadaan yang lebih, tidak membuat beberapa orang enjoy. Salah satu yang bisa dinikmati adalah lampu-lampu kendaraan yang sesekali menyala merah (karena mengerem) dan tentu saja butiran-butiran yang jatuh ke bumi itu. Dan tentu saja udara yang lebih segar dan bersih ketika hujan telah berakhir. {ST}

Minggu, 15 Januari 2012

Mangga Bolong


            Di rumah kami, dimana penghuninya adalah penggemar buah (terutama bapak kepala keluarganya), mangga sering pula ikut menghiasi meja makan. Buah berdaging kuning ini ikut menjadi bagian dalam rumah kami.
            Si bapak penggemar buah, sering membeli buah dalam jumlah berlebihan (lebay) yang tidak akan bisa dihabiiskan dalam 1 hari, bahkan oleh yang paling rakus sekalipun. Maka buah-buahan yang sama akan menjadi penghuni rumah kami selama beberapa hari.
            Beberapa kali terjadi, buah mangga yang terpaksa menginap ditemukan dalam keadaan bolong esok harinya. Bentuk bolongnya hampir sama seperti bolong dimakan codot, mamalia terbang pemakan buah itu. setelah diamati dan dipantau, ternyata mangga bolong itu dimakan tikus.
            Tikus yang ikut menghuni rumah kami tanpa ijin itu memang penuh inovasi. Mereka tidak hanya menggondol ikan asin atau keju seperti di film-film Disney. Mangga pun menjadi bahan santapan malam. Kami, penghuni resmi rumah ini, akhirnya selalu menempatkan mangga yang menginap dalam tempat tertutup. Langkah pengaman sekaligus mengajak perang para tikus. {ST}

Sabtu, 14 Januari 2012

Durian Medan di Depan Rutan



            Di beberapa tempat di Jakarta, sering terlihat mobil-mobil bak dengan muatan durian dan lampu super terang, termasuk juga di depan Rutan Salemba. Buah-buah berduri ini dibawa dari Medan di hari yang sama dan kemudian dijual malam harinya.
            Saat membeli durian ini, pembeli mendapatkan jaminan akan rasa durian yang dibelinya. Penjual akan membuka sedikit bagian dari durian, mencoleknya dengan pisaunya dan mempersilakan calon pembeli untuk merasakannya. Bila calon pembeli tidak berkenan akan rasa durian yang dicobanya, bisa digantikan dengan durian lain atau bahkan batal membeli.

            Durian yang dijual dibagi menjadi beberapa ukuran yang menentukan harganya. Dengan jaminan rasa yang sama, maka ukuran buah menentukan harganya. Durian yang berukuran kecil, harganya lebih murah dibandingkan dengan yang berukuran besar. Dan seperti juga jurus dagang di seluruh dunia, kalau beli banyak harga satuannya bisa lebih murah.

            Dalam suatu kesempatan mencicipi durian yang dijual di depan Rutan Salemba, kami memilih durian dengan ukuran paling kecil, yang tentunya harganya paling murah. Durian kecil ini, yang diharapkan mampu mengobati rasa kangen akan durian, ternyata tidak cukup. Kamipun membeli buah kedua untuk disantap di tempat.

            Penjual durian juga menyiapkan fasilitas untuk menyantap durian langsung di tempatnya dijual. Disediakan beberapa meja dan kursi yang diletakkan di trotoar. Untuk menampung bjinya, disediakan pula sebuah keranjang kecil di setiap meja. Sebagai komplimen, disajikan juga air mineral dalam gelas untuk masing-masing orang, gratis.

            Penual durian di depan rutan itu mengaku, dalam semalam dia bisa menjual semua duriannya. Tentu saja ada beberapa yang rusak atau busuk. Merekapun berani untuk mendatangkan durian langsung dari Medan dengan menggunakan kargo. Keuntungan dari hasil menjual durian ini tampaknya cukup untuk membiayai operasionalnya. {ST}

Jumat, 13 Januari 2012

Pundang Lais




            Pundang adalah sebutan untuk ikan asin dalam bahasa Dayak Ngaju. Mengawetkan makanan dengan mengasinkannya sudah diketahui orang sejak lama, termasuk oleh Suku Dayak Ngaju di daerah Kalimantan Tengah. Yang diawetkan juga adalah ikan-ikan yang banyak terdapat di daerah tersebut. Ikan lais salah satunya. Ikan dengan bentuk tubuh tipis langsing ini memang hidup di sungai-sungai seluruh Kalimantan.
            Ikan ini termasuk yang menjadi primadona di pasar ikan asin di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Harganya yang umumnya lebih tinggi dari ikan asin jenis lain, tidak menyurutkan pembeli untuk tetap membelinya.

            Di Pasar Kahayan, pasar besar dengan bangunan modern di Kota Palangkaraya, ikan asin (pundang) jenis ini banyak dijual. Ikan yang dijual per kilo ini ada juga yang dijual per kemasan yang lebih praktis. Penjualan dalam kemasan dari mika itu lebih sering untuk memberi oleh-oleh bila berkunjung ke kota ini.
            Proses pengeringan ikan dengan menggunakan panas matahari, bisa dilihat di sekitar pasar. Ikan bertubuh panjang tipis dengan warna keperakan diletakkan berjajar, dikelompokkan sesuai dengan ukurannya. Sesekali warna keperakan dari ikan yang belum terlalu kering memantulkan cahaya matahari. Selain terlihat menarik saat dijemur, ikan ini rasanya juga menarik. Selain diasinkan, ikan ini juga lezat bila dibakar atau digoreng. Silahkan dicoba saat tiba di Palangkaraya. {ST}

