Ana

Selasa, 21 April 2020

Penyemprotan Nyamuk DBD Saat Pandemi Covid-19


            Merebaknya Covid-19 di awal tahun 2020 ini membuat banyak orang wasapada tentang kebersihan. Namun, ada yang seakan terlupakan. Pada saat yang sama, di beberapa tempat di negara ini juga ada yang terkena demam berdarah.
            Penyakit demam berdarah ini dapat dikatakan datang musiman, biasanya pada saat pergantian musim seperti sekarang ini. Penyakit yang dibawa oleh nyamuk ini biasanya mewabah di suatu daerah. Langkah pencegahannya dengan membersihkan sarang nyamuk di daerah tersebut. Selain membersihkan, ada pula penyemprotan zat pencegah berkembang biaknya nyamuk.
            Berita tentang penyakit demam berdarah di tahun 2020 ini agak tertutup oleh kehebohan Covid-19 yang dampaknya sangat besar bagi dunia. Tindakan pencegahannya pun hampir tidak ada. Saya pernah teringat beberapa waktu yang lalu saat membaca berita demam berdarah. Akan tetapi saya tidak melakukan sesuatu lebih dari itu.

            Saya harus bersyukur tinggal di perumahan yang pengurus RT dan RW-nya peduli. Tanpa diminta mereka sudah mengadakan penyemprotan untuk membasmi nyamuk dan jentik-jentiknya ini. Kalau diingat-ingat, saya hampir tidak pernah menyaksikan penyemprotan nyamuk karena biasanya dilakukan saat saya bekerja. Baru saat bekerja di rumah inilah saya dapat melihatnya secara langsung. {ST}

Senin, 20 April 2020

Vitamin C Dalam Kemasan yang Langka Saat Pandemi COVID-19


            Vitamin C bermanfaat untuk memperkuat daya tahan tubuh. Vitamin yang tidak diproduksi oleh tubuh ini harus didapat dari asupan makanan seperti buah-buahan dan sayuran. Apabila kekurangan vitamin C, tubuh akan menjadi lebih lemah dan lebih mudah terserang penyakit.
            Vitamin C dalam kemasan menjadi alternatif solusi apabila bahan makanan yang kita makan kurang kandungan vitaminnya. Ini juga yang sering saya lakukan. Saya selalu memiliki vitamin C dalam kemasan. Vitamin ini pun saya pilih yang khusus, yang aman untuk lambung.
            Saat merebaknya COVID-19, tampaknya semua orang mengambil langkah yang sama. Vitamin C dalam kemasan langsung banyak peminatnya. Toko-toko kehabisan stok. Kalaupun ada, mereka menjual dengan harga yang lebih mahal daripada biasanya. O ya, terkait hal ini ada toko online yang mengeluarkan sanksi kepada pedagang yang menaikkan harga berlebihan. Saya sangat mengapresisi langkah ini.

            Suatu hari, saya pernah mencari vitamin di sekitar rumah saya. Saya mencarinya di supermarket dan apotek yang memang ada banyak jumlahnya di sekitar rumah. Rasanya saya mendatangi 8 toko dan apotek. Hasilnya sama saja, vitamin C yang saya cari tidak ada. Saya akhirnya memilih membeli vitamin C yang harganya 5 kali lipat lebih mahal dibandingkan yang biasa saya beli. {ST}

Masker dan Kacamata yang Berembun


            Pada bulan Maret 2020 ini dunia sedang dilanda pandemi Covid-19. Saya tidak terlalu suka menggunakan masker. Selain menganggu pergerakan mulut, masker juga membuat kacamata saya berembun. Saya masih terus berjuang mencari trik supaya dapat menggunakan masker dengan lebih nyaman.

            Ada kalanya saya lebih memilih untuk membuka kacamata saya supaya lebih nyaman mengenakan masker. Pernah pula saya memilih untuk melepaskan maskernya karena ingin melihat menggunakan kacamata. Saat penggunaan masker belum direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan, saya lebih memilih untuk tidak menggunakan masker. {ST}

Jumat, 17 April 2020

Menginap di Rumah Tongkonan





            Menginjak Tana Toraja merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Saya memang sudah lama ingin ke Tana Toraja dan melihat budayanya yang unik. Salah satu yang membuat saya kagum adalah rumah tongkonannya yang indah.

            Pada kunjungan kali ini, saya mendapat kesempatan berkunjung ke Lembang Lea. Lembang di Toraja artinya desa. Lembang Lea artinya Desa Lea. Desa kecil yang terletak di pegunungan ini letaknya tak jauh dari Kota Makale, ibu kota Kabupaten Tana Toraja

            Kunjungan ke Lembang Lea itu artinya juga berkunjung ke rumah tongkonan. Saya bahkan mendapat kesempatan untuk menginap di dalam rumah tongkonan. Senang sekali rasanya.


            Setiap rumah tongkonan memiliki pakem yang sama. Rumah panggung berbahan kayu itu terdiri dari 3 ruangan, yaitu bagian depan, tengah, dan belakang. Semua rumah tongkonan menghadap ke utara. Di bagian depannya ada lumbung untuk menyimpan hasil panen dan bahan makanan. Bagian luar rumah itu dihiasi dengan ukiran khas Toraja.

Beberapa tongkonan di bagian depannya dihiasi dengan tanduk kerbau. Tanduk kerbau ini adalah tanda bahwa penghuni tongkonan itu pernah mengadakan upacara kematian di mana kerbau itu dijadikan korbannya.

Tongkonan tempat saya menginap itu terletak di pegunungan berhawa sejuk. Saya menduga malamnya akan dingin sekali. Saya sudah menyediakan perlengkapan penghangat tubuh seperti jaket, syal, kaos kaki, dan juga kain-kain yang rencananya saya gunakan sebagai cadangan selimut.
Bagian dalam rumah tongkonan

“Bermalam di rumah tongkonan itu hangat,” kata seorang penghuni tongkonan.

Saya tidak percaya mendengarnya. Tentu saja dia merasa hangat karena dia sudah terbiasa tinggal di situ. Bagi saya belum tentu. Ketidakpercayaan saya bertambah karena siang hari di tempat itu sudah terasa sejuk, apalagi saat malam.

Saya pun kemudian pergi tidur dengan perlengkapan “musim dingin”. Hanya beberapa menit setelah merebahkan badan di kamar tengah tongkonan, saya merasa gelisah. Saya gelisah karena kegerahan. Tak lama kemudian, perlengkapan “musim dingin” saya sudah teronggok di ujung tempat tidur. Saya hanya mengenakan pakaian tidur yang biasa saya kenakan. Ternyata melewatkan malam di dalam tongkonan tidak sedingin yang saya kira.

Esoknya, saya terbangun dengan segar. Tidak demikian dengan teman-teman saya yang bermalam di rumah beratap seng. Mereka kedinginan dan tidak bisa tidur semalaman. Apalagi ditambah dengan kucing-kucing yang berjalan-jalan di atas atap.

Menurut orang-orang Toraja yang tinggal di situ, bagian dalam tongkonan memang hangat di saat malam, dan adem di saat siang. Itu karena terbuat dari bahan kayu. Rumah beratap bambu bahkan lebih adem lagi di siang hari. Itu membuat tongkonan menjadi lebih berharga dibandingkan dengan rumah biasa. {ST}


Baca juga:



Popular Posts

Isi blog ini