Ana

Sabtu, 09 Oktober 2010

6 Oktober 2010, Rabu : Planetarium


Hari ini aku bangun cukup pagi, tapi ketiduran lagi hehehe...Baru bangun lagi jam 7 lewat gitu deh. Sarapan pagi dan langsung berurusan dengan komputer. Kirim cerita ke Majalah Bobo. Kirim email foto produk ke teman-teman sekalian jualan. Bikin cerita baru tentang capung, payung dan....kecoak. Yang kecoak belum kelar juga sampai sekarang. Terhenti di tengah jalan karena rada jijay hehehe...Hari ini juga niatnya aku mau bikin tulisan pendahuluan untuk Tiwah yang lagi ada di Kalimantan Tengah, buat di webnya DYC.
Setelah mata lelah, aku istirahat sebentar. Baru sadar juga kalo perut lapar. Tadi pagi cuma makan salad kentang sedikit. Lapernya itu sampe perutnya bunyi segala. Jadi malu hehehe...
Yaya kirim foto menu makan siangnya hari ini, kaledo. Kaledo itu makanan yang aku kekanl di Palu. Kaledo = kaki lembu donggala. Makanan ini memang bahannya sebagian besar dari tulangan kaki lembu dengan sedikit daging yang melekat dan sumsum di dalam tulangnya. Makanan ini berkuah asam berkaldu. Enak banget deh,,,aku suka banget. Cara makannya kalo di Palu pake singkong, pake nasi juga bisa sih. Kata Yaya, kaledo yang ini rasanya hampir sama seperti kaledo yang asli. Segar. Kami semua jadi ngiler. Mamah malah berencana mau nyobain besoknya.
Sorenya aku ke planetarium sama adikku Yiyi. Ide ini awalnya cuma dari asal ngomong yang bersambut. Senang juga ada orang lain yang punya minat sama. Kami niat banget ke sananya. Waktu berangkat, langit mendung. Tiba di sana? Hujan lebaatttt banget, udah kaya badai. Kebayang deh pasti di beberapa daerah di Jakarta ini macet berat karena hujan. Kami turundari mobil pake payung sahabat anak yang memang menghuni mocilku. Parkirnya gak terlalu jauh dari pintu masuk.
Tiba di sana, sudah banyak anak-anak kecil yang tampaknya masih SD. Seragamnya batik hijau putih dan bawahan putih. Anak-anak itu bertebaran di aneka penjuru ruang tunggu itu. Kami langsung menuju loket untuk membeli karcis. Karcis untuk dewasa harganya Rp 7000. Itu aja katanya sudah naik. Okelah kalo begitu. Antriannya pake tempat duduk berbahan logam dengan tulisan ‘planetarium jakarta’. Tulisannya dibentuk dari lobang-lobang kecil di kursi itu. Sembari menunggu kami melihat-lihat papan informasi yang dipajang di sana smabil ngobrol. Setelah papan informasi dibaca semua sedangkan pintu teater belum dibuka, kami menunggu di kursi biru bolong-bolong.
Mina An minta dikirimi foto barang dagangan. Aku baru bisa kirim yang pas barangnya kebetulan bawa dan sepertinya cocok dengan eventnya.
Kami nanya ke satpam bernama Rossy  juga mengapa pintu teaternya belum dibuka. Katanya lagi ada kunjungan dari entah siapa aku gak jelas juga, tapi mereka mau ikutan kegiatan apa gitu deh di luar negeri. Walaupun gak tau entah siapa, tapi kalau mewakili Indonesia tetap dapat restu deh....gudluck yaw.
Akhirnya tibalah waktunya masuk ke dalam teater. Aku sangat bersemangat. Mungkin mukaku sama cerianya seperti anak-anak kecil yang ikutan masuk juga. Kami memilih tempat duduk di tengah teater, kakinya bisa selonjoran. Kursi teater itu berwarna merah. Bagus dan empuk. Gak kalah ama 21 deh. Karena kagumnya, aku jadi berniat mau foto-foto pake kamera poketku. Sayangnya (atau untungnya) kameraku itu lowbat. Memotret pakai blitz ternyata tidak diperkenankan, lagian kan mengganggu orang. Tapi...tak lama kemudian, tak jauh dari situ, sekelompok cewe malah asyik foto-foto pake kamera gede, pake blitz tentunya, di dalam kan gelap. Wah mengganggu banget deh....Cewe yang bawa kamera itu mukanya rada mirip perempuan mantan pacarnya mantan pacarku (ribet amat). Berwajah agak ndeso, berkulit gelap dan sepertinya suka memotret. Perempuan gak cantik ini juga jadi model di beberapa foto bangunan tua yang malah terlihat seperti (maaf) kuntilanak. Perempuan ini juga kurang bisa menempatkan diri, sok kenal, dan sok tau suka menggurui. Padahal kenal aja nggak dan