Sabtu, 07 Januari 2012

Malaikat Berpayung


            Di suatu malam yang belum terlalu malam, setelah selesai rapat natal yang terakhir di tahun 2011, saya memutuskan pulang naik bus transjakarta. Halte bus yang tidak jauh letaknya dari gereja memang memudahkan kalau mau berkendara menggunakan kendaraan yang juga sering disebut busway ini. --> Padahal busway kan jalanannya yaa….
            Penantian di halte Kwitang tidaklah terlalu lama, apalagi ada seorang teman yang menemani ngobrol. Kami langsung mendapatkan tempat duduk di sebuah bus berwarna biru. Bus itu nyaris kosong sehingga banyak pilihan tempat duduk.
            Tidak lama setelah bus berjalan, di sekitar halte Senen, titik-titik air berjatuhan dari langit dalam bentuk gerimis. Butir-butir air itu makin lama makin besar. Di terowongan Senen sudah banyak pengendara motor yang berteduh, membuat terowongan itu terlihat makin sempit. Bus yang kami tumpangi memakan waktu cukup lama karena berjalan pelan di terowongan yang lajurnya makin sempit itu.
            Setibanya di sisi seberang, hujan sudah tidak lagi layak disebut gerimis. Butiran air yang jatuh makin deras sampai jalanan pun tidak lagi terlihat jelas. Putih berkabut dan suara menderu membuat suasana terasa seperti badai. Badai makin terasa ketika tiba waktunya turun di halte dekat rumah. Bus yang berhentinya sedikit meleset dari pintu halte itu menyisakan ruang yang cukup untuk membuat kuyup bila tidak bergerak cepat.
            “Ciiaaaatttttttt…..” Akhirnya saya pun sukses menyeberang ke halte Cempaka Tengah di dekat rumah itu.
            Kak Ridma, teman seperjalanan saya juga ikut-ikutan turun di halte ini dan berencana untuk baik taksi pulang ke rumah. Saya, yang rumahnya tidak jauh dari halte dan kalaupun naik ojek ongkosnya gak mahal-mahal amat, memilih untuk menunggu hujan sedikit reda. Tempat yang paling pas untuk menunggu adalah di halte transjakarta itu, bukan di halte pinggir jalan. Maka saya pun kembali duduk di halte sambil memantau bintang-bintang merah di blackberry. Mas koordinator seksi acara menanyakan hasil rapat terakhir dan update acara akhir tahun.
            Akhirnya hujan pun sedikit reda, dan saya beserta seorang ibu yang bernasib sama, keluar menuju halte pinggir jalan. Setiba di halte pinggir jalan, hujan menjadi deras lagi. Di halte tanpa tempat duduk itu, kami terpaksa menunggu. Angin kencang yang dingin membuat badan saya bergoyang tanpa bermaksud menari. Saya dan ibu itu yang memang tidak saling mengenal dan tidak berniat menunggu lama, akhirnya berdempetan. Ibu bertubuh cukup subur itu cukup memberi kehangatan dan kestabilan atas tiupan angin.
            “Kuliah di mana dek?” ibu itu membuka perbincangan dengan perempuan yang menempel erat kedinginan di sampingnya itu.
            “Hah? Kuliah? Di Trisakti, Bu….” saya menjawab si ibu sambil mendekap binder dan nempel-nempel ke ibu yang tetap berdiri kokoh walau diterpa angina kencang itu.
            “Trisakti yang di Grogol ya? Kalo saya kerjanya di Sumber Waras,” si ibu membuka obrolan dengan lebih ramah. Sepertinya ibu ini mengira saya anak kuliahan. Dengan kostum kaos plus jins, bawa binder, pake backpack dan wajah imut, memang bisa dimaklumi kalau ibu ini bisa salah sangka., mengira saya anak kuliahan. Dia bahkan mengira saya dari Grogol juga. Dia tidak tahu kalau saya sudah cukup tua. Bahkan di gereja yang baru saja saya tinggalkan, saya dianggap pantas menajdi penatua. Sebutan yang ada “tua”nya.
            “Nggak, saya dari Kwitang tadi,” akhirnya saya pun berkata karena makin gak ngerti ketika si ibu bercerita tentang petualangannya menuju Grogol setiap hari. Saya tidak familiar dengan aneka halte yang disebutkan si ibu. Jaman kuliah dulu, bus transjakarta belum ada. Bayangkan sajalah sendiri, jaman kapan itu.
            Akhirnya perbincangan beralih ke masalah sehari-hari, tentang cuaca, belanja, negara, anak-anak bahkan pakaian dalam. Dalam perbincangan yang kadang-kadang harus berteriak itu, kami menyepakati untuk naik bajay bersama. Saya yang rumahnya lebih dekat akan diantar lebih dulu, baru kemudian si ibu.
            Maka kami pun menghadang bajay yang sesekali lewat di halte. Beberapa bajay langsung berlalu karena sudah ada penumpangnya. Akhirnya ada juga bajay yang tanpa penumpang. Setelah tawar menawar yang jadinya hanya formalitas (maklum deh, kalo lagi butuh gitu, gigi taring gak bisa dikeluarin), kami menyetujui ongkos bajay yang mahal untuk ukuran biasanya. Si abang bajay meminta ongkos 3 kali harga normal, dan bersiap pergi kalau kami tidak setuju.
            Dengan menumpang bajay yang ditutup maksimal itu, kami menuju bagian dalam komplek. Jalanan sudah tergenang cukup tinggi, sampai akhirnya bajay itu berhenti dan….
            “Turun di sini aja deh. Gak usah bayar. Saya gak mau ke sana. Bisa mogok!” si abang menepikan bajaynya sambil berbicara pada kedua orang penumpangnya.
            “Gimana sih si abang, masa mau diturunin di sini? Kan basah,” ibu itu berkata.
            “Kalo gitu lewat sebelah barat aja deh, ke tempat saya dulu,” si ibu melanjutkan lagi.
            “Tapi ntar kalo nganterin si neng ini tetap lewat yang banjir. Nggak deh. Turun sini aja neng.” Si abang dengan teganya bersiap membukakan pintu.
            Saya yang biasanya pasti naik darah kalau diusir seenaknya itu, kali ini tumben tidak bertumbuh tanduknya, mungkin karena habis pulang rapat natal, suasana damai masih melekat.
            “Oke kalau begitu saya turun di sini aja. Nanti saya naik ojek aja,” saya berkata dengan penuh kemenangan dan ketenangan.
            “Dek, pake payung saya aja dek,” si ibu memberikan payung yang sedari tadi dipegangnya ke tangan saya.
            “Gak usah, Bu. Bang, anterin ke pangkalan ojek, deh!” Saya berkata pada abang yang masih menolehkan badannya ke belakang itu.
            “Gapapa, pake aja. Saya kan dianterin sampai depan rumah, kok,” si ibu tetap memaksakan payungnya ke dalam genggaman saya.
            “Ntar gimana balikinnya, Bu? Apa saya beli aja?” Saya berkata dengan penuh perhitungan dan mulai membongkar tas mencari uang.
            “Gak usah, pake aja. Ayo sana, ntar keburu hujannya tambah gede.” Kali ini si ibu pakai acara mendorong dan membuka pintu bajay.
            “Terima kasih banyak, ya….Tuhan memberkati Ibu selalu.” Akhirnya saya pun setuju untuk memakai payung si ibu. Sembari keluar, saya menyempatkan memberikan uang ongkos untuk si abang bajay. Bukan ongkos untuk diturunkan di pinggir jalan sebelum sampai tujuan, tapi ongkos untuk mengantarkan ibu baik hati itu ke rumahnya. Sayangnya, gerakan memberi ongkos itu terlihat si ibu. Dia dengan sigap mengambil uangnya kembali dan memaksa mengembalikannya ke tangan saya.
            Saya yang sudah di luar bajay, tidak punya waktu lagi untuk melakukan “serangan balasan”, memberikan uang ongkos itu. Hujan yang makin lebat memaksa saya harus cepat-cepat membuka paying. Si abang bajaypun langsung memutar bajaynya, meninggalkan gelombang di air yang menggenang.
            Sayapun menempuh perjalanan pulang di bawah lindungan payung pemberian ibu itu. Jalanan dekat rumah sudah menggenang setinggi lutut. Trotoar yang ditanami pohon besar membuat harus turun ke badan jalan sesekali. Suara tikus mencicit membuat suasana makin mencekam. Beberapa kendaraan yang nekat lewat membuat gelombang yang tingginya sampai ke paha. Sandal jepit berhias lidi yang saya pakai sudah mulai menunjukkan kerusakannya di pertengahan jalan. Ornamen hiasannya yang sepertinya ditempel dengan lem, mulai terlepas dan membuat langkah makin berat. Sempat terpikir mau cekeran aja tapi akhirnya dibatalkan. Teringat pada ban si mocil yang berkali-kali kena paku karena suka nyempil di pinggir jalan. Ban mobil aja nembus, gimana kaki cekeran…
            Akhirnya sayapun tiba di rumah dengan selamat. Selain pulang di bawah lindungan payung, saya juga di bawah lindungan Tuhan yang mengirimkan malaikatnya untuk menolong saya. Seorang malaikat berpayung. Konon kabarnya di jaman sekarang malaikat tak lagi bersayap. Mereka berwujud seperti manusia biasa, sesama kita. {ST}

Jumat, 06 Januari 2012

Musim Rambutan



            Akhir tahun dan awal tahun di Indonesia, selain musim hujan dan musim diskon, juga adalah musim rambutan. Buah tropis berambut itu ada hampir dimana-mana. Di pinggir jalan hingga di toko buah tercanggih (yang biasanya lebih banyak menjual buah impor), juga ikut menjual buah rambutan.
            Rambutan yang banyak dijual di pinggir jalan adalah rambutan yang berwarna merah dan rambutan rapiah. Kedua rambutan ini bersaing merebut pembeli di gerobak yang sama. Rambutan merah berambut gondrong dan ukurannya lebih besar itu, malah dijual dengan harga yang lebih murah.

            Buah-buah berambut ini dijual dengan satuan yang sama, per ikat. Jumlah buah dalam tiap ikat relatif sama dari besarnya ikatan yang terlihat. Tampaknya satuan jual buah ini sudah menjadi standar di kalangan para pedagang buah musiman. Di tiap gerobak jualan, besarnya ikatan terlihat tidak jauh berbeda.
            Dengan satuan jual (buying size) yang sama, maka yang menjadi jurusan para pedagang ini adalah perang harga. Petunjuk harga ditampilkan dengan papan yang menghadap ke jalan, tidak kalah dengan toko dan pasar modern.
            Saat awal-awal musim rambutan, rambutan yang dijual masih dalam satuan per ikat. Seikatnya dijual dengan harga 10 ribu rupiah. Lama-kelamaan saat buah-buahan ini membanjiri pasar, para pedagang memakai jurus beli banyak lebih murah. Jurus yang di perusahaan retail yang banyak bulenya disebut multibuy. Harga menjadi 10 ribu / 3 ikat. Bahkan saat tulisan ini dibuat, sudah ada yang memakai jurus lebih dahsyat, 8000 / 3 ikat. Berminat berapa ikat? {ST}

Kamis, 05 Januari 2012

Laron


            Laron adalah rayap bersayap yang senang mencari cahaya di malam hari. Binatang ini tidak selama hidupnya bersayap. Sayap hanya tumbuh 1 kali dalam masa dewasanya dan kemudian akan segera lepas. Kemunculan laron, biasanya adalah petanda datangnya musim penghujan.
            Laron muncul ketika hari menjelang malam dan langsung menuju cahaya terang yang ada tak jauh dari sarangnya. Sering terlihat laron bergerombol di lampu yang sedang menyala.
            Untuk sebagian orang, kunjungan laron ke rumah adalah gangguan. Selain mengganggu pemandangan, laron juga meninggalkan sayapnya yang sering dianggap kotoran. Apalagi laron yang menemukan pasangan akan membentuk koloni rayap yang baru. Sebuah koloni pemakan kayu yang berpotensi merusak bagian-bagian rumah.
            Untuk sebagian orang lagi, kedatangan laron adalah berkat. Laron dengan sengaja diundang dan ditangkap untuk dijadikan bahan makanan. Laron-laron itu ternyata bisa juga dijadikan bahan peyek seperti rekannya, udang.
            Cara menangkap laronpun cukup sederhana, tidak diperlukan perlengkapan yang banyak dan susah didapat. Cukup dengan baskom berisi air yang ditempatkan di bawah sumber cahaya. Laron-laron yang kelelahan dan sudah waktunya melepaskan sayap akan segera jatuh ke dalam baskom. Ada juga yang mengatakan, supaya laron lebih cepat jatuhnya, di sumber cahaya digantungkan juga cabe.
            Laron juga menjadi sebutan untuk orang-orang yang langsung mendekat ketika melihat cahaya, terutama cahaya blitz kamera. Orang-orang yang selalu senang difoto seperti….{ST}

Rabu, 04 Januari 2012

Pejuang Kecoa


            Pejuang adalah sebuah kata yang selalu mengandung penghargaan. Para pejuang yang menolak untuk kalah memang sepantasnya dihargai. Di dunia manusia yang beradab, pejuang yang memperjuangkan sesuatu pastilah mendapatkan penghargaan dari sesame manusia. Bahkan untuk pejuang sejati, lawan yang berjuang tanpa henti juga pantas mendapatkan penghargaan.
            Dalam kehidupan, semua makhluk berrjuang untuk tetap hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya. Termasuk kecoa. Dan mengapa pula tulisan ini tentang kecoa? Apakah penulisnya pejuang kecoa? Atau penggemar kecoa?
            Begini ceritanya….
            Dua hari yang lalu, saya menemukan kecoa di dekat kamar. Kecoa ini sebelumnya tertangkap basah sedang terbang dan mendarat tidak jauh dari kamar. Saya yang agak panik karena takut kecoa itu masuk ke dalam rambut kribo saya, segera memburunya dengan segulung kertas. Akhirnya kecoa itu tergeletak telentang di lantai. Kakinya bergerak kesana kemari yang membuat makin geli.
            Dengan keberanian yang dipaksakan, akhirnya saya mencomot kecoa itu dengan tisu. Kertas lembut itu bergerak-gerak ketika saya mengangkatnya. Akhirnya saya membuang tisu itu ke dalam tempat sampah, dan menutupnya.
            Saat ini, dua hari kemudian, saya berniat mengosongkan tempat sampah yang isinya tidak terlalu banyak itu. Hanya ada beberapa lembar tisu dan kertas-kertas. Saat bagian dalam tempat sampah yang berbentuk seperti ember itu saya keluarkan, ternyata ada sesuatu yang bergerak-gerak. Sesuatu itu ternyata….kecoa. Kecoa yang tertangkap 2 hari yang lalu itu ternyata masih bertahan hidup. Seekor pejuang kecoa dalam tong sampah. {ST}

Selasa, 03 Januari 2012

Rotan untuk Dimakan


            Rotan sebagai bahan baku untuk membuat furniture telah dikenal luas di mana-mana. Hasil kerajinan rotan juga sudah banyak yang diekspor. Industri kerajinan rotan telah menjadi mata pencaharian untuk sebagian orang. Selain untuk furniture, rotan juga dikenal untuk bahan baku tas, dompet ataupun topi.

            Yang mungkin belum diketahui oleh banyak orang, rotan ternyata juga bisa menjadi menu makanan. Di Kalimantan, pulau dimana rotan tumbuh dan berkembang lebih banyak disbanding daerah lain, rotan muda dijadikan bahan makanan. Rotan muda ini menjadi bahan makanan yang dimasak seperti sayur (juhu), atau bisa juga hanya direbus. Tergantung selera penikmat. Rasanya sepet dan kadang-kadang agak pahit.

            Tidak mengherankan, bila di pasar-pasar tradisional Kalimantan sering ditemukan rotan di tempat yang sama dengan menjual sayur dan jamur. Rotan memang bisa juga digolongkan sebagai bahan makanan. Sudah pernah coba? {ST}

Baca juga:
Anyaman Rotan dari Kalimantan

Senin, 02 Januari 2012

Lemang Bakar di Senen



            Lemang atau ketan yang dimasak di dalam buluh bambu dikenal di beberapa daerah di Indonesia. Makanan ini ada di pulau Sumatra, Jawa, Kalinmantan dan Sulawesi. Penyebutan namanya pun hampir sama. Ada yang menyebutnya lemang, lamang atau nasi jaha.
            Cara memasak lemang umumnya hampir sama. Beras ketan dimasukkan dalam buluh bambu berlapis daun pisang, ditambahkan santan, kemudian dibakar sampai matang. Untuk cita rasa terbaik, lemang dibakar menggunakan arang, tidak menggunakan kompor gas.
            Di Jakarta, lemang bisa didapatkan dengan mudah di pojokan Senen menuju Salemba. Di sepanjang jalan ini banyak yang menjual lemang. Lemang yang dijual di sini adalah lemang ala Minangkabau. Sepanjang jalan itu banyak pula yang menjual nasi kapau, makanan khas Padang. Lemang yang ini, cara memakannya bersama dengan tape ketan hitam. {ST}