ternyata dia juga gak lebih baik dari aku. Dan sialnya, mantan pacarku itu selalu membela perempuan ini hehehe....front pembela perempuan bermulut embher hehehe...Nah, sosok di planetarium ini juga mengingatkan aku akan hal itu. Pake blitz seenaknya kan mengganggu orang. Kurang bisa menempatkan diri deh. Aku sempat ngerasa, apa ini cuma sentimen pribadiku aja kali ya karena teringat pada kenangan tidak menyenangkan. Tapi kayanya gak juga deh. Gak lama kemudian ada pengumuman juga kalo tidak diperkenankan untuk menggunakan peralatan yang mengeluarkan cahaya seperti HP apalagi kamera dengan blitz.
Daripada ngomongin orang, ngomongi kejelekannya pula, mending  ngomongin hal yang lain deh...misalnya gedung ini.
Gedung planetarium berkubah berbentuk setengah bulat. Setengah bulatan itu yang menjadi ‘layar’ untuk film yang kami tonton. Gedung ini sepertinya belum lama direnovasi. Waktu terakhir ke sana, gedung ini terlihal lebih ‘jadul’, sekarang sudah modern banget. Ac di dalam teater dingin sekali. Kubah setengah bulatan itu terdiri dar beberpaa panel yang disambung. Panel paling atas berbentuk lingkaran, kemudian melebar di bagian bawah sampai berbentuk bulat. Tempat duduk kami menghadap ke selatan, dengan petunjuk berupa huruf ‘S’ di atas pintu. Arah selatan adalah arah yang paling gampang dibaca pada pelajaran peta buta, atau dalam peta manapun. Singkatannya sama aja dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris, S. Pintu timur di samping kanan kami.
Setelah kami semua duduk, langit menjadi gelap dan bintang-bintang bermunculan. Walaupun hanya penampakan, bintang-bintang itu membuat aku sangat tersentuh. Selama di Jakarta ini rasanya gak pernah liat bintang sebanyak itu, padahal katanya bintang seperti itu adalah posisi tepat di atas langit Jakarta. Mas yang membawakan acara bilang kalo di Jakarta sudah kebanyakan polusi, polusi udara dan cahaya yang membuat bintang nun jauh di sana makin pudar cahayanya.Terakhir aku melihat bintang-bintang bertaburan banyak sekali pas pulang ke Palangkaraya bulan lalu. Waktu  itu aku baru pulang dari kaka pembuat kecapi di rumahnya yang berjalan gelap itu. Waktu melihat ke langit....wooowwww.....keren banget. Jadi teringat waktu kecil dulu.
Waktu kecil dulu, di Palangkaraya, aku dan kakakku Heru sering keluar di malam hari dan berbaring di meja pingpong. Kami sama-sama melihat langit. Entah apa yang menjadi awal kami sering berbuat macam itu. Waktu liburan ke Jakarta, kami ada membeli peta rasi bintang di langit. Peta itulah yang ikut menemani petualangan kami. Kami sering mencocokkan dengan yang kami lihat. Kalau ketemu yang cocok, wah rasanya senang sekali. Yang aku ingat paling gampang nemuinnya, 3 bintang berderet itu loh. Kalo gak salah namanya waluku ato orion. Ntar cari tau lagi deh.
Minat akan astronomi makin terpendam dengan bertambahnya umur. Apalagi aku pindah ke Jakarta waktu SMA. Makin gak ada penyaluran, aku juga gak mencari tau lagi. Selama tinggal di kota ini, aku baru 3 kali ke planetarium. Pertama waktu kecil dulu. Kedua sudah agak gede sama adikku. Ketiga ya hari ini. Ynag paling niat yang hari ini. Dulu sama teman-teman kuliah juga pernah mau ke planetarium tapi gak jadi terus sampai akhirnya kami lulus dan jarang ketemu lagi.
Minat itu sepertinya agak tersalurkan dengan kesukaanku nonton film tentang luar angkasa. Walau banyak yang gak suka di rumah dan sering diganti oleh orang lain yang menguasai remote TV. Aku suka nonton Startrek & Starwars. Kalo Startrek, karena film seri, aku sering kalah set dengan yang lain. Kalo Starwars, aku bisa nonton sendiri pake VCD ato DVD. Aku malah punya VCD Starwars 3, 4, 5. Waktu itu sepertinya belum jaman DVD. Gak seperti para perempuan pada umumnya, aku gak cuman tertarik dengan petualangan Putri Amidala dan brondong gantengnya, anakin. Aku suka imajinasi tentang negeri dan makhluk lain di luar bumi. Hebat sekali. Juga dengan para ksatria Jedinya. Salut untuk Om George Lucas.