Minggu, 01 Januari 2012

Belanja Buat Natalan Ke Pasar Senen



            Natal tahun ini, seperti juga tahun-tahun sebelumnya, mamah berniat mau membuka rumahnya untuk menjamu tamu-tamu yang datang. Tamu yang datang biasanya keluarga kami juga, kebanyakan yang berbeda keyakinan. Mereka mengunjungi kami saat Natal, dan kami balas mengunjungi saat Lebaran.
            Kali ini, Mamah memutuskan untuk memasak rawon. Rawon masakan mamah memang terkenal di kalangan keluarga kami. Masakan dengan resep dari eyang (ibunya mamah) ini sudah menjadi legenda natal rumah kami.
            Rawon buatan mamah, tidak hanya menggunakan daging rawon yang biasa digunakan orang. Ada tambahan daging dari bagian lainnya, yang kayanya gak bisa dikasih tau di sini. Rahasia keluarga.
            Beberapa saat sebelum belanja ke pasar, sempat kepikiran untuk gak usah nemenin mamah ke pasar. Kesibukan sebagai panitia natal dan dikejar deadline majalah ikut memberi pengaruh. Toh dia perginya sama supir. Tapi akhirnya niat itu berubah. Kapan lagi bisa nemenin mamah belanja kalo gak sekarang?           Dengan sibuk menjadi panitia di tahun ini, artinya tidak ada juga sesi membuat kue kering bersama. Apalagi sehari sebelumnya ada hari ibu. Dimana di sini, di blog ini, saya menulis, menghargai ibu itu tidak hanya pas hari ibu.
            Jadilah kami pergi membawa bakul ke Pasar Senen. Pasar yang menjual aneka daging itu. Kami langsung menuju tempat daging ketika tiba di sana. Mamah sudah tahu mau beli apa. Sayangnya, dia tidak menetapkan akan beli berapa. Jadi kalau ada abang-abang yang menawarkan dagangannya dan dagangannya itu bagus, maka mamah akan membelinya.
            Sebagai asisten pembawa bakul di pasar yang becek, saya berusaha membawa bakul supaya tidak terkena lantai. Beban yang makin lama makin berat tidak terlalu dirasakan sampai kok rasanya ada yang tidak biasa.
            “Ci, itu tangannya gemetar.” Seorang abang penjual buntut sapi menegur. Yang ditegur dengan sebutan ‘Ci’ itu ternyata….saya. Hehehe….sipit sih.
            “O iya. Mah, aku ngantar dagingnya ke mobil dulu ya…” Baru nyadar kalau tangan sudah kelebihan beban.
            Beban itu akhirnya dipindahkan. Tangan yang tadinya tidak terlalu merasakan beban ternyata telah menjadi kebas (bukan anaknya bapak presiden itu ya maksudnya).
            Mamah ternyata masih beredar di sekitar tempat daging dengan beberapa tkang daging melambai-lambaikan tangannya. Selain membeli daging, mamah juga membeli babat, jeroan sumber kolesterol itu. Mamah berhenti belanja daging setelah dingatkan kalau yang dipegang saat ini adalah bakul kedua.
            Belanjaan mamah dilanjutkan dengan membeli bumbu. Aneka bumbu yang sudah dihaluskan ini akhirnya ditambah dengan bahan-bahan lainnya. Jeruk nipis, bawang merah, bawang putih, akhirnya ikut terbeli. Kedua tangan sang asisten pembawa bakul penuh dengan tentengan. Terdengar bunyi-bunyian dari kantong HP di pergelangan tangan. Ada bunyi bbm, sms, email dan sambungan telpon. Sambungan telpon yang setelah diintip bernomor awal +65….Pak (wakil) ketua natal memantau langsung persiapan natal dari negeri tetangga. Untuk sementara, aneka bunyi-bunyian itu terpaksa dicuekkin. Maaf ya….
            Setelah hampir semua belanjaan terbeli, sayapun pamit sebentar untuk menjelajah pasar sendirian, mencari perlengkapan buat malam natal yang ternyata….tidak ditemukan. Mamah yang ditinggalkan sebentar sedang asik menawar harga buah dan telur asin. Akhirnya kami pulang dengan bahan makanan setengah mobil. {ST}

Beli buku di sini

Toko Buku Online Belbuk.com

Popular Posts

Isi blog ini

Label

#1Traveler1Book (1) #NgopiBarengTiket (1) 17 Agustus (1) 7 habits (1) Abalone (1) Abdi negara (1) Abu vulkanik (2) AC (2) Adopsi (1) Adu domba (1) Adven (1) Aeon (1) Aerofit (1) Afghan girl (1) Afrika Selatan (1) Agama (4) Ahok (1) AIDS (1) Air (2) Air hidup (1) Air minum (1) Air panas (1) Air putih (8) Air show (1) Air tebu (1) Air terjun (2) Airport (1) Akar kuning (1) Akhir tahun (1) Aksara (1) Alamanda (1) Alasan (1) Alat tulis (1) Alay (1) Albino (1) Alis (2) Almamater (1) Alto (1) Alun-alun Kidul Jogja # (21) Amazing family (1) Ambulans (2) Ampera (1) Anak domba (1) Anak Indonesia (1) Anak kanker (1) Anak kecil (27) Ancol (15) Andar Ismail (1) Angeline (1) Anggaran (1) Anggota dewan (1) Anggrek (45) Anggrek Cantik # (40) Anggun (1) Angin (1) Angkot (8) Angkringan (1) Angsa (2) Angsa hitam (1) Angsana (1) Anjing (9) Anjungan Sumatra Barat di TMII # (14) Anna Karenina (1) Anting-anting (1) Antre (3) Antrean (1) Anyaman (12) Anyaman dari Kalimantan # (11) Apam (1) APAR (1) Apartemen (1) Apartheid (1) Apel (1) Arang (2) Arem-arem (2) Arkeologi (1) Art (1) ART|JOG|2013 (47) Artikel (2) Artis (1) Asap (15) Asbun (1) ASEAN (1) Asian Games 2018 (11) Asinan (1) Astronomi (5) Atap (3) Atlet (1) ATM (1) Autis (1) Avtur (1) Awan (1) Ayam (2) Ayam goreng (3) ayam kate (1) Babal (1) Babat (1) Babi (2) Babi hitam (1) Babi panggang (2) Badak (2) Bagasi (5) Bahan alami (1) Bahan bakar (1) Bahasa (5) Bahasa asing (1) Bahasa Indonesia (3) Bahasa ngaco (2) Bajaj (4) Bajak (1) Bajei (1) Baju (2) Baju bekas (2) Baju koko (1) Bak (1) Bak air (1) Bakiak (1) Bakmi (7) Bakmi jowo (2) Bakpao (1) Bakso (11) Bakul (2) Balai Kota (1) Balanga (1) Balap (1) Balap karung (1) Balerina (1) Bali (10) Bali Baru (1) Balkon (1) Balon (1) Bambu (3) Ban (1) Ban berjalan (1) Bandana (1) Bandara (21) Bandul (1) Bandung (5) Bang (1) Bangka (10) Bangka Belitong # (76) Bangku (2) Bangku taman (1) Bangunan (3) Banjarmasin (9) Banjir (12) Banjir Jakarta Januari 2013 (8) Bank (2) Baram (1) Barigas (1) Baskom (1) Batik (2) Batu (2) Batu Mahasur (1) Batuk (3) Bau busuk (1) Bawah jembatan (1) Bawang (5) Bayam (1) Bayi (5) BBM (6) BBW (1) Beasiswa (1) Bebek (4) Bebek kuning (1) Becak (2) Becak motor (1) Bedak (1) Beduk (1) Bekal (3) Bekasi (1) Belajar (3) Belajar saham (1) Belalang (4) Belanda (1) Belang (1) Belanja (4) Belanja online (1) Belimbing (1) Belimbing tunjuk (1) Belut (1) Bemo (1) Bencana (1) Benda kuno (1) Bendera (2) Bensin (2) Bentor (2) Beras (1) Berastagi (1) Berat badan (1) Beringin (1) Beringin putih (1) Bersih (1) Beruang (1) Betang (1) Biaya hidup (1) Bibi (1) Bibit (1) Bicara (1) Big Bad Wolf (1) Biji (1) Bilingual (1) Binder (1) Bintang (2) Biskuit (1) Bisnis (2) Bisu (1) Bit (1) Blog (4) Blogger (1) BMKG (1) BNN (1) Bobo (1) Bobo Online (1) Bogor (4) Boko Haram (1) Bola (3) Bola pasir (1) Bolong (1) Bolpen (2) Bolpen senter (1) Bolpoin (1) Bolu (1) Bom (3) Boneka (10) Boneka monyet (1) Boneka tangan (2) Borobudur Mini # (12) Botol (4) BPJS (1) BPK (1) Bra (1) Braille (1) Buaya (3) Buaya di Tanjung Pasir # (87) Bubur (1) Budaya (1) Budaya tulis (1) Budaya tutur (1) Bue (2) Buket bunga (1) Bukit Batu (2) Bukit Batu di Katingan (82) Buku (28) Buku anak (1) Buku catatan (1) Bulan (2) Bulan keluarga (5) Bulu mata (2) Bumbu (1) Bumi (2) Bumi bulat (1) Bunda (1) Bundaran (3) Bunga (6) Bunga kopi (1) Bunga Matahari (1) Bungkus (1) Buntil (1) Burger (1) Buruh (1) Burung (1) Burung Kasuari (1) Burung kuau (1) Burung Tingang (1) Bus (9) Bus Surat (1) Bus wisata (2) Busung lapar (1) Busway (2) Buta (2) Buta huruf (1) Buzzer (1) Cabe (10) Cabe puyang (1) Cadar (1) Caleg (5) Calo (1) Cangkir (1) Cantik (2) Canting (1) Capres (4) Capung # (46) Car Free Day (2) Cara pandang (1) Caroling (2) Cat kuku (1) Catatan Awal Tahun 2014 (7) Catatan Gak Resmi Sekretaris Majelis (43) Catatan Seorang Editor (30) Catatan Ulang Tahun (16) Celana (1) Celengan (1) Celengan babi (1) Cempaka Putih (2) Cerita Anak (7) Cermin (1) Charger (2) Cheesecake (1) Cicak (3) Cikini (2) Cilukba (1) Cimahi (1) Cina (2) Cincin (1) Cinderella (1) Cipera (1) CISC (1) Cobek (1) Coklat (1) Colokan (2) CSI (1) Cuaca (2) Cuci piring (1) Cuci tangan (1) Cucian (1) Cukur (1) Cupcake (1) Curhat (1) Curug (1) Dadu (1) Daerah Wisata (1) Daging (1) Dakron (1) DAMRI (1) Dana riset (1) Danau (1) Danau Toba (2) Danau Toba # (63) Dandan (2) Dapur (3) Darah (1) Dasar (1) Data (1) Data BMKG (1) Daun (388) Daun Cantik # (520) Daun mangkokan (1) Daun pisang (1) Dayak (27) Dayung (1) Dealer mobil (1) Debat (1) Debat capres (1) Debu (1) Dehidrasi (2) Delman (2) Demonstrasi (1) Desa (1) Desa Lingga (2) Desa Nelayan (1) Desa Sungai Tabuk (1) Detektif (2) Dewasa (1) Diam (1) Diare (1) Diet (3) Diet GM (2) Dinding (1) Dingin (1) Dirgahayu Kalteng (10) Dirjen Perhubungan Darat (1) Diskon (1) Diskon palsu (1) Disney (1) Doa (4) Dodika (1) Dodol (1) Dokter (4) Domba (1) Dongeng (2) Donor (1) Donor darah (1) Doraemon (1) DPR (2) Driver (1) Duduk (1) Duel otak (1) dunia (1) Dunia Air (64) Dunia Bacaan (35) Dunia Batik (3) Dunia Buah (42) Dunia Bunga (54) Dunia Burung (10) Dunia Catatan Harian (994) Dunia Daun (435) Dunia Fantasi (8) Dunia Fauna (124) Dunia Hutan (42) Dunia Jalanan (353) Dunia Jualan (144) Dunia Kalimantan (134) Dunia Kendaraan (97) Dunia Kerabat (127) Dunia Kesehatan (12) Dunia Kristen (7) Dunia Makanan (202) Dunia Minuman (26) Dunia Museum (199) Dunia Musik (9) Dunia Pasar (58) Dunia Pelajaran (50) Dunia Peristiwa (33) Dunia Pohon (38) Dunia Puisi (1) Dunia Renungan (5) Dunia Sekitar (300) Dunia Taman (16) Durian (3) Duwet (1) Eboni (1) Ekonomi kreatif (1) Ekowisata (1) Eksekusi (1) Ekuinoks (1) Elang (3) Elang bondol (1) Elang jawa (1) Elpiji (1) Email (2) Enggang (1) Ensiklopedia (1) Es batu (1) Etika (1) Etika batuk (1) Eyang (1) EYD (1) F1 (1) Facebook (6) Fashion (1) Fauna