Kembali ke planetarium. Tayangan berlanjut tentang galaksi dan planet. Dari dulu aku selalu hapal nama ke-9 planet di tatat surya kita. Baru-baru ini aja si Pluto dipecat dari keluarga, jadi planet kerdil. Entah apakah dia punya teman ato nggak. Kebayang gak sih, tinggal di planet lain yang bulannya gak cuman 1. Misalnya Jupiter yang punya 63 bulan. Apakah langit malamnya terang benderang atau malah buram karena udara berkabut terus? Makin dipikir makin penasaran deh yang kaya gitu. Itu baru 1 planet. Kayanya semua planet beda-beda. Terus di semesta ini banyak sekali tata surya seperti matahari dan planet-planetnya. Jadi berasa makin kecil karena taunya cuman sebatas gini.
Yang seru, waktu ceritanya kami semua jadi astronot, naik ke pesawat luar angkasa dan terbang ke angkasa. Layar setengah bulat bergerak seakan kamilah yang bergerak. Anak-anak kecil pada bertepuk tangan senang, aku juga sih hehehe.....senang sekali rasanya. Dan tibalah kami di luar angkasa. Kami melihat tata surya dari sudut pandang yang lain. Diceritakanlah tentang matahari danplanet-planetnya itu. Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto. Diceritakan juga tentang komet. Menarik deh pokoknya pertunjukannya. Aku suka. Kalo lagi suntuk ke sini aja dah, cocok banget. Keluar dari situ bawaannya senang. Mbak bertampang ndeso yang nenteng kamera gede dan memotret pake blitz itu tak kuasa merampas rasa senangku.
Keluar dari teater, langit masih menumpahkan banyak air hujan alias hujan lebat. Aku langsung pingin mencari kehangatan sebelum melanjutkan perjalanan. Aku mengajak adikku untuk nongkrong di dekat situ. Di TIM banyak juga yang menjual makanan. Dulu sih seingatku jual gerobakan gitu tapi sekarang bangunannya sudah permanen. Terbayang olehku kuah bakso yang panas akan menemani sore itu nyam nyam nyam.....yummy.
Kami melintasi lapangan parkir dengan sebuah payung bertuliskan ‘sahabat anak’. Payung ini adalah payung cadangan di mobilku. Kami berjalan sambil bercerita tentang semut dan keponakan kami Azarel yang lucu. Azarel ternyata punya hobby memencet semut yang lewat. Sadis juga itu anak. Habis memencet semut, mukanya terlihat sangat bahagia hehehe...
Setiba di ‘pulau seberang’ (kami kan bagaikan 2 orang raksasa yang melintasi lautan kalau dilihat dari mata semut), kami langsung berjalan perlahan membaca menu makanan dan minuman dari ujung ke ujung. Akhirnya kami menentukan pilihan juga di sebuah warung yang menjual bakso dan soto. Aku langsung berubah pikiran begitu melihat wedang jahe tertulis di menu. Aku jadinya pesan wedang jahe. Memang yang aku cari dari tadi bukan menyembuhkan lapar, tapi cari kehangatan. Yiyi pesan soto dan wedang jahe. Wedang jahenya unik, pake jahe beneran yang dikeprek, ditaro dalam gelas trus dikasih gula merah.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Kwitang. Aku ada rapat ngurusin acara lingkungan 1. Yiyi sebenarnya gak ikutan, tapi kalo nganterin dia pulang dulu  bakal telat nyampe gereja. Mau disuruh pulang sendiri kasian juga. Pasti jalanan macet. Naik bis basah, naik taksi bakal mahal. Banyakan ngebayar ‘parkir’nya aja.
Setiba di gereja, teman yang lain belum pada datang. Kami ke toko buku dekat situ dulu, BPK Gunung Mulia. Toko ini lagi ada promo diskon cukup besar. Yang didiskon hampir semua barang. Aku sih numpang baca aja, udah kebanyakan beli buku, belum pada kebaca. Buku yang didapat dari promo gramedia aja belum semuanya aku baca. Belum lagi buku pinjeman perpus. Lagian mesti ngirit juga, masih ada keperluan yang lebih penting dari ini. Akhirnya aku beli juga sih, beli majalah, signagenya Rp 5000. Pas nyampe kasir harganya cuman 3000 hehehe....
Rapatnya gak terlau lama. Aku sudah kirim laporan sebelumnya ke Pak Ketua. Kali ini aku jadi koordinator seksi acara. Yang dibahas sudah tinggal dikit, karena mau bahas lagi harus menunggu hasil survey. Surveynya hari sabtu ntar. Ngumpulnya di rumahku pagi-pagi.

Popular Posts

Isi blog ini