identitas Kalimantan Tengah (1) FBIM (2) Feri (1) Festival (4) Festival Budaya Isen Mulang (1) Festival Lampion # (58) Fiksi (1) Film (2) Film India (1) Fitness (1) Flona 2014 # (81) Flora (1) Fly over (1) Formula 1 (1) Foto (7) Friday the 13th (1) Furnitur (1) Gadget (1) Gado-gado (2) Gadungan (1) Gajah (3) Galon (4) Galur (1) Game (3) garam (1) Garasi (1) Garis polisi (1) Gas elpiji (1) Gaya hidup (1) GBK (1) GBKP (1) Gedung (1) Gelas (4) Gelato (1) Gelo (1) Gembok (2) Gembok cinta (1) Gempa (7) Gemuk (1) Gendut (1) Gerakan nasional membaca (2) Gerbang (1) Gereja (6) Gereja Kota Baru di Jogja # (12) Gerhana (4) Gerhana bulan (2) Gerhana matahari (1) Gerobak (5) Getek (1) Gigi (1) GKI Kwitang (56) Gladi resik (1) Globe (1) Gojek (4) Gong (1) Google (1) Gorengan (6) Grand Indonesia (1) Griya Anggrek (2) Grogol (1) Gs (1) Gua (1) Gua Pindul (1) Gua Pindul # (6) Gubernur (3) Guci (1) Gudeg (2) Gula (1) Gula merah (1) Gulai (1) Gule (1) Gungung Sinabung (1) Gunting kuku (3) Gunung (19) Gunung Kidul (1) Gunung Sibayak (1) Gunung Sinabung (4) Gunung Sinabung # (15) Guru (7) Gusti Nurul (1) Hadiah (2) Hakim (1) Halte (3) Hamaring (1) Hamil (1) Hamka (1) Hantaran merah (1) Hantu (1) Harbolnas (1) Harga (1) Hari Bebas Kendaraan Bermotor (2) Hari Buah (1) Hari Guru (1) Hari pahlawan (3) Hari penting (2) Harimau (1) Harry Potter (1) Harta (1) Hasil bumi (1) Helm (4) Hercules (2) Hiasan (1) Hiasan kepala (1) Hidran (1) Hikmah (1) HIV (1) Hoax (1) Hobi (2) Honey (1) Horor (1) Hotel (2) HP (2) Hudok (1) Hujan (5) Hunan (1) Huruf (1) Huruf braille (1) HUT (2) HUT Kalimantan Tengah (11) HUT RI (3) Hutan Bakau # (34) Hutan berkabut (1) Hutan kota (3) Hutan Kota Srengseng # (49) Ibadah kreatif (1) Ibis (1) Ibu dan anak (1) Ide (1) Idola (2) Idul Adha (1) Ikan (10) Ikan asin (2) Ikan bakar (3) Ikan haruan (1) Ikan teri (1) Iklan (1) Ilalang (1) Imlek (3) Imogiri (1) Impian (5) In memoriam Joris Rahadi (4) In Memoriam Normalasari Butarbutar (1) In Memoriam Sumarlan Margono (1) India (1) Indonesia (4) Informasi (1) Insting (1) Insulin (1) Internet (9) Intoleransi (1) Irak (1) Isen Mulang (1) Isi boneka (1) Jadul (1) Jadwal (1) Jagung (3) Jagung bakar (1) Jajanan (1) Jakarnaval (4) Jakarnaval 2014 # (186) Jakarta (378) Jakarta dari Puncak Monas # (37) Jakarta night market (1) Jakarta Tingkat Tinggi # (6) Jalan kaki (1) Jalan layang (1) Jalan Panjang (1) Jalan Sabang (1) Jalanan Jakarta # (151) Jam tangan (2) Jambal (1) Jambolan (1) Jambret (1) Jambu biji (1) Jamu (3) Jamur (3) Jamur enoki (1) Jangan pernah bercanda soal bom (1) Jantung (1) Jantungan (1) Jari (3) Jarum pentul (1) Jasa (1) Jatibaru (1) Jawa (1) Jazz (1) Jedi (1) Jelalatan (1) Jembatan (6) Jembatan putus (1) Jengkol (1) Jepitan rambut (1) Jeruk (5) Joey Alexander (1) Jogja (32) Joke (1) Joyful Choir (2) Juhu (4) Jukung (2) Jumat Agung (2) Jumat. Mitos (1) Jurusan Sekolah (1) Jus (1) KA (1) Kabanjahe (16) Kabel (1) Kabinet Kerja (7) Kabut (3) Kacamata (5) Kacamata kuda (1) Kacang (1) Kacapiring (1) Kado (3) Kain (3) Kakatua (1) Kaki (3) Kaki bayi (2) Kaktus (1) Kaledo (1) Kalender (1) Kalender libur (1) Kalimantan (3) Kalimantan Tengah (12) Kalimantan Tengah # (81) Kalkulator (1) Kalung (1) Kamar (4) Kamar kubus (1) Kamar mandi (2) Kambing (2) Kamboja (1) Kamera (2) Kamera poket (1) Kamis Putih (1) Kampanye (7) Kampung (1) Kanal (3) Kanal banjir (1) Kancing (1) Kandang (1) Kanjat (1) Kanker (3) Kantin (2) Kantong plastik (3) Kantong semar (1) Kantor (1) Kantor pajak (1) Kaos (1) Kapal (3) Kapal selam (1) Kapel (1) Kapolri (3) Kapuas (1) Kapuk (1) Karamunting (2) Karnaval (3) Kartu identitas (1) Kartu Jakarta Pintar (1) Kartu pers (1) Karung (1) karya tulis (1) Kasai (1) Kasir (1) Kasongan (5) Kastengel (1) Kasuari (1) Kasur (2) Kata (1) Katingan (1) Katokkon (1) Kaus (1) Kaus kaki (1) Kayang (1) Kayu (3) Kayu bakar (1) Kayu hitam (1) Kayu Putih (1) Kebakaran (4) Kebakaran hutan (1) Kebaktian (1) Kebaktian akhir tahun (1) Kebanggaan Indonesia (1) Kebaya (3) Kebersihan (2) Kebiasaan (3) Kebon Jeruk (2) Kebon Kacang (1) Kebudayaan (2) Kebudayaan Korea (1) Kebun (3) Kebun Binatang (1) Kebun Binatang RAgunan (1) Kebun Raya Bogor (2) Kecap (1) Kecelakaan (2) Kecewa (2) Kecoa (1) Kecombrang (2) Kedai kopi (1) Kedelai (1) Kedokteran (1) Kedondong (1) Kekanakan (1) Kelakai (1) Kelapa (3) Kelapa Gading (6) Kelapa sawit (3) Kelas (1) Kelereng (1) Keliling dunia (4) Kelinci (3) Keluarga (3) Keluarga berdiakonia (1) Kelurahan (3) Kemacetan (1) Kembang api (4) Kembar (1) Kemiskinan (4) Kendi (1) Kenek (1) Keong (1) Keong Mas (2) Kepiting (2) Keponakan (1) Kepribadian (2) Kerabat (2) Kerak telor (2) Keramik (1) Kerang (1) Kerapu (1) Kerbau (2) Kerempeng (1) Kereta (2) Kereta api (9) Kereta kuda (2) Keroncong (1) Kertas (2) Kerupuk (5) Kesehatan (2) Keselamatan di jalan (1) Keterampilan (1) Ketik (1) Keyboard (1) Khotbah (2) Kidsfest (1) Kidu-kidu (1) Kipas (1) Kipas angin (1) Kismis (1) Kitab suci (1) KJP (1) Klakson (1) Klengkeng (1) Klinik (1) Kloning (1) Kloset (2) Kodok (2) Koin (1) Kol (2) Kolam (6) Kolam ikan (2) Kolam renang (1) Koleksi (3) Komentar (2) Komidi putar (1) Komodo (1) Kompetisi (1) Kompor (3) Komputer (3) Komunikasi (1) Konferensi (1) Konferensi Anak Indonesia 2015 (9) Konferensi Asia Afrika (1) Konsentrasi (1) Konser (2) Kontroversi (1) Koper (3) Kopi (7) Kopitiam (4) Kora-kora (1) Koran (4) Korea (1) Kos (1) Kota (1) Kota di Indonesia (1) Kota Kabanjahe # (42) Kotak (1) Kotak makan. (3) Kotak pos (1) Kotak putih (1) KPAI (1) KPI (1) KPK (2) Kreatif (2) Krematorium (1) Kriminal (4) KRL (3) KTP (1) Kuau (1) Kubis (1) Kubus (1) Kucing (14) Kucing hitam (2) Kucing Kecil # (13) Kuda (4) Kue (6) Kue cucur (1) Kue leker (1) Kue Leker di Depan GKI Kwitang # (5) Kuis (1) Kuis kepribadian (1) Kuli (1) Kuliah (1) Kuliner (7) Kulit (1) Kunang-kunang (1) Kunyit (1) Kupu-kupu (1) Kura-kura (14) Kursi (3) Kurus (2) Kutu (2) Kwitang (1) Labi-labi (1) Ladang (1) Lagu (3) Lagu anak (1) Lalat (2) Lalu lintas (1) Laluhan (1) Lampion (1) Lampu (6) Lampu lalu lintas (2) Lampu teplok (1) Landak (1) Landas pacu (1) Langit (3) Lansia (1) Lapangan (1) Lapis legit (1) Lapo (2) Laporan (1) Laptop (1) Laut (1) Lavender (1) Layang-layang (1) Layar (1) Lebaran (6) Lebaran Betawi 2014 # (23) Lee Kwan Yew (3) Lego (3) Lego City # (3) Lektor (1) Lelucon (1) Lemang (1) Lemari (1) Lemari jati (1) lemari jati berukir (1) Lemon (1) Lempar kaleng (1) Lemper (1) Lensa (1) Libur (12) Libur panjang (3) Lift (2) Liger (1) Lili hujan (1) Lilin (1) Lion Air (1) Lirik lagu (1) Listrik (7) Lobster (1) Loker (1) Lomba (3) Lomba menyusui (1) Long john (1) Lontong (1) Lori (1) Lotek (1) LPG (1) Lubang gigi (1) Ludo (1) Lukisan (5) Lumpur (2) Maaf (1) Mabuk (1) Mac Taylor (1) Macet (5) Madu (1) Mahar (1) Mahkota (1) Mainan (5) Majalah (2) Makam (2) Makan kerupuk (1) Makanan (3) Makanan ikan (1) makanan jalanan (2) Makanan ringan (1) Malaikat (1) Malala (1) Malam (1) Maling (2) Mall (3) Mandala Suci Wenara Wana (1) Mandi bola (1) Manetek pantan (2) Mangga (3) Manggis (2) Mangkok (4) Mangut (1) Mangut lele (1) Mantan (1) Manusia (2) Marah (1) Maritim (1) Masa kecil (1) Masak (1) Masak habang (1) Masalah (2) Masker (2) Mata (1) Matahari (3) Matraman (2) Mawar (2) Mayday (2) Mazmur (1) MDGs (1) MEA (1) Medan (4) Media cetak (1) Media massa (2) Media sosial (3) Medical check up (1) Meditasi (1) Medsos (1) Megaria (1) Meja (1) Melayang (1) Membaca (11) Mencuci (1) Mengecilkan Perut (1) Mengetik (6) Mengurus SIM (2) Menlu (1) Menteng (1) Menteri (2) Mentjos (1) Menulis (7) Menyelam (1) Menyusui (1) Merah (1) Merah putih (1) Merak (2) Merangkai manik-manik (4) Merauke (1) Merdeka (1) Merpati (1) Merry Riana (1) Mesisin (1) Metro mini (1) Metromini (1) Mewarnai (1) Mi instan (1) Migren (1) Mikrolet (1) Mina (1) Minggu (1) Miniatur (1) Minuman (1) Minyak (1) Miss Universe (1) Mobil (16) Mobil putih (3) Mobil-mobilan (1) Mobil-mobilan # (30) Mocil Kencana Wangi (18) Model (2) Monas (32) Monitor (1) Monyet (5) Morse (1) Motivator (1) Motor-motoran # (6) Mouse (1) MPR (1) MPV (1) Muara (1) Muara sungai (1) Muatan lokal (1) Mudik (1) Mudik Akhir Tahun 2014 (32) Mudik Natalan (30) Mudik Paskah 2016 (5) Mural (3) Murtaza Ahmadi (1) Museum Gajah # (82) Museum Karo Lingga # (20) Museum Prangko # (24) Museum Serangga # (26) Museum Transportasi # (53) Museum Ullen Sentalu (1) Musim dingin (1) Naga (2) Nama (5) Nangis (2) Nangka (2) Napi (1) Narkoba (3) Narsis (1) Nasi (6) Nasi kucing (1) Nasi kuning (1) Nasi uduk (1) Nasionalis (1) Natal (5) Natal 2011 (8) Natal 2012 (12) Natal 2013 (3) Natal 2014 (1) Natal 2015 (5) Nawacita (1) Nebeng (1) Nekat (1) Nelayan (2) Nelson Mandela (1) Neon (1) Network marketing (1) Ngantuk (1) Ngopi (3) Ngorok (1) Nitiprayan (1) Nobar (1) Nobel (2) Nomor Cantik (1) Nonton (2) November (1) Nutrisi (1) Nyamuk (2) Nyanyian (3) Nyekar (1) Obat (8) Obat batuk (1) Obesitas (1) Odong-odong (3) Ojek (7) Oksigen (2) Olahraga (5) Oleh-oleh (2) Olympus (1) om telolet om (1) Omahkebon (1) Ondel-ondel (3) One Day with Dayak 2011 (6) Ongkos (1) Online (3) Opang (1) Optik (1) Oralit (1) Orang terkenal (1) Orang utan (2) Orang-orangan (1) Oranye (1) Otomotif (1) Paduan suara (2) Pahlawan (6) Pajak (1) Pajangan (1) Pakaian (5) Pakis (1) Paku (2) Paku-pakuan (1) Palangkaraya (67) Palem (1) Palu (1) Pameran (1) Panarung (1) Panci (1) Pangdam (1) Pangeran Diponegoro (1) Panggung (1) Pangkalpinang (3) Pangsit (1) Panik (1) Panjat pinang (1) Panji Amabar Pasir # (15) Panta Losari (1) Pantai (6) Pantai Anugerah (1) Pantai Indrayanti # (10) Pantan (1) Panti asuhan (2) Papah (2) Papan (1) Papan lagu (1) Papeda (1) Papilak (1) Papua (2) Pare ular (1) Paris (1) Pariwisata (5) Parkir (8) Parpol (2) Pasar (6) Pasar Baru (1) Pasar Beringharjo (2) Pasar malam (2) Pasar Rumput (1) Pasar Senen (1) Pasar Seni Ancol # (15) Paseban (1) Pasien (1) Pasir (4) Paskah 2012 (2) Paskah 2014 (1) Paskah 2015 (5) Paskhas (2) Pasukan Oranye (2) Pasung (1) Patin (1) Patung (3) Patung pahlawan (1) Pawai Budaya Kreatif 2014 # (315) Payung (8) Pdt. Lindawati Niman (1) Pecel (2) Pedas (2) Pedialyte (1) Pejabat (2) Pejuang (1) Pekan Budaya Dayak 2013 (13) Pekan Rakyat Jakarta (3) Pekerjaan sambilan. Majalah (1) Peladang (1) Pelaju (1) Pelangi (2) Pelangkah (1) Pelantikan Presiden 2014 (13) Pelatihan (1) Pelawak (1) Pelayanan publik (1) Pelecehan seksual (1) Pemadam kebakaran (3) Pemakaman (2) Pemanas air (1) Pembalut wanita (2) Pembantu (1) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (1) Pemda (1) Pemilu (12) Pemilu 2014 (23) Pemimpin (1) Pemotong rumput (1) Pempek (1) Pemulung (1) Penari balet (1) Penatua (2) Pencipta lagu (1) Pencok (1) Penculikan (1) Pendeta (2) Pendidikan (7) Pendidikan dasar (2) Penerbangan (4) Pengalaman (1) Pengamen (1) Pengampunan (1) Pengantin (1) Pengemis (1) Penginapan (1) Pengungsi (4) Penipuan (1) Penitipan barang (1) Penjajah (3) Penjara (2) Penjepit ponsel (1) Penjual koran (2) Penjual majalah (1) Pensil (2) Pentakosta (1) Penunjuk arah angin (1) Penyu # (8) Pepaya (1) Perancis (2) Perang (1) Perbatasan (1) Perempuan (2) Perguruan tinggi (1) Perjalanan (1) Perkalian (1) Permainan (3) Permen (1) Permen batu (1) Perosotan (1) Perpustakaan (10) Perpustakaan Nasional RI (1) Perpustakan tertinggi (1) Persembahan (1) Persidangan (1) Perteguhan (1) Perut (1) Pesawat (21) Pesawat amfibi (1) Pesawat-pesawatan # (1) Pestisida (1) Peta (1) Petani (1) Pete (1) Peternakan (1) Peti (1) Petisi (2) Petugas kebersihan (3) Petunjuk (1) Petunjuk jalan (1) Pewarna (1) Peyek (1) Piala (1) Piano (1) Pigura (1) Pijat (6) Pijat refleksi (1) Pilar (1) Pilgub Jakarta (1) Pilkada (3) Pilkada DKI Jakarta (1) Pinang (1) Pinggang (1) Pink (2) Pintu (1) Pintu toilet (1) Pion (1) Pipis (1) Pisang (3) Pisau (1) Planetarium (1) Plastik (5) PNS (1) Pohon (1) Pohon cabe (1) Pohon natal (8) Pohon natal boneka (1) Pohon rambutan (1) Pohon salak (1) Polantas (1) Polisi (3) Politik (1) Polos (1) Polusi (3) Polusi suara (3) Pompa tangan (1) Pondok Gede (3) Ponsel (1) Portal (2) Pos satpam (1) Pot (1) Pou (1) Prambanan # (78) Pramugari (1) Pramuka (1) Presiden (4) PRJ (2) PRJ di Monas 2014 # (78) Profesor (1) Proklamator (1) Puasa (2) Pucuk merah (2) Pujian (1) Pukung (1) Pulau (2) Pulau buatan (1) Pulau Seribu (1) Pulomas (1) Pulsa (1) Pulut (1) Pundang (1) Pungli (4) Pura (1) Puro Pakualaman (2) Pusat perbelanjaan (2) Puskesmas (1) Putu bambu (2) Radio (4) Ragunan (1) Raja (1) Raja Arab Saudi (1) Raja Salman (1) Raja Thailand (1) Rajungan (1) RAk buku (1) Ramadhan (2) Rambut (6) Rambutan (5) Ratu (2) Ratu Victoria (1) Rawamangun (1) Rawon (1) Refleksi (1) Rekaman (1) Reklamasi (1) Rel (1) Religius (1) Remah-remah (1) Remaja (3) Reptil (2) Restoran (5) Retail (1) Reuni (1) Rimbang (2) Rio Haryanto (1) Riset (1) Risma (1) Robot (1) Rohingya (1) Rok (4) Rokok (3) Rotan (3) Roti (2) Roti buaya (1) RPTRA (1) RTR (3) Ruang tunggu (2) Rujak (1) Rujak cingur (1) Ruko (2) Rumah (19) Rumah adat (2) Rumah hantu (1) Rumah impian (1) Rumah kos (1) Rumah leluhur (1) Rumah makan (13) Rumah sakit (9) Rumah singgah (2) Rumah susun (1) Rumah Tjilik Riwut (1) Rumput (6) Rumput laut (2) Rupiah (1) Rusa (2) Rute belanja (1) RUU (1) Sabtu Sunyi (1) Sadiq Khan (1) Sahabat (1) Saham (1) Sajen (1) SAL PHB (1) Salad (1) Salah asuhan (1) Salak (3) Salak hutan (1) Salam (1) Salemba (1) Salib (1) Salju (2) Sambel (1) Sampah (5) Sampit (1) Sandal (1) Sandung (3) Sanggul (1) Sangkirai (1) Sanksi (1) Santan (1) Saos (1) Sapi (7) Sapi # (17) Sapi perah (6) Sapo (1) Sapundu (1) Sarang (1) Sarang semut (1) Sarapan (3) Sarinah (1) Sarjana (1) Sasando (1) Sashimi (1) Sate (7) Sate klatak (1) Sawah (4) Sawah # (10) Sayap ayam (1) Sayur (4) SD (2) SD Card (1) Sebentar (1) Secret Millionaire (1) Sedih (1) Sedotan (2) Sejuta dollar (1) Sekolah (4) Selendang (1) Selfie (1) Semarang (3) Sembako (1) Seminar (1) Semut (3) Semut jepang (1) Sendal (1) Sendal bolong (1) Senen (1) Seni (19) Senirupa (2) Senjata (2) Sensus (1) Sensus ekonomi (1) Sensus Ekonomi 2016 (1) Senter (1) Senyum (1) Sepak bola (3) Sepatu (4) Sepatu nyitnyet (1) Sepeda motor (1) Serangga (4) Serangga di Pohon Tisik Manjuhan # (42) Serbet (1) Setrika (1) Setrika arang (1) Shampoo (2) Sherlock Holmes (1) Shisha (1) Siaga (1) Siaga bencana (1) Siaran (1) Siaran radio (1) Sifat (1) Sifat orang (1) Sihir (1) Sikap hidup (1) Sikutan (1) SIM (2) Sinar matahari (2) Singa (1) Singgasana (1) Singkah potok (1) Singkatan (1) Sirih (1) Sirih pinang (1) Sirkus (1) Sirup (1) Skateboard (1) SLB Surya Wiyata (2) Smartphone (1) SMS (1) Snape (1) Sombong (1) Sopan (1) Soto (7) Soto banjar (2) Soto ceker (1) Soto gebrak (1) SPBU (1) Spiderman (1) Spiritual (1) Sreet food (1) Star Wars (4) Starparty (1) Stasiun (1) Status (1) Steller (1) Stiker (1) Suara (3) Submarine (1) Subsidi (1) Sukamara (3) Sumatra Utara (29) Sumur (1) Sungai (8) Sungai Jelai (1) Sungai Kahayan (5) Sungai Tabuk (1) Sungai teh (1) Superman (1) Supermoon (1) Supir (2) Supir taksi (1) Suriah (1) Survei (1) Sushi (2) Susu (4) Susu cokelat (2) Susur Sungai Kahayan # (18) Suvenir (3) Swafoto (1) Syukur (1) Syukuran (1) Syukuran Rakyat 2014 # (48) Tabrakan (2) Tabung Gas (1) Tabungan (1) Tahu (2) Tahun baru (8) Tajau (1) Taksi (11) Talang (1) Talasemia (1) Taman (2) Taman bermain (1) Taman Burung di TMII # (158) Taman Lawang (1) Taman nasional (2) Tambang (1) Tampah (1) Tamu (1) Tana Toraja (6) Tanah Abang (2) Tanah Karo (5) Tanah kosong (1) Tanah liat (1) Tanah Tinggi (1) Tanaman (3) Tanda identitas (1) Tanda terima (1) Tang (1) Tangan (1) Tangerang (1) Tangga (1) Tangkiling (3) Tanjung Pandan (1) Tante (1) Target (1) Tarian (1) Tarif angkot (1) Tarik tambang (1) Tas (5) Tasak telu (1) Tatakan (1) Teater (1) Teater Koma: Demonstran # (14) Tebet (4) Tedong (2) Teh (2) Teh poci (1) Tekanan darah (1) Teknologi (2) Tekukur (3) Tekukur # (12) Telaga (1) Telepon (1) Telepon umum (2) Teleskop (1) telolet (1) Telor (2) Telur asin (2) Tempat tidur (3) Tempat tinggal (1) Tempe (4) Tenaga kerja (1) Tenda (2) Tentara (2) Teratai (1) Terbang (2) Teri (1) Terjun payung (1) Terminal (2) Terminal Rawamangun (1) Ternak (1) Terong (1) tes kesehatan (1) Tetangga (3) Tewang Pajangan (3) Thailand (1) The (1) THR (1) Tiang (2) Tidur (2) Tigon (1) Tiket (5) Tikus (3) Timbangan (1) Timbangan pasar (1) Timnas U-19 (1) Tingang (1) Tionghoa (1) Tiongkok (2) Tips (1) Tirai (1) Tisu (2) Tiwah (51) Tiwah di Tumbang Liting # (49) TK (2) TMII (18) TNI AU (3) Toilet (9) Toko (1) Toleransi (1) Tomat (3) Tongkat (1) Tongkonan (1) Tongkrongan (1) Tongsis (2) Topeng (2) Topi (3) Topi merah (1) Topi santa (1) Toraja (1) Totok wajah (1) TPS (2) Tradisi (1) Tragedi (1) Transjakarta (49) Transportasi (40) Transportasi online (2) Trending topic (3) Troli (2) Trotoar (3) Trowulan (1) Tugu (2) Tugu Reformasi (1) Tukang sayur (3) Tulalit (1) Tulang (1) Tuli (1) Tulisan (15) Tulisan dinding (1) Tumbang Liting (4) Tumbuhan (4) Tumpeng (1) Tunanetra (1) Tungku (1) Turki (1) Tutut (1) TV (8) Twitter (2) Uang (3) Uang baru (1) Uang kertas (2) Uang rupiah (1) Uban (2) Ubud (7) Udang (1) Ujian SIM (1) ukiran (1) Ulang tahun (2) Ular (3) Ular kobra (1) Ulat (1) Ulat bulu (1) Ulekan (1) Ulos (2) Umbul-umbul (1) Unduh-unduh (1) Ungu (2) Universitas (1) Upacara (2) Upacara bendera (1) Upacara bendra (1) Usia indah (1) Ustad (1) UWRF (1) Vaksin (2) Valentine (1) VCD (1) Veteran (1) Video (1) Virtual office (1) Virus (1) Wafer (1) Waktu (1) Walet (1) Wali kota (1) Warga negara (1) Warisan (1) Warkop (1) Warna (3) Warna-warni (2) Wartawan (1) Wartel (1) Warung (5) Wastafel (1) Wayang (1) Website (1) Wesel (1) Whatsapp (1) Wi Fi (1) Wika (1) Wisata (3) WNI (1) Wortel (1) YKAKI (2) Yunani (1) Zaitun (1) Ziarah (2) Zodiak (1) Zumba (1)